: Pembacaan Remeh-temeh tentang ketjilbergerak

 

Percayalah, awalnya saya hendak membuat tulisan ini dengan serius. Dengan bantuan beberapa kali sesi wawancara, bisalah ya saya memaparkan apa itu ketjilbergerak, sejarahnya, visi misinya, dan sebagainya dalam sebuah tulisan. Tapi sebab saya ini sulit serius kecuali dalam hal menye-menye, saya urungkan kehendak itu. Saya lalu memilih membuat pembacaan remeh-temeh atas ketjilbergerak. Pembacaan remeh-temeh ini akan berupa upaya (menyambung-)menyambungkan nama ketjilbergerak dengan ketjilbergerak dalam pandangan saya. Sebelumnya, kepada yang berharap pembacaan serius, tanpa mengurangi rasa hormat, saya perbolehkan berhenti membaca sampai di sini.

***

Pertama, saya akan membahas kata ‘ketjil’ di ketjilbergerak. Saya punya beberapa pembacaan atas kata itu. Pertama, ‘ketjil’ bisa mewakili penghargaan ketjilbergerak pada hal-hal kecil, pada hal-hal yang mungkin luput dari perhatian (apalagi apresiasi!) orang-orang dalam keseharian. Penghargaan ketjilbergerak itulah yang kemudian menurut saya bisa membuahkan program macam ‘Kelas Melamun’ (sekedar menyebutkan sebuah contoh). ‘Kelas Melamun’ adalah kelas bulanan di mana siapapun (khususnya anak muda) bisa berbincang mengenai berbagai topik terkait seni dan budaya. Yang menarik, ketjilbergerak tidak menamakannya ‘Kelas Diskusi’, misalnya. Bagi saya, alasan ketjilbergerak memilih nama ‘Kelas Melamun’ lebih dari sekedar ingin terlihat beda (sebab diskusi sudah terlalu biasa, apalagi untuk konteks Yogya). Di Kamus Besar Bahasa Indonesia, ada dua definisi melamun. Pertama, termenung sambil pikiran melayang kemana-mana. Kedua, menumpukkan (melonggokkan) dengan tidak beraturan. Bisa jadi, saat menamai ‘Kelas Melamun’, ketjilbergerak mempertimbangkan definisi kedua. ‘Kelas Melamun’ mungkin diniatkan sebagai kelas di mana pesertanya bisa menumpuk berbagai pengetahuan. Pengetahuan itu bisa disusun jadi lebih teratur setelah ‘Kelas Melamun’. Tapi, definisi pertama sepertinya lebih dekat dengan keseharian kita. Itulah sebabnya melamun sering dipandang sebagai sesuatu yang sepele, yang tidak penting dilakukan. Adanya pernyataan “Ojo ngelamun wae! (Jangan melamun saja!)” bisalah dijadikan buktinya. Maka, ‘Kelas Melamun’ dapat pula dibaca sebagai cara ketjilbergerak menghargai melamun. Cara ketjilbergerak menghormati hal-hal yang kecil, yang tampak sepele. Cara ketjilbergerak untuk berpesan, “Sesuatu bisa dimulai dengan (menghargai) hal-hal yang kecil.”

Saya juga membaca bahwa ‘ketjil’ itu mewakili ketjilbergerak yang layaknya anak kecil. Alasannya, ketjilbergerak, meminjam slogan majalah anak, bisa jadi teman bermain dan belajar bagi siapa saja. Sekali lagi, saya menggunakan program-program ketjilbergerak sebagai titik tolak pembacaan saya. ketjilbergerak tidak hanya menyelenggarakan pameran seni rupa, misalnya, tapi juga membuat workshop pembuatan film, Kelas Melamun, workshop sablon, beragam program berbasis kesenian di desa-desa, dan sebagainya. Berinteraksi dengan ketjilbergerak serupa berinteraksi dengan anak kecil. Dia bisa mengajarimu tentang banyak hal dan tidak malu untuk belajar darimu. Proses belajar bersama itu terjadi sambil kalian tetap bisa tertawa gembira. Pun, selayaknya anak kecil, dia akan senang-senang saja jadi teman belajar dan bermain bagi siapa pun kamu. Entah kamu adalah remaja galau yang baru putus dari pacar pertama, pemuda yang sibuk mikirin Karang Taruna di kampungmu, anak-anak trendi pecinta BMX, anak band (apapun aliran musik yang kau mainkan!), mahasiswa kuliahpulang-kuliahpulang, aktivis, seniman dan sebagainya dan sebagainya.

Satu hal lagi yang menarik soal kata ‘ketjil’ adalah digunakannya ejaan lama di sana. Beberapa kawan saya punya pendapat yang sama tentang penggunaan ejaan lama. Bagi mereka, itu centil. Saya tidak gitu-gitu amat dalam memandang penggunaan ejaan lama. Toh ejaan lama yang sekali-sekali digunakan ada manfaatnya juga. Misalnya, ia bisa membuat kita terhindar dari amnesia sejarah (yang butuh penjelasan lebih lanjut bisa ke http://lidahibu.com/2012/04/06/eyd-dan-amnesia-nasional/). ketjilbergerak sangat mungkin punya maksud seperti itu saat menggunakan ejaan lama dalam namanya. ‘ketjil’ bisa juga dibaca sebagai ajakan agar teman-teman ketjilbergerak mau belajar dari yang lampau sebab ejaan lama di sana mewakili yang lampau itu. Buat saya, hal ini penting mengingat teman-teman ketjilbergerak kebanyakan adalah generasi yang hidup berpuluh tahun kemudian setelah penggunaan ejaan lama.

***

Sekarang, mari pindah ke pembacaan atas ‘bergerak’. Saya memilih untuk memulai pembacaan ini dengan cerita bahwa belakangan saya beberapa kali bermain ke rumah ketjilbergerak yang baru di kawasan timur Yogya. Saya dengar, itu adalah rumah keenam ketjilbergerak. Selama 6 kali pindahan itu ketjilbergerak telah menetap di Utara, Barat, dan Selatan Yogya. Siapapun yang punya perhatian pada kesenian di Yogya pastilah paham bahwa di sini mata angin menemukan fungsi yang lain selain sebagai penunjuk arah. Mata angin, spesifiknya utara dan selatan, menemukan konteksnya sebagai kategori pemisah antara akademisi (utara) dan seniman (selatan). Mengingat ketjilbergerak sering belajar dan bermain di dua ranah itu (akademis dan seni) pilihan ketjilbergerak untuk (pernah) tinggal di empat penjuru utama mata angin adalah pilihan yang menarik. Menarik sebab ia menunjukkan bahwa ketjilbergerak sungguh menunaikan ‘bergerak’ yang ada di namanya. ‘Bergerak’ dalam hal ini menemukan artinya sebagai upaya menerobos sekat-sekat pemisah di antara seniman dan intelektual di Yogya yang sering diwakilkan oleh mata angin. Pun bisa juga dibaca sebagai terobosan ketjilbergerak untuk tidak hanya bermain dan belajar di dua ranah yang diwakilkan oleh arah utara dan selatan Yogya itu.

Berikutnya, ‘bergerak’ dapat pula dibaca sebagai wakil dari ketidakinginan ketjilbergerak untuk berhenti pada kata-kata. Ketidakinginan itu bisa dilihat saat ketjilbergerak mengadakan ‘Jogja Eklektik’ (sekali lagi, sekedar menyebutkan salah satu program ketjilbergerak). ‘Jogja Eklektik’ sendiri merupakan hasil pembacaan atas ‘Benih Bunyi’. ‘Benih Bunyi’ adalah penelitian ketjilbergerak tentang aspirasi anak muda. Di ‘Benih Bunyi’, ketjilbergerak berhasil mengumpulkan aspirasi dari 180 anak muda. Dari sanalah diketahui bahwa banyak anak muda yang menginginkan ruang bersama, dimana mereka bisa berbagi ide, berbagi keterampilan dan mengembangkan diri. ‘Jogja Eklektik’ lalu diwujudkan sebagai ruang bersama itu. Dalam pelaksanaannya, ‘Jogja Eklektik’ mengundang siapa saja untuk turut serta dalam tiga acara utama: workshop, musik, dan pasar sehat. Bagi orang seperti saya, yang merupakan bagian dari yang sering berhenti di kata-kata, melihat ketjilbergerak yang mau melampaui kata, adalah sesuatu yang menginspirasi sekaligus membuat saya malu sendiri.

***

Saya tidak tahu bagaimana harus mengakhiri tulisan ini selain dengan bilang ketjilbergerak mengajarkan, “Untuk bergerak (baca: menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi sekitar) kadang kita hanya butuh kemauan dan kita bisa mulai bergerak lewat hal-hal yang kecil.” Saya tahu ini adalah akhir yang klise. Seklise kisah dua anak manusia yang secara tidak sengaja bertabrakan di satu waktu tapi lalu saling cinta dalam sinetron-sinetron. Saking klisenya, kamu mungkin akan bilang “Dih, klise banget!” lalu melupakan pesan-yang-klise ini. Tapi, mungkin, kemudian kamu juga memilih untuk tidak melakukan apa-apa. Dan, percayalah, pilihan yang terakhir itu tidak keren sama sekali!

 

Sita Magfira