Yujin Sick | Mind Map | water color on paper | 2013
Yang terburuk dari mimpi adalah saat terbangun dan menghadapi kenyataan.

 

VIA REGIA menampilkan karya empat orang seniman muda, yaitu Yujin Sick, Faiz “The Robomonzta”, Yoga Mahardika dan RHMIB. 

Untuk memahami proses berkarya mereka dari konteks awal tentang mimpi, bisa jadi mengarah pada dua hal. Pertama, mimpi sebagai impian, yaitu harapan atau cita-cita di angan-angan yang dijadikan sebagai tujuan hidup. Kedua, mimpi itu sendiri, yang menurut Ibnu Arabi, seorang sufi, mimpi adalah bagian dari imajinasi, tempat penampakan wujud-wujud spiritual yang memperoleh bentuk dan figur, karena di sana konsep-konsep murni (ma`ani) dan data indera bertemu dan memekar menjadi figur-figur personal. Dan pada kenyataannya, kecakapan imajinasi dalam diri seseorang selalu aktif baik saat terjaga ataupun tidur, namun seringkali disimpangkan oleh kesan-kesan indera saat melakukan pekerjaannya secara wajar. 

Sedangkan menurutSigmund Freud, mimpi adalah via regiaatau jalan utama yang mengantarkan kita pada ketidaksadaran. Ia layaknya jembatan atau pintu ke dimensi lain yang menyimpan banyak misteri. Baginya, mimpi adalah ekspresi yang terdistorsi atauyang sebenarnya berasal dari keinginan-keinginan terlarang yang diungkapkan dalam keadaan terjaga.
Singkatnya, ada suatu proses yang sama-sama dipengaruhi oleh pemikiran bawah sadar yang terekam sampai saat ini, bisa dari pengalaman bermimpi di masa lalu atau impian menuju masa depan. Jika mimpi dalam makna kedua dianggap lebih sederhana —karena berangkat dari pengalaman surealistik dalam kondisi tak sadar— maka mimpi sebagai harapanterkesan lebih mendalam karena merupakan manifestasi dari kenangan masa lalu, cita-cita atauhobi masa kecil yang membentuk pribadi seseorang sebagai siapa dirinya saat ini. Ia, mimpi itu, secara tak sadar telah mempengaruhi pola pemikiran dan kecenderungan dalam memilih sesuatu dalam perjalanan mencapai tujuan hidupnya. 

RHMIB | Bahagia Masuk Surga | pen on paper | 2013

Dalam obrolan saya dengan Sudjud Dartanto, ia banyak bercerita tentang betapa menarik dan pentingnya topik ini. Bagaimana mimpi dapat mengubah kondisi masyarakat ketika kehidupan nyata tak pernah berbanding lurus dengan impian. Banyaknya gesekan pada tiap fase kehidupan karena hadirnya kekecewaan dan penolakan, akhirnya mengarah pada kebutuhan untuk mati, yang dilihat sebagai sebuah jalan keluar. Atau opsi lain, yaitu menjadi gila karena depresi berkepanjangan.

 

Mimpi juga merupakan manifestasi dari keinginan atau harapan akan kehidupan yang lebih baik daripada kenyataan. Saat kenyataan tak seindah yang diharapkan, saat itulah mimpi menjadi penting. Ia merupakan jalan bebas hambatan yang memberi ruang imajinasi bagi seseorang untuk tetap tumbuh dan berkembang sehingga konflik dengan dunia nyata akan lebih mudah diatasi. Ketika kondisi luar mengalami kekacauan, seseorang mendambakan suatu ruang untuk berimajinasi secara intim, dan salah satu caranya adalah melalui seni, sebab ruang ini merupakan wilayah privat yang bebas, tempat menaruh harapan dan keinginan kita. 

Yoga Mahardika | Holy Forest | pen on paper | 2013

Pada situasi tersebut, bisa dibilang Yoga dan RHMIB secara jelas mengalaminya. Persamaan antara mereka berdua adalah sama-sama mengembangkan ruang imajinasinya melalui cara autodidak dengan memperluas pergaulan. Dalam karya ilustrasinya, RHMIB menampilkan tokoh-tokoh politik yang telah dideformasi dan dikemas melalui humor segar. Ia cenderung mengusung mimpi massa yang menginginkan kehidupan lebih baik, lepas dari penyelewengan kekuasaan dan carut marut politik di negeri ini. Sedangkan Yoga lebih banyak menampilkan visual bentuk berupa kerangka yang dihiasi ornamen tumbuhan atau hewan. Kali ini, ia bermain-main dalam wilayah hitam putih yang sarat dengan simbol-simbol tertentu yang cukup memberi kesan dramatis.

 

Poin yang menarik dan sekaligus bisa menjadi kesimpulan adalah ketika tema mimpi ini dijadikan konsep penghubung antara keempat seniman muda ini. Mereka yang sama-sama belum saling mengenalini ‘mendadak’ dipertemukan untuk berbincang dan mengakui bagian terdalam dari hidup mereka, yaitu mimpi mereka, maka seketika itu juga terjadi sebuah perjalanan rekam jejak kembali ke masa kanak-kanak. Bagaimana proses berkesenian mereka kemudian banyak dipengaruhi oleh cita-cita masa kecil, hobi dan segala hal yang dilihat dan digemari. 

Faiz Robomonzta | Sengaja Merusak Mimpi | fiberglass | 2013

Seperti karya-karya Yujin yang selalu melukiskan tokoh anak-anak yang menurutnya mewakili individu yang tangguh karena berani memimpikan hal yang besar, tanpa khawatir dengan lingkungannya yang mungkin akan menolaknya di kemudian hari. Ia mencoba menceritakan mimpi di masa kanak-kanak yang ternyata lebih dominan dalam membangun jati diri seseorang. Atau Faiz, yang cenderung lebih banyak bercerita tentang dunia imajinasidalam mimpinya. Baginya, rekreasi paling seru adalah dengan bermimpi karena ia bisa bebas melayang-layang dalamruang fantasinya,membawa bentuk-bentukfiksional ke alam nyata,seperti karya patungnya yang berbentuk mesin-mesinyang dideformasi menjadi bentuk baru. Hal ini semata-mata dilakukan untuk meredam sifat-sifat mesin yang membawa citra destruktif, keras dan mengerikan untuk dihadirkan kembali dengan bentuk baru yang lucu dan menggemaskan. Kedua seniman tersebut secara nyata terinspirasi oleh memori dan hobi di masa kecil mereka dahulu.

 

Melalui pameran ini, setidaknya kita bisa mencari tahu apakah masih penting untuk bermimpi di hari ini? Mengapa mimpi lagi-lagi dilontarkan saat kenyataan menolak untuk menerimanya?  Apakah ia sekedar untuk mengisi lamunan atau hanya peredam atas utopia yang tak kunjung ada? 

Saya harap, tulisan ini dapat membuka kenangan kita untuk mulai mengingat kembali mimpi-mimpiterdahulu kita. Bukan hanya untuk dikejar sebagai cita-cita, tetapi juga sebagaisebuah jalan pembebasan dari ironi kehidupan. 

Agni Saraswati
Kurator Pameran