URBAN SINOM adalah sebuah program ketjilbergerak bersama muda mudi kampung Bumen dalam rangka Festival Kesenian Yogyakarta 2012.
 
Program ini menceritakan tentang generasi muda urban, yang berasal dari beberapa universitas dan sekolah menengah atas di kota Yogyakarta, yang bersama-sama mencoba belajar kembali tentang semangat sinoman, semangat membantu, semangat saling mengerti, semangat rela menyisihkan waktu untuk ruang kebersamaan, baik demi tujuan bersama maupun individual, semangat membaur juga semangat pergaulan yang lebih luas.
 
URBAN SINOM bisa juga berarti sebuah laku tirakat, sebuah laku ikhlas, sebuah metode pembentukan mental generasi muda melalui laku konkret, memasyarakat dan estetis. 

URBAN SINOM meskipun dalam skala kecil telah berusaha menyentuh masalah regenerasi nilai, masalah solusi konkret ekonomi, sejarah dan tentu saja pendidikan mental anak-anak Bumen maupun semua yang terlibat.           

URBAN SINOM dilaksanakan di Kampung Bumen, Kotagede, Yogyakarta bekerjasama dengan Muda Mudi Bumen (MMB) yang aktif dalam kegiatan kampung dan nguri-uri kabudayan Jawa. Kampung Bumen memiliki banyak potensi seni tradisi, seperti Srandhul (pertunjukan ketoprak-tari 3 babak), Sholawatan, Karawitan, Roti Kembang Waru (kuliner tradisional khas), kerajinan perak dan logam serta usaha kerajinan tangan. 

URBAN SINOM terdiri atas 4 kegiatan, yaitu:
(1) Lomba menghias Roti Kembang Waru untuk anak-anak agar mereka mengenal kuliner khas kampung dengan cara yang asyik dan regenerasi pengetahuan mengingat pembuat Roti Kembang Waru sekarang hanya bisa dihitung dengan jari,
(2) Workshop kreatif kain perca untuk ibu-ibu dan remaja dengan memanfaatkan limbah kain perca karena banyak ibu-ibu yang menjadi buruh konveksi,
(3) Workshop melukis wajan dari blekuntuk anak-anak sebagai pengingat akan sejarah kampung Bumen yang pernah mengalami kejayaan menjadi sentra pengusaha blekdi Kotagede pada tahun 1950-1960an, dan
(4) Mural bersama teman-teman MMB di lorong gang kampung dengan mengangkat tema Srandul, kesenian tradisional khas Bumen.
KAMPUNG BUMEN
oleh Hapsoro Noor Adianto (Ketua Muda Mudi Bumen Kotagede)
Kampung Bumen berada sekitar 500 meter di timur laut Pasar Kotagede. Nama Bumen berasal dari kata Mangkubumen” yang artinya tempat kediaman Mangkubumi, seorang pangeran yang masih saudara dengan Panembahan Senopati. Kampung ini dikenal dan dipercaya masyarakat sebagai tempat kediaman Pangeran Mangkubumi. Akan tetapi, masyarakat kemudian lebih suka menyederhanakan penyebutannya menjadi Bumen saja. 

Di masa lalu (sekitar tahun 1960-an), Kampung Bumen dikenal sebagai sentra industri barang-barang perkakas dapur yang terbuat dari blek atau kaleng. Blek tersebut berasal dari kaleng bekas mentega dan kaleng minyak lainnya, termasuk besi janur bekas tali penguat tong-tong kontainer. Industri rumah tangga dari blek itu menghasilkan perkakas berupa ceret, kompor, alat penggiling (pemindah minyak dengan cara dipompa), lentera api, senthirminyak, torong, serok sampah, talang air, tempat makan ayam, dan sebagainya. Aktivitas yang luar biasa dari perajin blek di kampung ini menghasilkan limbah guntingan blek yang membukit. 

Ketika masih mengalami masa kejayaan, mereka membentuk koperasi yang bernama Koperasi Pengusaha Blek Kotagede (KPBK) yang bekerja di pengadaan barang bekas dan pemasaran bersama. Sektor ekonomi mikro ini cukup tangguh, mapan dan maju. Semacam ada korelasi, ketika ekonomi dasar masyarakat maju, olah kesenian juga maju. Sehingga ketika ada waktu luang, di malam hari dipergunakan oleh sebagian masyarakat Bumen untuk mengekspresikan diri secara komunal di bidang aktivitas kesenian. Di Kampung Bumen, berbagai kelompok kesenian sangat maju, seperti ketoprak, karawitan, macapat, Srandul, dan sholawatan. Kesenian-kesenian tersebut sampai sekarang masih bertahan.  

Masyarakat Bumen sangat guyub, rukun, gotong royong antar warga masih terjalin dengan baik yang pada dasarnya semua permasalahan yang ada di kampung dirembug dan dimusyawarahkan dengan baik. Warga kampung Bumen juga ramah dan bersahabat sehingga orang yang datang ke Bumen pasti ingin datang lagi bahkan sampai ingin tinggal di Bumen. 

Kampung Bumen juga mempunyai beberapa kelompok organisasi kemasyarakatan seperti kelompok Sholawatan Putra/Putri,  MMB (Muda Mudi Bumen), dll. MMB diisi oleh para pemuda dikampung Bumen. Seperti organisasi lainnya, MMB juga mempunyai struktur kepengurusan dan program kerja. MMB juga turut serta dalam semua kegiatan kemasyarakatan di kampung seperti Sinoman ketika ada acara pernikahan, gotong royong, dll. Kampung Bumen juga mempunyai kesenian khas yaitu Srandul yang para pemainnya adalah para pemuda-pemudi dikampung Bumen. Kegiatan lain yang dilakukan oleh MMB diantaranya adalah seni Karawitan, Sholawatan, dan Srandul. 

Beberapa waktu yang lalu MMB bekerjasama dengan ketjilbergerak mengadakan kegiatan untuk anak-anak dan remajaseperti workshop kain perca dan menghias Roti Kembang Waru yang dilaksanakan tanggal 10 Juni 2012, workshop melukis wajan pada tanggal 17 Juni 2012 laludan mural bersama selama 3 malam. Kegiatan ini sangat bagus dan menarik karena disini kita bisa berinteraksi dan menambah wawasan dengan bertemu banyak orang. 

Terimakasih temanteman ketjilbergerak sudah mau ke Bumen dan mengadakan kegiatan bersama :)
Hasil karya adik-adik Kampung Bumen
Pendapa Kampung Bumen
Menghias Roti Kembang Waru
Workshop Kreatif Kain Perca
Roti Kembang Waru, kuliner khas Kampung Bumen



Muda-mudi Bumen dan tim KB ikut menghias Roti Kembang Waru
Mendengarkan cerita dari kakak-kakak sembari menunggu hasil lomba
Para pemenang lomba menghias Roti Kembang Waru. Selamat ya!
Ibu-ibu ikut Workshop Kreatif Kain Perca juga lho!
3 pemenang berfoto bersama Ketua Muda-Mudi Bumen, Mas Adi
Maem dulu ya Dik!
Ceret yang terbuat dari blek yang akan dihias
Workshop Melukis Blek