Tulisan Pengantar untuk Pameran Tunggal Greg Sindana “Totem dan Reliabilitas” 21-27 Mei 2010, Ruang Budaya Griya Lentera, Yogyakarta

oleh Natan Arya

Totem dan Reliabilitas

-Kenyataan yang Terkonsep-

Salam damai. Ini sederhana saja, ada perasaan bahwa harus menghidupi sendi-sendi hidup, “perasaan harus” menjadi mata yang tak terlihat, tetapi ketat mengawasi, nah mata-mata ini ya pengetahuan-pengetahuan yang menumpuk, melahirkan asumsi-asumsi, ketakutan-ketakutan, dan gambaran-gambaran yang seakan-akan nyata, dan harus di-nyata-kan, menutupi yang jujur, yang nurani sifatnya.

Subjek adalah remah-remah teks, teks yang bermain ini, menjadi serius, terlalu serius, terlalu rumit dan terlalu bohong, maka ini pembawa pesan sederhana dan bicara apa adanya seperti gambar-gambar purba di Gua tengah padang rumput yang segar dan cerah atau di puncak bukit yang sedang hujan, atau di pinggir pantai yang berombak dan angin lembut.

Ketika remah-remah ditumpuk, yang ada adalah kebosanan yang tampaknya ‘peradaban’. Yang malahan jadi kebosanan yang numpuk dengan remah-remah yang dibakukan, jadi teks yang dibakukan lalu diteruskan, terus-menerus, menumpuk, menghimpit generasi berikutnya, menumpuk-numpuk, menghimpit lagi, dan akan lebih menghimpit lagi seterusnya.

Tumpukan ini jadi totem yang adalah pesan, pesan ‘yang jadi’ akan terus menumpuk di pikiran, pikiran jadi penuh totem-totem berhala yang menghimpit, air jadi keruh, dan tak ada lagi mata air yang sederhana, juga genthong-genthong penuh air di depan rumah yang diperuntukkan bagi siapapun.

Berdiri di atas remah-remah teks :

Hasil dari baca terus, dialog, dan kemudian mak cling bahwa pengetahuan, nilai, kekangan sebetulnya adalah ciptaan manusia sendiri, dan berbalik jadi mata yang mengawasi sang penciptanya seakan mengkomandokan – si pencipta dalam tiap gestur yang terarah, dalam komunikasi terarah yang transaksional – semua dalam rangka konstruksi teks, yang bakal numpuk lagi.

Pameran (katakanlah demikian) ini mengajak kembali pada diri(nya) sendiri, mengajak kita melihat kesemena-menaan penamaan, pengkotakan dan kembali.

Bagi sang kreator sendiri, ini adalah zakat, ketika zakat dipahami sebagai peluang, organisatoris, dan business-minded.

Natan.april-mei.2010