ketjilbergerak akan mengadakan acara nonton bareng empat film bertema pluralisme di sepanjang bulan April ini. Acara ini akan rutin digelar setiap hari Sabtu di rumahketjilbergerakDesa Tegalkenongo 36 B Bugisan Selatan, Yogyakarta masing-masing pada tanggal 7, 14, 21, dan 28 April 2012 pukul 16.00 – selesai.

 
Mengapa tema pluralisme yang kami pilih?
Pertama-tama mesti dipahami bahwa dalam pengertiannya yang paling dasar, istilah ini dimaknai sebagai interaksi di mana ada beberapa kelompok yang menunjukkan toleransi dan rasa hormat satu sama lain. Koeksistensi antar kelompok masyarakat (betapapun berbedanya pandangan yang dimiliki oleh masing-masing dari mereka) merupakan kunci utama untuk memahami istilah pluralisme.
 
Di Indonesia, isu-isu seputar pluralisme sudah demikian berkembang lewat wacana media, lewat forum-forum ilmiah, maupun lewat berbagai jenis budaya populer seperti film. Meskipun demikian, beberapa konteks yang terjadi di Indonesia menunjukkan bahwa tidaklah mudah untuk membentuk koeksistensi yang solid antar anggota masyarakat karena ada beberapa keberatan yang mengemuka. Untuk menyebut satu contoh: ada institusi seperti MUI yang mengeluarkan fatwa untuk melarang para penganut agama Islam untuk memeluk maupun meyakininya[1]. Jika istilah meyakini dianggap sebagai tujuan praktis dari pluralisme, maka bisa dipahami bahwa kengototan MUI seakan-akan ingin menunjukkan bahwa pluralisme disinonimkan sebagai agama di mana setiap orang (Islam) yang meyakininya akan dianggap menentang nilai-nilai akidah dan akhlak agama mereka sendiri. Pluralisme, tentu saja, bukanlah agama.  Pluralisme dalam pandangan semacam itu telah mengalami degradasi yang cukup drastis. Di lain tempat, tentu saja pluralisme bukan semata soal perbedaan agama.
 
Berangkat dari perspektif semacam itu, ketjilbergerak ingin mewadahi diskusi tentang wacana pluralisme dengan berangkat dari medium populer seperti film. Diselenggarakannya acara ini tidak berarti kami mendukung pluralisme. Terlalu simplistis jika kami berkata bahwa pluralisme adalah sebuah istilah yang kami dukung penerapannya. Lebih dari itu, agenda pemutaran film sebenarnya ini ingin membahas beberapa kunci penting untuk memahami pluralisme itu sendiri – yang direpresentasikan oleh masing-masing film yang akan ditawarkan, di mana harapan kami ini bisa memantik diskusi lebih lanjut yang lebih kritis.
 
Berikut adalah beberapa sinopsis singkat film-film yang akan kami putar di akhir Minggu sepanjang bulan April:

1. Cin(t)a (2009)[2] – Sabtu, 7 April 2012
Film ini dibesut oleh Sammaria Simanjuntak yang mengisahkan Cina (Sunny Soon), seorang mahasiswa baru 18 tahun beretnis Batak Cina. Cina tumbuh menjadi seorang remaja yang lugu karena tidak pernah mengalami kegagalan, tapi ia yakin bisa mewujudkan impiannya dengan modal tekad yang kuat. Annisa (Saira Jihan), mahasiswi muslimah 24 tahun beretnis Jawa yang kuliahnya terhambat oleh kariernya di industri perfilman. Ketenaran dan kecantikan membuatnya kesepian, sehingga ia bersahabat dengan jari bermuka sedih. Hingga satu hari ketika ada jari lain datang sehingga Annisa tidak lagi kesepian. Tuhan adalah karakter yang paling tidak bisa ditebak. Setiap orang mencoba untuk mendeskripsikan-Nya. Setiap orang merasa mereka mengenal-Nya. Setiap kesenian mencoba untuk menggambarkan-Nya, tapi tidak ada yang benar-benar seperti-Nya. Tuhan mencintai Cina dan Annisa, tapi Cina dan Annisa tidak dapat saling mencintai karena mereka menyebut Tuhan dengan nama yang berbeda.
 
2. Un Prophete (2009) – Sabtu, 14 April 2012
Disutradarai oleh Jacques Audiard, film ini mengisahkan pemuda imigran Arab yang bermukim di Perancis bernama Malik el Djebena (Tahar Rahim) yang memulai hukuman selama 6 tahun dalam penjara Brècourt. Kehidupan di dalam penjara dalam segi sosial, moral dan dimensi politik menjadi warna dalam film ini. Sementara di dalam penjara yang terdiri dari orang-orang Corsica dan Muslim, terjadi kolusi yang melibatkan sipir dan orang-orang Corsica di mana yang disebut terakhir menentukan apa yang terjadi di dalam penjara. Di tengah-tengah situasi yang tidak menyenangkan, El Djebena hanya ingin hidup tenang di dalam penjara, namun keadaan yang tak menentu membuat ia terseret ke dalam arus  konflik yang tidak hanya melibatkan situasi di dalam penjara, tetapi juga di luarnya. Bagaimana Malik el Djebena harus bisa bertahan hidup dalam sebuah rumah besar yang hiruk pikuk ini?

3. Tanda Tanya (?) (2011)[3] – Sabtu, 21 April 2012

Disutradarai Hanung Bramanto, film ini ber-setting pada keluarga yang tinggal di sebuah wilayah di Jawa Tengah. Tan Kat Sun (Henky Solaiman), pemeluk Konghucu/Buddha dan pemilik restoran masakan Cina yang sudah sakit-sakitan, sangat sadar lingkungan, hingga cara masak dan peralatan masak dipisah secara tajam antara yang halal dan haram. Ia bermasalah dengan anaknya, Ping Hen alias Hendra (Rio Dewanto), yang memiliki visi tersendiri dalam bisnis. Soleh (Reza Rahadian), Islam dan pengangguran yang rajin menjalankan ibadah, selalu gundah akan keadaan dirinya, sementara istrinya, Menuk (Revalina S Temat), yang berjilbab bekerja di restoran Tan Kat Sun. Menuk yang praktis menjadi tiang keluarga, tampil sebagai istri teladan. Rika (Endhita), janda berputra tunggal, meneruskan usaha keluarga: toko buku. Atas pilihannya sendiri, ia belajar agama Katolik dan ingin dibaptis, sementara mendorong putranya untuk memperdalam agama Islam di mesjid setempat. Ia juga bersahabat dengan Surya (Agus Kuncoro), yang bercita-cita menjadi aktor hebat tapi bernasib selalu mendapat peran-peran figuran. Saking tidak punya uang, ia menginap di mesjid. Kisah yang berputar pada permasalahan masing-masing keluarga dan perorangan tadi, berkelindan dengan masalah sosial masyarakat: kebencian antar etnis/agama, radikalisme agama dalam bentuk peristiwa penusukan pastor dan bom di gereja, perusakan restoran, juga usaha-usaha untuk menengahinya.

4. The Infidel (2010) – Sabtu, 28 April 2012

Disutradai oleh Josh Appignanesi, film ini mengisahkan kehidupan Mahmud Nasir (Omid Djalili), seorang muslim tidak taat yang gemar minum alkohol, dan tidak beribadah lima kali sehari. Kekacauan dimulai ketika Nasir mendapati dirinya bahwa ia ternyata memiliki darah Yahudi. Apakah ia harus berubah menjadi Yahudi? Ataukah ia tetap menjadi Muslim meskipun ia ternyata punya nama Yahudi? Film bergenre drama komedi ini dijamin membuat Anda terpingkal-pingkal dan terharu.
 
Bagi teman-teman yang suka nonton, atau yang ingin menghabiskan Sabtu sore bersama-sama, atau bahkan pasangan beda agama, silakan datang :) GRATIS! Akan ada makanan dan minuman ala kadarnya. Diskusi mengenai pluralisme yang diambil dari perspektif yang disodorkan masing-masing film akan diadakan setelah film selesar diputar. Ajaklah teman, pacar, atau orang tua anda menikmati malam Minggu dengan membahas hal-hal serius secara ringan, hangat dan bersahabat.
 
 
 Catatan kaki:
[1] MUI mengeluarkan fatwa yang mengharamkan pluralisme pada tahun 2005.
[2] Sinopsis film ini diambil dari http://www.blitzmegaplex.com/en/movie_detail.php?id=MOV649
[3] Sinopsis film ini diambil dari http://filmindonesia.or.id/movie/title/lf-t010-11-123312/tanda-tanya#.T3XNY2FmLVQ