Reporter: Lintang Kertoamiprodjoe – Malang

INDONESIA.
Apa yang kamu pikirkan tentangnya jika mendengar kata itu? Bisa jadi, kamu membayangkan sebuah Negara yang sangatlah indah atau justru malah sebaliknya. Mungkin memang sebagian orang masih menganggap Indonesia hari ini adalah indah, baik dan nyaman. Tetapi lebih banyak juga yang pesimis dengan Negara ini, banyak yang tidak peduli dan tidak berharapan dengan Negara ini, hingga menjadi apatis. Banyak faktor yang membuat masyarakat Indonesia menjadi optimis atau pesimis, dan bahkan biasa saja dengan keadaan Negara ini. Mungkin juga, jika menilik lagi ada perbedaan penggunaan kata NEGERI dengan NEGARA. Negeri kesannya adalah sebuah tempat yang indah, nyaman, menyenangkan dan semua hal baik ada di sana. Namun, jika mendengar kata Negara, akan mendapat kesan yang berbeda. Terkesan sebuah angkuhnya peradaban yang tumbuh modern dengan industri-industrinya, sebuah tempat yang sangat sibuk dengan berjuta tendensi, sebuah tempat yang terkesan sangat dikotakkan dengan batasan-batasan wilayah yang sebenarnya dijilat kembali dengan munculnya globalisasi yang katanya membuat Negara-negara tanpa batas wilayah.

Indonesia hari ini. Penuh carut marut, politik, ekonomi dan semua bidang yang dipenuhi dengan ketidakberesan. Penuh dilematis antara kebebasan dan keterikatan. Penuh kepentingan-kepentingan golongan dan perseorangan. Penuh dengan hal-hal yang membuat jenuh dan jengah, hingga membuat pemuda-pemuda hopeless dengan keadaan bangsa ini. Rakyat yang polos lugu, pun mudah dipengaruhi oleh isu-isu sosial. Hingga ada (banyak) pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan hal ini untuk kepentingan golongan atau bahkan kepentingan pribadinya.

 

***
Satu Tujuh.
Mungkin sebuah padanan kata yang biasa atau lumrah kita tahu dengan menyebut angka 17 atau tujuh belas. Lalu, apa yang menarik dari sebuah gerakan bersama atas nama kebersamaan dengan benang merahnya persatuan? Mungkin terdengar sangat klise, saat kita bicara tentang persatuan bangsa dan berbicara mengenai hegemoni Negara ini. Sebuah gerakan kecil yang lahir dari kejenuhan dan kejengahan pemuda-pemuda akan kehidupan berbangsa yang semakin jauh dari harapan awal Negara ini dibentuk. Gerakan kecil ini lahir di kota Malang. Lahir dalam waktu yang tidak lama, kurang lebih 3 minggu sebelum acara ini berlangsung. Mengajak seluruh pekerja seni kota ini untuk bergerak bersama-sama. Mengapa harus Seni? Karena seni adalah media paling mudah untuk mengajak pemuda untuk bergerak dan mempengaruhi sekitarnya. Karena seni adalah ruang yang tidak mudah dipengaruhi oleh hal lain yang penuh tendensius. Meskipun sekarang banyak hal-hal yang memakai media seni sebagai alat untuk meluluskan kepentingan pribadi atau golongannya.

Satu Tujuh, orang-orang yang terlibat di dalamnya adalah orang-orang yang berkecimpung di dalam dunia seni setiap hari. Tidak menutup kemungkinan juga orang di luar seni untuk ikut menggerakan gerakan Satu Tujuh ini. Satu Tujuh bukanlah komunitas, Satu Tujuh adalah aktivitas. Tidak ada ketua ataupun orang yang merasa menjadi ketua dalam gerakan ini, porsi kami sama. Tidak ada yang menjadikan kami senior ataupun junior, karena fungsi kami sama. Tidak ada yang menganggap salah satu di antara kami adalah becus atau tidak becus, karena tujuan kami sama. Karena harapan kami, sama.

Seperti yang kita tahu, banyak pemuda yang apatis dengan Negara ini, kita tidak bisa menyalahkan mereka karena memang pemuda-pemuda yang apatis tersebut bisa jadi lahir dari kekecewaan terhadap bangsa ini. Harapan-harapan yang tidak sesuai dengan harapannya.

Satu Tujuh, datang bukan sebagai pahlawan, bukan sebagai penyelamat Negara ini dari sebuah luka Negara ini. Satu Tujuh datang sebagai treatment untuk pemuda-pemuda yang mengalami kekecewaan pada Negara ini. Datang bukan sebagai obat, bukan juga sebagai juru selamat. Satu Tujuh, lebih tepat disebut sebagai sebagai pecahan kaca, yang coba dibentuk atau ditata ulang agar membentuk sebuah kaca yang dapat digunakan sebagai kaca cermin untuk saling berkaca. Negara ini adalah sebuah negeri yang penuh dengan berbagai macam hal dengan karakter yang berbeda-beda. Jika kesadaran kita untuk menyadari hal ini tidak dipupuk kembali, bukan tidak mungkin kita tidak bisa bersatu dalam sebuah wadah bernama persatuan. Bukan tidak mungkin, perpecahbelahan akan menjadi momok yang menghantui setiap wilayah di Negara yang bernama Indonesia ini.

 

***
17APagi itu, bertempat di sebuah pusat keramaian di hari Minggu, hari itu bertepatan dengan hari kemerdekaan bangsa ini, Tanggal tujuhbelas Agustus. Car Free Day di kota Malang, selalu diadakan di pusat kota, boulevard Jalan Ijen setiap

Minggu. Pagi itu, diadakan sebuah upacara bendera yang tidaklah sama dengan upacara bendera pada umumnya. Karena memang tidaklah khusus acara upacara diadakan di tempat yang merupakan pusat keramaian. Alasannya sangatlah mudah, supaya kita bisa mengajak setiap orang untuk ikut upacara bendera tanpa ada unsur pemaksaan. Pemaksaan di sini adalah umumnya lebih banyak orang yang mengikuti upacara bendera karena terpaksa demi kewajiban sebuah instansi atau atas nama formalitas saja. Di acara CFD kemarin, banyak yang tergerak dengan sendirinya untuk sadar ikut berkegiatan upacara tanpa adanya unsur keterpaksaan itu. Upacara berjalan lancar dengan pembinanya adalah Aji Prasetyo. Dengan format acara yang seadanya, acara berlangsung khidmat.
***
Sore hari, seluruh anggota Satu Tujuh yang sudah mempersiapkan acara yang dimulai pukul tiga sore ini, sedari pagi setelah upacara segera men-setting tempat untuk pagelaran seni. Ada banyak performer yang dengan suka cita ikut mengisi acara ini, selain dari performer musik, ada juga performer seni rupa, dan juga seni tari. Mereka yang mengisi acara, datang tanpa ada embel-embel nominal, mereka yang mengisi acara, datang karena ingin melakukan sesuatu tanpa harus memikirkan hal lain di luar itu. Mereka yang mengisi acara, datang dengan tanpa paksaan. Semua melakukan porsinya dengan tanpa unsur-unsur apapun. Setiap koordinator mengkoordinir bagiannya, semua saling membantu tanpa ada yang menggerutu. Acara berlangsung sangat meriah dengan kejutan-kejutan setiap penampil yang beraneka ragam. Mulai dari atraksi bola api, teatrikal puisi, workshop seni cukil, seni kolase dan drawing, hingga happening art menjadi puncak kegiatan Satu Tujuh.

10544198_290978621026176_8024544921444854651_o

1621730_290979911026047_4616066815850073266_n

Harapan dari Satu Tujuh adalah agar pemuda-pemuda Indonesia dapat terus bergerak untuk bangsa ini, tidak hanya di kota Malang, tetapi juga di kota lain dan berbagai bidang lain, dan berkelanjutan.
Salam persatuan.