Dari dalamnya dentuman bass menghentak dari dua speaker raksasa, menyuarakan musik keras-keras ibarat konser musik di lapangan kabupaten. Padahal ruang itu hanya berukuran 2 x 3 meter. Pun pendengar musik itu hanya ada 8 orang. 8 orang yang bergantian, kadang berebut 2 microphone yang disediakan untuk memamerkan vokal terbaiknya (atau terburuk) dan dipadu-padankan dengan musik yang dimainkan. Inilah ruang karaoke di sebuah pusat hiburan karaoke yang berada di lantai teratas sebuah pusat perbelanjaan elektronik di Jogja. Ruang dimana orang bisa memperoleh space pribadi untuk mendengarkan musik keras-keras, atau bernyanyi sekerasnya meski dengan nada out of tune. Mereka juga dapat memilih sebesar apa space yang diinginkan dan berapa banyak orang yang akan memenuhi space itu. Tergantung nominal rupiah yang bisa dibayarkan tentunya. Ruang karaoke menjadi tempat orang-orang mencari senang, melupakan kesedihan atau masalah hari ini, atau mencoba mewujudkan khayalan menjadi penyanyi yang tak kunjung terjadi. Walau ruang karaoke tentu membuat para aktivis HAKI berang karena untuk semua lagu yang disediakan di database kebanyakan pengelola tak membayar royalti pada para pencipta lagu atau musisi yang terafiliasi.

Ruang. Kamus menyediakan dua arti untuk kata tersebut. Yang pertama adalah rongga yang berbatas yang dilingkungi oleh bidang. Arti pertama ini mengacu pada yang kasat mata dari ruang. Apabila 4 dinding didirikan memutar membentuk kubus, voila, di tengah 4 dinding itulah ruang. Ruang tersebut lalu menjadi banyak jenis, tergantung kebutuhan pembuatnya. Ruang karaoke adalah salah satunya. Yang dibuat sesuai kebutuhan pengusaha yang sedang mencari untung, dan kebutuhan para penyewa ruang itu untuk bersenang-senang.

Nominal memang sangat penting dalam pembentukan ruang ini. Selain ruang karaoke, praktis ruang-ruang lainnya pun membutuhkan uang untuk eksistensinya. Ruang kost adalah salah satunya. Sama-sama berukuran 2 x 3 meter seperti ruang karaoke, sama-sama membayar (biasanya untuk kost per bulan/tahun) untuk dapat menempati ruang tersebut. Namun berfungsi berbeda, kost adalah rumah mini bagi para penyewa. Mahasiswa, pelajar, pekerja kantoran, atau siapapun yang jauh dari rumah sebenarnya karena tengah merantau. Mereka jelas membutuhkan tempat tinggal, dan konsep mengenai “setelah capek bekerja/belajar, pulang ke rumah nampaknya sangat menyenangkan.” Karena rumah sebenarnya sangat jauh di kota lain, ruang kost itulah rumah mini mereka, tempat melepas lelah dan tersenyum sejenak, sebelum akhirnya esok pagi harus kembali berjibaku dengan apapun aktivitasnya.

Barang yang diletakkan di ruang kost adalah penunjang hidup penghuninya. Kasur, galon air lengkap dengan pompa manualnya, sebuah meja kecil yang dibeli dari pinggir jalan, poster idola menempel di dinding, lemari pakaian besar untuk mahasiswi pesolek, yang kecil untuk yang “bodo amat” dengan penampilan, rak penuh buku untuk para geek dan pemikir, buku bertumpuk di samping rak tanda koleksi bukunya sudah melebihi kapasitas rak, oh jangan lupakan sebuah laptop dan 2 stick getar dimana cowok-cowok bisa bertanding bola virtual di ruang tersebut. Dan masih banyak lagi barang lainnya.

Yang terjadi di ruang tersebut juga beragam tergantung penghuninya. Mereka mahasiswa baik-baik yang tiap 2 bulan dikunjungi orang tuanya dari kampung halaman tentu hanya menggunakan ruang kostnya untuk tidur, belajar, makan, beribadah, dan aktivitas harian manusia kebanyakan (yang konon disebut alim). Sementara untuk mereka yang sedikit liberal, tentu akan mengajak kekasihnya untuk bermasyuk-keluar dengan asyik di ruang kostnya. Memadu kasih, menghayati dorongan eros dan thanatos, sampai puas, atau putus dan berganti pasangan, atau jika sedang apes, digrebek warga sekitar yang tidak setuju dengan konsep samen leven yang mereka tuding “kumpul kebo.”

Nominal rupiah juga masih dibutuhkan saat kita ingin menempati sebuah ruang bernama kelas. Uang yang dibayarkan kadang bombastis, bikin sakit jantung para penikmat ilmu yang tak selalu memiliki uang segudang. Sudah menjadi rahasia umum biaya pendidikan negeri ini amat mahal, ruang kelas adalah tempat pendidikan berlangsung dimana ilmu sang pengajar ditransfer ke otak sang murid. Cukup memuakkan mengetahui kita harus membayar begitu mahal untuk duduk di sebuah ruang kelas, mendengarkan pengajar mendongengkan ilmu yang kadang sudah out of date. Membayar untuk duduk di kelas? Tunggu dulu, bukankah kita membayar untuk ilmu dan pendidikan? Tergantung yang ditanya siapa sih. Murid yang apatis barangkali menganggap ruang kelas tersebut sebagai ruang menghabiskan sisa hidup. Yang penting orang tua cukup senang anaknya berhasil sekolah di sebuah institusi pendidikan ternama, berangkatlah ia setiap pagi menuju ruang kelas itu, duduk manis, mendengarkan pengajar berbicara, mengisi absen, lalu pulang. Cukup.

Sedangkan murid yang sedikit lebih kritis akan menggunakan ruang kelas itu sebagai kawah candradimuka dimana ia menggembleng kemampuan berwacana dengan terus menerus memprotes apapun yang dikatakan sang pengajar, yang ia anggap sudah uzur dan terlalu ketinggalan jaman. Ia ogah menurut pada standar kurikulum yang ditawarkan pengajar karena menudingnya sebagai pendisiplinan, penyeragaman perspektif. Setelah satu semester memprotes, biasanya sang murid kritis akan bosan. Lalu mengamini perkataan Haruki Murakami bahwa “hal terbaik dari sekolah adalah, kita jadi tahu hal terbaik di hidup ini tak bisa didapatkan dari sekolah.” Maka sang murid mulai sering bolos, meninggalkan ruang kelas, lalu bersekongkol dengan kameradnya membuat ruang belajar alternatif di luar ruang kelas.

Ruang belajar alternatif banyak bertebaran di seluruh penjuru Yogyakarta, pasti di kota dan daerah lain juga ada. Ruang kecil dengan nama-nama unik yang dibuat oleh penggagasnya sebagai wacana-tanding pada ruang belajar sekolah yang dianggap membosankan dan nonsense. Nama-nama ruang alternatif tersebut tak perlu disebutkan karena saking banyaknya, tak adil jika yang disebut hanya beberapa, sementara beberapa yang lain tidak. Fokus belajar dari ruang alternatif itu juga berbeda-beda sesuai minat penggagas dan anggotanya. Ada yang sibuk menggunjingkan seni, fotografi, sastra, musik, politik, bahkan sekadar berbagi cerita buku favoritnya yang baru selesai dibaca. Ruang belajar alternatif punya banyak kelebihan ketimbang ruang kelas sekolah. Orang-orang yang berdiskusi di sini tidak mengikat diri dengan dikotomi guru-murid, biasanya mereka menganggap semua setara sehingga proses penransferan ilmu bisa berlangsung dua arah atau malah sirkular, memutar antar anggota. Beda dengan ruang kelas sekolah yang memiliki dikotomi guru-murid sehingga guru di depan kelas, semua murid duduk menghadap padanya. Ibarat suku di pedalaman yang mengiba pengetahuan pada sang dewa yang tak dapat diganggu-gugat kebenarannya. Ruang belajar alternatif tidak terikat absensi, yang artinya mereka datang ke sana dengan keikhlasan untuk berburu ilmu. Tidak seperti datang ke ruang kelas sekolah yang sebenarnya terpaksa karena takut absensi kurang. Ruang belajar alternatif tak terikat jadwal masuk dan pulang seperti ruang kelas, karena bagi mereka ide bisa datang kapan saja siang atau malam, tak harus menunggu pagi saat masuk kelas.

Tapi kamus masih menyediakan arti kedua dari kata ruang, yakni “rongga yang tidak berbatas, tempat segala yang ada.” Ini mengacu pada sesuatu yang metafisik. Yang tak kasat mata. Sesuatu yang menjadikan Letto membuat lagu “Ruang Rindu.” Bayangkan jika kita menggunakan arti kata rindu kasat mata yang pertama, seperti apa bentuk dan rupa ruang rindu itu? Sudah sejak lama para pemikir mencoba memahami ruang dan waktu, sesuatu yang metafisik itu. Sesuatu yang membuat Einstein menggagas teori relativitas ruang dan waktu yang termahsyur itu. Filsafat dan fisika bekerjasama, kadang berantem, mencoba memahaminya. Hasilnya? Sepertinya kita masih meraba-raba, dan cukup memahami bahwa ada sebuah ruang metafisik diantara kehidupan manusia.

Dalam perihal spiritual, ruang tersebut biasa dimaknai sebagai sesuatu yang transendental, spiritual, di luar nalar manusia. Sesuatu yang tak dapat dilihat secara kasat mata dan dipikir dengan nalar, namun kita anggap ada. Dalam “Misteri Soliter” Jostein Gaarder menceritakan sebuah perbincangan menarik seorang dokter bedah yang agamis, dengan seorang astronot. Sang astronot berkata “Aku sudah pergi ke luar angkasa berkali-kali namun belum pernah sekalipun melihat ada malaikat atau Tuhan di langit”. Kemudian sang dokter bedah berkata “Aku sudah membedah banyak otak orang-orang pintar namun belum pernah melihat satu pemikiran di otak itu.” Tentu saja keduanya tak terlihat oleh mata telanjang. Keduanya metafisik, anggap saja Tuhan dan pemikiran adalah ruang dimana segala kerumitan semesta bergejolak. Dan ruang itu sangat privat, setiap orang memiliki interpretasi sendiri akan ruang itu, dan bagaimana bentuk ideal dari ruang tersebut. Sebuah ruang personal, Tuhan dan pemikiran adalah ruang personal.

Bahkan terkadang untuk urusan ruang personal tersebut, manusia modern lagi-lagi perlu merogoh koceknya. Adalah Jepang, Negara di Asia Timur yang pergerakan modernisasinya begitu luar biasa. Setelah dihantam kebangkrutan karena perang, sekarang Jepang menjadi simbol modernisasi. Apapun yang maju dan canggih selalu dari Jepang. Walau sebenarnya modernisasi itu harus dibayar mahal: Penduduk Jepang jadi kehilangan ruang personal. Konon hidup di Jepang sangat berat, mereka yang mau bekerja keras bagai robotlah yang dapat bertahan hidup disana. Modernisasi memaksa setiap orang untuk bergerak mengikuti ritme hidup yang semakin cepat atas nama produktivitas. Maka Jepang membuat segalanya serba cepat, kereta api yang lebih cepat, cara makan yang lebih cepat dan tak bertele-tele duduk sambil ngangkring setelah makan, produk-produk yang harus diselesaikan dengan cepat melalui pabrik-pabrik yang bekerja siang-malam. Mode dan fashion yang berganti setiap waktu dengan cepat juga, demi mengejar keindahan rupa para penduduk. Semuanya serba cepat, orang dipaksa cepat-cepat, dan mereka kehilangan ruang personal. Segala sesuatu yang mahal dan cepat di Jepang membuat mereka harus hidup komunal. Untuk berangkat bekerja mereka harus memenuhi kereta cepat, berdesak-desak. Dan pada suatu ketika, mereka tersadar betapa kesepian mereka di tengah keramaian modern Jepang. Akhirnya, satu-satunya cara menemukan ruang personal kembali mereka harus membayar. Membeli seperangkat alat pemutar musik semacam iPod atau MP3 player dan sebuah headset bagus. Mendengarkan musik di perjalanan kereta cepat.

Karena saat itulah manusia Jepang memiliki lagi ruang personalnya. Tempat dimana mereka bisa mendengarkan musik keras-keras dengan playlist lagu kegemaran. Tempat dimana mereka bisa mengenang masa lalu, atau sekadar melamun, merenung, membayangkan. Siapa bilang modernitas selalu berbuah manis? Buah pahitnya adalah kesepian, keterasingan, dan hilangnya ruang personal demi sebuah Tuhan baru yang lebih kasat mata: uang.

Di dalam rongga abdomen manusia, tepat di depan aorta dan belakang perut, terdapat sebuah jaringan saraf bernama solar plexus. Ada beberapa ilmuwan yang berasumsi bahwa sebenarnya solar plexus inilah hati atau perasaan manusia. Saat kita berkata “cinta itu ada di hati” atau “gunakan kata hatimu,”sesungguhnya di solar plexus inilah lokasinya, bukan hati “liver” tempat mengolah racun, atau di jantung organ pemompa darah. Inilah solar plexus, ruang nurani.

Lalu apa kesimpulannya? Sesungguhnya dunia ini akan indah dan kehidupan manusia akan lebih baik andai setiap orang menyadari adanya ruang yang terakhir, ruang nurani, solar plexus. Dengan adanya ruang nurani, pengelola ruang karaoke tak hanya memikirkan laba sebanyaknya. Ia juga memikirkan hak royalti para pencipta lagu yang karyanya diputar di setiap ruang karaoke. Para pejabat dan pembuat kebijakan tak terlampau sibuk tawar-menawar politik demi kepentingan diri, kroni, atau partai politik. Mereka harus memikirkan dampak kebijakan yang dibuatnya pada rakyat yang diwakilkan. Termasuk kebijakan pendidikan yang lebih baik agar setiap murid yang duduk di ruang kelas tak lagi dicekoki oleh ilmu yang mendisiplinkan, menyeragamkan, alih-alih malah memberi pendidikan yang sesuai karakter setiap murid. Ruang nurani harusnya mampu mengingatkan para penghuni ruang kost mengenai tanggung-jawab moral mereka pada dunia, sekalipun ruang itu adalah milik mereka. Tapi di luar ruang 2 x 3 meter itu ada dunia yang juga terhubung dengan mereka. Setiap keputusan hidup yang mereka buat di ruang kost sempit itu, berpengaruh pada dunia di luar.

Ruang nurani seharusnya membuat mereka yang beragama mengerti, bahwa ruang personal setiap orang berbeda, Tuhan dan pemikiran setiap orang berbeda tergantung interpretasi masing-masing pihak. Jika semua sudah seperti ini, tak akan ada berita pembunuhan dan kekerasan atas nama agama lagi.

Sudahkah anda menengok ruang nurani anda? Sudahkah menilik masih adakah ruang itu dalam diri anda? Belum? Atau jangan-jangan semua orang memang sudah melupakan ruang nurani itu karena terlampau sibuk mengurus ruang-ruang lain yang kasat mata? Selamat menjadi manusia modern yang kesepian walau di tengah keramaian.

Karanganyar, 28 Oktober 2013

Aris Setyawan:
Mahasiswa jurusan Etnomusikologi ISI Yogyakarta yang bosan dengan setiap hari perkuliahan, Ketua KKM Keilmuan Etnomusikologi, penulis lepas di beberapa media, bermain drum di band folk Aurette and The Polska Seeking Carnival, inisiator gerakan peduli anak jalanan Save Street Child Jogja. Penggila baca, pemuja kucing, berharap semoga suatu hari Radiohead konser di Indonesia. Dapat dihubungi melalui twitter @arissetyawan atau email arisgrungies@gmail.com