Adalah sebuah gagasan tentang usaha percepatan perubahan.
Perubahan menuju gerakan yang lebih kontekstual/berdasar pada pembacaan alam dimana kita berada. Sebuah percepatan perkembangan spiritual, percepatan persatuan dan pelaksanaan gagasan serta percepatan pertumbuhan ide.

Revolusi Organik berharap ikut memberi kontribusi atas perubahan pada generasi muda untuk lebih aktif, baik aktif mencari ke dalam, maupun aktif ke luar dalam usaha memperindah dunia (hamemayu hayuning bawana).

Revolusi Organik lahir atas pembacaan bahwa seharusnya warga/generasi muda Nusantara sudah terbangun dari lelapnya karena memang momentum sudah memberi tanda bahwa kini sudah saatnya, namun karena beberapa hal sehingga perlu upaya lebih dari kita sendiri untuk melakukan lompatan tersebut.

Dengan ini kita bermimpi bahwa Nusantara akan menuju sebuah perubahan, perubahan positif yang diinisiasi oleh generasi muda yang bukan saja aktif, kreatif dan berani namun juga berpemahaman mantap, memiliki landasan filsafat hidup yang holistik serta memiliki satu visi yang jelas.

Sampai saat ini kita selalu berhadapan dengan realitas pemikiran, gerakan dan aktivitas generasi muda yang berkarakter revolusif, bersemangat tinggi, menggebu-gebu, dan kritis. Generasi muda yang bersemangat ini menuangkan ekspresinya ke dalam berbagai macam aktivitas, salah satunya adalah musik dengan berbagai macam genrenya.

Musik adalah wadah populer dan selalu mendapat banyak penggemar, apapun jenis aliran musiknya. Dalam konteks ini, kita mengangkat musik dengan ritme meriah, keras dan menghentak sebagai simbol semangat anak muda dalam menuangkan gagasan dan kreatifitasnya. Simbol ini adalah sebuah nilai positif yang dibutuhkan bangsa ini. Dalam kondisi bangsa yang carut marut, sangat global, disorientasi dan mengalami krisis nasionalisme membuat kita semua mengalami kepenatan, kejenuhan dan kemuakan. Kegagalan akan keteladanan pemimpin bangsa dengan segala bentuknya membuat pesimis dan ketidaksemangatan terhadap masa depan bangsa. Untuk itu kita harus mendapatkan kembali jiwa-jiwa yang optimis dan bervisi jauh ke depan, dengan menyerap semangat anak muda yang meluap-luap namun terkadang kurang terarah.

Sementara di sisi lain, ada generasi yang lebih dahulu lahir, yang telah banyak makan asam garam kehidupan dan mencapai tahap spiritual yang cukup mapan. Mereka adalah orang-orang yang sudah mencapai taraf ilmu dan kebijaksanaan yang mumpuni, sehingga perlu dijadikan sebagai penasehat bagi keberlangsungan hidup bangsa ini. Jiwa kepandhitaan dari generasi inilah yang dibutuhkan oleh bangsa yang mengalami kekeringan mental dan permasalahan moral. Mereka adalah salah satu yang bertugas untuk mengingatkan dan memberi gambaran dinamika alur hidup bangsa kita ke depan.

Masalah utama dalam realitas ini adalah ketidaksampaian atau kekurangan metode dalam memberikan pesan dan menyampaikan ekspresi. Generasi muda akan selalu ekspresif dengan jiwa jamannya sehingga penyampaian maksud ekspresinya berbeda dengan karakter generasi lebih yang tua. Perbedaan cara berkomunikasi ini membuat jurang pemisah secara ideologis dan karakter, bukan saja antar generasi, namun juga antar elemen masyarakat itu sendiri.

 

Titik persinggungan Revolusi Organik

Untuk itu, Revolusi Organik mencoba untuk mempertemukan semangat-semangat tersebut dalam sebuah titik persinggungan.

Revolusi menjadi bagian penting dalam diri kita sendiri untuk menyelaraskan dengan keadaan dunia yang serba dinamis dan cepat berubah. Hal terkecil yang kita lakukan dalam menjiwai jaman ini adalah dengan menyesuaikan ‘jagad cilik’ dan ‘jagad gedhe’ secara kontekstual dan seimbang.

Penyesuaian dan penyelarasan tersebut bukan merupakan sebuah keterasingan terhadap akarnya, justru kita lebih mengerti akan jati diri dan hakikat manusia dalam menjiwai jamannya. Secara esensial, kita diingatkan bahwa segala idealisme harus dilandasi oleh visi misi yang jelas sehingga menjadi sebuah fokus yang lebih bermakna bagi diri sendiri dan lingkungannya.

Menjadi organik berarti sesuatu yang murni, menyehatkan dan berprinsip (kesehatan, keadilan, ekologi dan perlindungan). Setiap hari kita dijejali oleh ideologi, kepercayaan dan barang-barang impor. Sesuatu yang impor menjadi komoditas yang mudah dicari, bahkan malah cenderung dipaksakan. Di sinilah keorganikan kita dipertanyakan, dan alienasi terjadi dalam konteks ini.

Jati diri sebuah bangsa ditentukan oleh sebuah kebudayaan dan pemahaman sejarahnya. Degradasi dalam kebudayaan dan pemahaman sejarah menimbulkan manusia Indonesia kehilangan jati dirinya, kehilangan kebanggaan dan kehilangan kepercayaan terhadap bangsanya. Yang terjadi adalah banyak yang kurang memahami jika budaya bersentuhan langsung dengan sendi-sendi kehidupan manusia di segala bidang dengan lingkungan alamnya di mana mereka hidup.

Oleh karena itu, gagasan Revolusi Organik ini mencoba untuk bukan saja mempertemukan jiwa ‘muda’ dan jiwa ‘dewasa’ namun juga berbagai elemen masyarakat/generasi muda dalam sebuah titik persinggungan. Diharapkan dari sebuah pertemuan ini, akan mulai terjadi interaksi dan terjalin kemauan untuk saling memahami, dan muncul semangat penyatuan visi dan gerakan ke depan yang lebih berani, kritis, holistik dan kontekstual.

Sesungguhnya masyarakat adalah pemilik budaya. Masyarakatlah yang lebih memahami bagaimana mempertahankan dan melestarikan budayanya, sehingga budaya akan menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari. Semakin banyak titik-titik persinggungan antar generasi dan antar budaya, maka karakter dan jati diri bangsa akan dapat dipertahankan, pun harapan akan penyatuan visi generasi muda ke depan.