rlzt - cropped

RELIEZT!

[Tulisan ini adalah bagian dari zine yang dibuat oleh ketjilbergerak bersama RELIEZT, bagian dari projek bersama KUNCI Cultural Studies – Made in Commons
yang mengimajinasikan commons sebagai berbagi sumber daya dan cara memproduksi pengetahuan melampaui kapitalisme]

***

Keberadaan Reliezt merepresentasikan keberadaan Ledhok Timoho. Keberadaan Reliezt juga merepresentasikan persoalan-persoalan yang dihadapi oleh para warga di kawasan tersebut. Reliezt mungkin saja tidak dapat memberikan jawaban yang cepat, langsung dan solutif bagi persoalan-persoalan yang dihadapi oleh warga Komunitas Ledhok Timoho. Namun, setidaknya keberadaan Reliezt dapat menumbuhkan harapan akan masa depan yang lebih baik bagi komunitas itu.

Awalnya, Komunitas Ledhok Timoho (yang terdiri dari anak jalanan, pengamen, pemulung, pengemis, eks PSK, buruh lepas, dan lain-lain) dikumpulkan oleh Bambang Sudiro, yang akrab dipanggil Bengbeng, koordinator Tim Advokasi Arus Bawah (TAABAH) yang didirikan pada 2000 di bawah naungan Gerakan Kaum Jalanan Merdeka (GKJM). TAABAH diharapkan dapat menjadi media komunikasi dan kontrol bagi seluruh warga yang tinggal dan berkomitmen bersama untuk merawat keamanan dan ketentraman Ledhok Timoho dan sekitarnya.
Ledhok (bantaran sungai) Timoho adalah salah satu kampung yang terletak di bantaran Sungai Gajahwong, satu dari tiga sungai yang mengaliri Kota Yogyakarta. Kampung-kampung di sepanjang bantaran sungai biasanya dinamai dengan awalan “Ledhok”, misalnya Ledhok Tukangan yang terletak di bantaran Sungai Code, atau Ledhok Notoyudan yang terletak di bantaran Sungai Winongo. Secara administratif, Ledhok Timoho berlokasi di RT 50 RW 05 Balerejo, Mujamuju, Umbulharjo, Yogyakarta.
Pada 2006, terjadi peningkatan anggota yang cukup pesat di Komunitas Ledhok Timoho. Kebutuhan akan tempat tinggal, kedekatan Ledhok Timoho dengan lokasi kerja dan keberadaan sumber mata air menjadi beberapa penyebab makin bertambahnya pemukim di wilayah tersebut. Pada saat yang sama, Komunitas Ledhok Timoho ini belum diakui secara administratif karena status tanah yang tidak jelas kepemilikannya. Hal ini kemudian berimbas pada timbulnya persoalan-persoalan sosial yang harus dihadapi oleh para warga komunitas tersebut, misalnya hampir sebagian besar dari mereka yang tidak memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP).

Melihat masalah-masalah yang ada di Ledhok Timoho, TAABAH kemudian membuat program-program pemberdayaan warga di komunitas tersebut. Program-program tersebut antara lain, pembuatan Tabungan Komunitas (TABKOM), pengadaan fasilitas umum (misalnya MCK, penerangan, jalan, bak sampah, dan sebagainya), hingga pendirian sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang dinamakan “Sekolah Gajah Wong”. Seluruh program itu diselenggarakan dengan melibatkan partisipasi penuh warga komunitas tersebut.

Selain mengawasi program-program yang ada, Bengbeng juga memberi perhatian khusus kepada generasi muda yang terus lahir di Komunitas Ledhok Timoho. Perhatian ini muncul sebab ia melihat masih dilibatkannya anak-anak dan remaja dalam urusan kebutuhan ekonomi keluarga yang hidup di komunitas tersebut (misalnya, anak-anak dan remaja diajak mengamen, mengemis, memulung, dan sebagainya). Perhatian itulah yang mendorongnya untuk mengajak anak-anak muda Komunitas Ledhok Timoho membuat satu perkumpulan. Perkumpulan khusus anak-anak muda Komunitas Ledhok Timoho itu akhirnya menamai diri sebagai Reliezt. Para anggota Reliezt pun sering berkumpul untuk sekadar nongkrong ataupun melakukan aktivitas-aktivitas kolektif lain.

Setelah itu, sempat ada masa di mana Reliezt tidak aktif. Waktu berjalan, Bengbeng kemudian bertemu dengan Ardi a.k.a Prjx. Waktu itu, Prjx adalah seorang remaja yang baru pindah bersama keluarganya ke Ledhok Timoho. Bengbeng lantas mengusulkan agar Prjx merangkul teman-temannya untuk berkegiatan bersama. Prjx menyambut usulan itu, sebab dia merasa, ketika dia datang, remaja-remaja di Ledhok Timoho tidak cukup guyub. Akhirnya, per 2010, Reliezt kembali aktif berkegiatan.

Reliezt sendiri adalah akronim dari dua hal. Pertama, Remaja Ledhok Timoho Bersatu. Kedua, Republik Ledhok Timoho Bersatu. Yang pertama membuat Reliezt lebih dekat dengan remaja Ledhok Timoho. Yang kedua menyatakan bahwa Reliezt (yang terdiri dari sekumpulan remaja) ingin memiliki arti bagi seluruh orang yang tinggal di Ledhok Timoho.

Nama Reliezt sendiri didapat melalui proses yang dinamis. Awalnya adalah Republik Ledhok Timoho Bersatu, yang digunakan sejak tahun 2010. Kemudian pada tanggal 21 Desember 2012, nama Reliezt berubah menjadi ROEZER (Revolution Squad Muzlim Timoho Merdeka) karena waktu itu sempat terbawa spekulasi hari kiamat yang diramalkan oleh Suku Maya, sehingga ada keinginan untuk memasukkan unsur agama Islam. Apalagi saat itu kegiatan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) di Ledhok Timoho sedang aktif-aktifnya. Ditambah pula dengan masuknya para mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota dari Universitas Gadjah Mada yang melakukan kegiatan lapangan di Ledhok Timoho.

Setelah itu berubah menjadi Reliezt (Revolution Ledhok Timoho Berzatu) pada Juli 2013. Perubahan akronim ini dikarenakan Reliezt sendiri ingin merubah citra kelompok agar lebih progresif dan bersatu, tidak hanya sekedar melakukan kegiatan bersama saja tetapi juga memberikan esensi solidaritas dan kebersamaan di antara mereka. Dan terakhir menjadi Reliezt (Remaja Ledhok Timoho Bersatu) hingga hari ini. Beberapa personil Reliezt sendiri bukan tipe anak rumahan, mereka cukup akrab dengan dunia gang di Jogja seperti HUMORIEZT, KANSAS, QZRH, REMBER dan gang antar kampung lainnya. Pergaulan mereka di luar ledhok pun cukup memberi inspirasi untuk mempersatukan Reliezt itu sendiri.

Mereka yang tergabung di Reliezt tidak hanya remaja laki-laki melainkan juga perempuan. Usia mereka berbeda-beda, meskipun rata-rata belasan tahun. Aktivitas mereka bermacam-macam dan dilakukan secara bersama-sama. Misalnya, berkemah di jembatan Ledhok Timoho, pergi piknik dan berkarya (misalnya membuat komik dan desain baju Reliezt). Hal ini bertujuan mempererat kebersamaan di antara mereka. Reliezt sendiri memiliki slogan “Solidaritas tanpa batas. Susah senang, bareng-bareng”. Sebagai anak Ledhok Timoho, mereka ingin membuktikan bahwa mereka peduli satu sama lain. Mereka ingin menunjukan bahwa mereka, sebagai remaja-remaja yang tinggal di Ledhok Timoho, adalah saudara. Hubungan di antara mereka berjalan dengan asas kekeluargaan dan berbagi. Bagi mereka, masalah salah seorang di antara mereka, adalah masalah semuanya.

Sebagai remaja yang tinggal di ledhok, khususnya Ledhok Timoho, anak-anak Reliezt sering dianggap nakal oleh orang-orang yang tinggal di luar kawasan itu. Kebanyakan anak-anak Reliezt pun sadar akan adanya anggapan tersebut. Tapi mereka merasa bahwa kenakalan mereka adalah hal yang wajar. Jadi, buat mereka, kenakalan mereka tidak ada kaitannya dengan status mereka sebagai remaja yang tinggal di Ledhok Timoho.

Maka dari itu anak-anak Reliezt tidak hanya dapat membuka diri, melainkan juga pede saat bergaul di luar Ledhok. Mereka mengaku tidak minder dengan status mereka sebagai anak ledhok. Bagi mereka, tidak ada yang salah dengan status tersebut. Bagi mereka, ada banyak hal yang bisa dipelajari di luar Ledhok Timoho. Seperti juga ada banyak hal yang mereka dapatkan di dalam Ledhok Timoho.

Begitulah! Pada intinya, anak-anak Reliezt tidak terlalu berbeda dengan remaja-remaja yang lain. Mereka senang berkumpul sebab dengan begitu mereka bisa saling berbagi dan mendukung. Kadang mereka nakal, sebab kenakalan adalah bagian dari usia remaja. Mereka suka berkarya dan memiliki ide-ide kreatif. Mereka senang bergaul sebab dengan begitu mereka bisa mendapatkan hal-hal baru.***