kaos

 

 

 

 

 

1.8.10
Realitas adalah yang ada terjadi. Definisi ini jugalah sebuah realitas. Realitas mungkinkah terumuskan? Disinilah problemnya. Karena segala rumusan tentang realita adalah Realitas. Realitas yang terbangun dari fenomena-fenomena adalah merupakan proses-proses, tegangan-tegangan dan mungkin. Yang merupakan Karma. Proses (tak) akan selesai…(?)

Kesegaran dicapai dengan permenungan atas pikiran mengenai realitas. Bisa jadi permenungan ini di temui dalam Realitas yang belum selesai. Ketika mencoba memahami Realita(s) yang ditemui adalah kacau. Itu karena 5 indera mengandung. Hasrat. Kekuatan, Ketajaman, Kedalaman (nya), teranggap selesai. Kalau ada yang ringsek itu wujud. Wujud badan raga yang mengulang terus.
Tulisan adalah bentuk hasrat, arahnya selalu menebak-nebak, dan apakah tebakan terhadap realita tidak meleset? Suatu hari adik saya bercerita, Ia sedang duduk di sebuah warung. Ia melihat cicak yang mendekati lalat. Lalat sedang mendekati sebutir nasi /upa. Posisi cicak-nasi-lalat membentuk garis segitiga sama sisi. Adik saya mengamati cicak yang mendekat. Nhah ternyata si cicak menggigit nasinya lalu membawanya pergi dan bukan lalatnya. Bagi Adik saya realitas cicak makan serangga (lalat) adalah realitas selesai. Tetapi meleset. Realitasnya belum selesai…(tetapi apakah cicak makan nasinya ditelan atau tidak, pun juga belum tahu).
Kehadiran Realitas ada dalam tegangan antara Pikiran, Rasa dan Wujud, Ketiganya ingin (hasrat) bertahan. Disinilah hidup mati .
Mulai dari manakah jika melangkah ke dalam apa itu realitas?

10.11.10
Awan panas dari kawah Gunung Merapi terbang ke barat pagi sampai siang hari…
Greg dalam tulisannya mengenai visinya yang berubah terus dalam tegangan terus, melukiskan suatu keprihatinan yang khas menunjukkan sebuah laku pada suatu idealisasi dan konsepsi hubungan dan tegangan. Cukup tinggi dalam taraf kebingungan. Filsafatnya selalu nrima. Nrima apa, nrima bahwa realitas adalah kecurigaan itu sendiri. Hermeneutics of suspicion seperti ini sangat khas para nabi, para mistikus, tradisi kuno membaca dan melihat. Tegangan adalah wahyu, turbulences yang stormy dan menggairahkan.
Gumun adalah bentuk keceriaan dari kecurigaan (atas realitas) yang mendua, menikmatinya atau dan mengakalinya dengan solutif maupun implementatif, maksud saya kekanakan atau dewasa. Hahaha. Nha Gumunan adalah sifat para penyair, para peneliti, researcher, observer, journalist dan inteligent. Gumun untuk menyelami realitas.
Bagaimana kegumunan ini mampu menjamur? Banyak yang melihat lewat ramalan, lewat intuisi, lewat pencerahan, lewat kerumitan bahasa, lewat thethenguk di pinggir kali. Tidak penting apakah gumun itu[Kata Itu di sini praktis saja, mengingat determinasi pada rasa gumun itu belum tentu sahih.] suatu meditasi atau tidak meditatif, tetapi peka terhadap apa yang tidak hadir itulah ngelmu gumun.

Dalam yang hadir dalam ketidakhadirannya inilah gumun menemui gerbang, gerbang inilah realitas, gerbang apa?

15.11.10
Temporal present-traces-hadir
Dari tiga sudut ini realitas didekati: fragmenter dan penuh silangan. Seperti dalam Seni dan tujuan akhir, waktu dan ruang, O atau Om, ciptaan dan pencipta, kebenaran yang ada dan sungguh kebenaran, Detektif dan sang pembunuh, Dewa Olympus dan Titans, (.) dan (,), Tuhan dan manusia, Barong dan Rangda, kabut dan tanah basah.
Sub[ Sub, adalah bagian, bagian dari realitas. Percikan.]
Letak sebuah realitas bagi saya, ada pada apa yang di makan pada hari ini, apa yang memakan, siapa yang memakankan. Lalu pada apa yang di buang, apa yang dilupakan, siapa yang melupai. Lalu pada tidur.
Gumun(an)
Gumun ada pada tiga hal di atas, ngelmu ini tak bisa di cari tapi bisa di dapat.
Selamat menikmati r
Ea
L

I                     ta
s…

Ia mulai saya perhatikan dan merupakan pemberian sepupu saya sebagai kenang-kenangan pernikahannya. Saya sempat berpikir mengapa tumbuhan yang dipilih sebagai souvenir? Barangkali supaya harapannya dalam pernikahan akan tumbuh dan berkembang seperti kaktus ini yang tumbuh dan berkembang, atau bisa jadi harapan agar cinta di antara pasangan bertumbuh.
Tetapi setelah saya pikir lagi, kaktus juga bisa mati, apakah mereka sebagai pasangan berharap cinta yang bisa mati? Atau mereka menyadari realitas kehidupan, bahwa yang hidup bisa mati. Tetapi lagi, apakah kematian berlaku bagi cinta? Apakah realitas berlaku bagi cinta? Atau cinta yang apa?
Ada kejadian yang bagi saya unik ketika saya mencoba merawat kaktusnya, 5 hari sesudah saya letakkan di kursi, saya tak melakukan apa-apa pada si kaktus. Si kaktus, setelah lima hari itu, mulai layu, bosok. Ketika saya menyadari bosoknya kaktus, kemudian sesuai uraian perawatan kaktus saya mulai menyiramnya, tetapi tetap belum tumbuh, diganti tanahnya juga belum tumbuh, saya menyerah…
Seminggu saya tak membuang kaktusnya, saya diamkan dan cari cara agar tumbuh. Akhirnya di suatu malam saya memutuskan untuk membuangnya, keesokan harinya si kaktus mulai terlihat tunas barunya, ia mulai…