Anak muda tak perlu resah bila tiba saatnya berubah.

Demikian kira-kira yang menjadi pesan puisi-puisi Chairil Anwar, bahwa perubahan niscaya terjadi sebagai keheningan masing-masing, yaitu nasib.
Chairil Anwar hidup pada masa perubahan. Pada masa ini terjadilah krisis identitas pada anak muda yang berbondong-bondong mulai bergerak ke arah perjuangan baru yaitu, perjuangan untuk membangun yang baru, dan meninggalkan yang lama.

Tetapi sungguhkah yang lama ditinggalkan?
Di puisi ‘Aku’, Chairil Anwar tegas menjawab, bahwa yang lama tak mungkin ditinggalkan, bahwa Chairil melampaui zamannya dan mengabarkan bahwa yang lama itu akan kembali. Anak muda diperingatkan jauh-jauh hari oleh Chairil.

Sejarah seperti Chairil Anwar ini tak bisa dilupakan dan hanya bisa diamini saja sebagai potret derita manusia modern, yang jika dilihat pada masa sekarang ini, masih relevan, karena masih berjibaku dengan persoalan yang sama, yaitu eksistensi diri dan modernitas yang terus mendesak. Chairil telah mengumandangkannya sejak dulu.

Jika dulu hiruk pikuk ada pada relasi dengan ide-ide besar, kini anak muda berada pada hiruk pikuk informasi dan teknologi yang tak terbendung.
Bagaimana anak muda menyikapinya? Secara aktif atau proaktif?
Karena jika akan banyak terjadi kesalahpahaman hal itu niscaya terjadi, dan niscaya juga akan terselesaikan dengan baik (?).

Ternyata informasi bisa jadi tirani, ternyata tirani baru ini sama mengerikannya dengan tirani politik, tirani korupsi, dan tirani dalam arti sesungguh-sungguhnya.
Sekali lagi anak muda diajak untuk melihat kenyataan di sekitarnya oleh puisi Chairil Anwar.
Mampukah kita menanggapi persoalan dengan solusi yang tepat untuk masa depan?