Sebelum jauh berbicara tentang dua frasa (yang terasa) asing yang ditasbihkan menjadi konsep besar acara ini, ada dua bulir pernyataan dalam dua kalimat yang perlu dibahasakan terlebih dahulu. (1) Jalan keluar belumlah ditemukan. (2) Jalan untuk menuju jalan keluar tadi juga belum ditemukan. Saya pikir akan cukup mudah untuk menyebutkan berbagai macam ketidakadilan di manapun juga; dari kekerasan ‘tak langsung’ (diskursif dan/atau simbolik), yang tidak terasa pada pandangan pertama seperti; marjinalisasi (penyingkiran), kemiskinan struktural, hingga penindasan yang langsung seperti kejahatan-kejahatan yang dilakukan apparatus Negara (represif) secara langsung. Bagaimana mungkin menyatukan perlawanan dengan tumpukan penindasan ini yang menghasilkan berbagai macam subyek perlawanan ini? Dengan begitu, sebagai konsekuensi logisnya, jalan keluar, dapat dikatakan, bentuk masyarakat idealnya, tidaklah satu, sebut saja, berdasarkan satu ideologi saja dan demikian pula halnya dengan jalan menuju masyarakat ideal tadi.

Jadi bagaimana? Mulai dari mana?
Jawaban terpastinya; dari mana-mana dan dari siapa saja!
Berangkat dari kesadaran ini, kami ingin memulai dari seni; sebuah lahan yang kami kenal; sebuah lahan yang jadi bagian dari kedirian kami. Seni bukanlah sesuatu yang bebas nilai. Imajinasi dalam (karya) seni, sebagai daya produktif seni, tidak pernah lepas dari imajinasi sosial tempatnya berangkat. Bukankah rasisme tayangan di televisi, dengan nalar estetikanya sendiri, yang mengumbar eksotika kehidupan masyarakat memiliki nalar-pikir (baca: imajinasi) yang mirip dengan orientalisme a la novel-novel Barat seperti pembacaan Edward Said? Bukankah tayangan-tayangan yang lain yang memberitahu kita semua bahwa orang-orang yang berjenggot dan bercelana di atas mata kaki adalah teroris (yang mana sejalan dengan War on Terror a la Hollywood yang sedang “booming”)? Suka atau tidak suka, rela atau tidak rela, seni di titik ini ikut ambil bagian dalam proses kekerasan diskursif! Jadi, kenapa tidak mungkin memulai perlawanan dari seni? Di sini, dengan Personal Ouikumene, seni akan dijadikan lahan pertemuan untuk memulai. Memulai apa? Memulai, pada awalnya, pertemuan masing-masing yang terlibat dalam kegiatan seni untuk bertemu dengan dirinya. Pagelaran seni selalu mampu meminta waktu dan pikiran subyektif dari para penikmatnya untuk bermain (dengan tanda dan penandaan sebagai nalar komunikasi). Dengan ini, seni memiliki ruang untuk bicara dan menghasilkan sesuatu.
Masuk ke konsep (Personal Ouikumene), Personal Ouikumene, secara etimologis, diambil dari bahasa Yunani yang dapat diterjemahkan (tentu dengan bebas) sebagai; rumah yang didiami. Pada masa Kekaisaran Romawi di bawah kekuasaan Alexander Agung, maknanya dipersempit menjadi tempat tinggal yang dihuni oleh oleh orang-orang beradab (baca: telah di-Kristen-kan). Tempat tinggal ini juga sekaligus diartikan sebagai Kerajaan Tuhan yang dijanjikan. Dengan makna ini, kami melihat ada dua sisi (semantic properties) yang dapat dimanfaatkan yang telah, secara tersirat, dicantumkan di (1) dan (2); masyarakat ideal (Kerajaan Tuhan yang dijanjikan) dan jalan menuju ke sana (Kristenisasi untuk meluaskan Kerajaan yang telah disebut terlebih dahulu).  Konsep ini, kami yakin, dimiliki hampir setiap ideologi dan agama dan ini menjadi alasan kami memilih konsep ini (masalah penamaan hanyalah permasalahan representasi semata walaupun kami menerima setiap pembacaan yang muncul nantinya).

Di depan kata “ouikumene”, kami mencantumkan kata “personal”. Kata ini dicantumkan dengan maksud bahwa ouikumene harus dimulai dari ouikumene subyektif. Sederhananya, ini digunakan untuk memunculkan pertanyaan-pertanyaan; “siapa sih saya?”, “tertindaskah saya?”, “saya harus bagaimana agar bebas?”. Setiap usaha menuju ouikumene harus dimulai dari sini (baca: yang subyektif) karena apabila masing-masing individu tidak punya suara, tidak menjadi subyek, ouikumene tidak lain akan berlaku sebagai rezim penindas yang lain. Sebuah ouikumene harus dimulai dari kesetujuan atas sebuah hal yang sama tapi tanpa paksaan. Akan menjadi usaha tanpa paksaan apabila semua orang memiliki suara ketika membaca dirinya yang kemudian berbagi dengan yang lain; yang kami yakin pasti setuju dengan, minimal, satu unsur pembentuk subyektifitas di dalam diri kita. Berbekal tercapainya kesetujuan antar subyek ini, sebuah ouikumene dapat dirancang. Di sini, pembangunan ouikumene yang kami incar berbeda dengan pembangunan ouikumene a la Alexander Agung yang jelas menindas orang-orang yang harus mereka samakan dengan paksa lewat penaklukkan.

Jalan menuju ouikumene a la kami ini sebenarnya telah dibuka oleh dua orang suami-istri teoritisi Post-Marxis, Ernesto Laclau dan Chantal Mouffe, dengan teori mereka bahwa setiap pengorganisiran adalah tarik-menarik antara obyektifitas dan subyektifitas yang mana, pada mulanya, harus dimulai dari pembangunan subyektifitas berdasarkan persebaran wacana yang hidup di mana-mana. Di sini, alih-alih membubarkan perlawanan yang disatukan karena sebuah ideologi, teori maupun kepercayaan besar, mereka sebenarnya justru menghidupinya karena batasan-batasan perlawanan menjadi ambruk. Sekali, masing-masing subyek bertemu dan setuju akan satu hal, yang besifat sementara karena kekuasaan terus berkembang, mereka akan mampu terus melawan karena yang mereka perjuangkan adalah subyektifitas mereka dan bukan sebuah realitas buatan yang tadinya menindas mereka. Usaha Laclau dan Mouffe adalah usaha menjembatani antara subyektifitas dengan ideologi (teori), kepercayaan bahkan agama sehingga subyektifitas tadi benar-benar tersuarakan dan kebebasan menjadi mungkin. Dalam semangat ini, Personal Ouikumene kami berada.

Tidak satupun individu yang bebas dari cengkeraman kekuasaan. Bahkan, ekstrimnya, kita ada karena kekuasaan (dikuasai). Contoh paling sederhanya telah ditulis di awal bagaimana orang-orang dikelompokkan berdasarkan wacana-wacana yang menghakimi dan tidak memberikan ruang untuk bersuara. Pengorganisiran (subyek) perlawanan tidak boleh mengikuti nalar yang sama dengan nalar kekuasaan yang hampir-hampir anonim seperti di atas. Ia tidak boleh menggunakan nalar penaklukkan pada subyek. Ia harus membuka diri dan meruntuhkan kemanunggalan perlawanan  yang justru melemahkan perlawanan itu sendiri karena ia akan menaklukkan subyek-subyek yang sesungguhnya merupakan realitas kekuasaan serta ketersebarannya. Jika kekuasaan terus berganti rupa, begitu juga seharusnya perlawanan. Jadi, di sini kami, dengan seni dan ruang bermain nan cair yang selalu dipunyainya, membicarakan diri kami sekaligus mengajak bicara pada semua untuk mencari diri dan mengajak bertemu dengan bertanya:
“apakah kamu dikuasai?”
*Alwi Atma Ardhana