Personal Oikumene : Mencari Tempat Berpijak

Penyeragaman selalu memicu respons. Fenomena penyeragaman itu antara lain kerap disebut dengan istilah globalisasi, yakni melesapnya batas-batas yang khas ke dalam sebuah dunia yang seragam.

Globalisasi bukan suatu proses yang bebas nilai. Ideologi neoliberalisme yang menggerakkan globalisasi menyediakan seperangkat simbol, norma dan citra yang merekatkan individu-individu ke dalam sebuah identitas kolektif. Ia menjadi kekuatan dominan yang memengaruhi hidup manusia dan membuat mereka kehilangan kontrol atas diri dan lingkungannya.

Resistensi muncul guna untuk mengambilalih kembali kontrol yang hilang tersebut. Maka di tengah fenomena penyeragaman itu, di belahan dunia manapun selalu muncul kelompok maupun individu yang sengaja menampilkan identitas yang berbeda dari komunitas besar yang melingkupinya. Homogenisasi berjalan seiring dengan heterogenisasi. Dan ketika kuasa penyeragaman itu beroperasi di wilayah diri yang paling personal (self), maka resistensi pun akan muncul di wilayah personal.
Kegiatan bertajuk ‘Personal Oikumene’ ini bisa dibaca dalam konteks tersebut. Dalam dunia yang dikuasai ideologi besar, acara ini mencoba mengajak setiap individu untuk menemukan ‘rumahnya’ sendiri (personal oikumene) sebagai tempat berpijak.
Ideologi besar itu bisa berupa apa saja : sistim ekonomi, pendidikan, hingga kultur yang dampaknya bisa dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Dari tempat berpijak itu mereka diharapkan akan bisa memaknai situasi di luar rumahnya sehingga dia bisa menjadi individu, bukan sekadar bagian dari sekumpulan manusia yang terseret arus.
Di sini respons itu diungkapkan dalam bentuk karya seni, semata karena para pelakunya adalah para pegiat seni. Lewat karyanya, sejumlah seniman yang terlibat dalam kegiatan ini mencoba berbicara tentang persoalan yang mereka hadapi.
Sebagian besar seniman yang terlibat dalam kegiatan ini masih berusia muda. Mereka tidak menempuh pendidikan seni secara formal dan sedang dalam proses mencari bentuk dalam berkesenian. Dalam dunia yang memuja simbol dan status, kondisi itu membuat posisi mereka sebagai seniman seolah-olah tidak setara dengan mereka yang menempuh pendidikan seni secara formal. 
Mereka berkarya dengan gayanya sendiri. Mencoba mencari tempat berpijak pada level yang sangat personal.
Rizky Hidayat yang lulusan sekolah broadcasting, misalnya, membuat sketsa menggunakan tangan kiri. Pada salah satu karyanya, ia bahkan perlu dengan tegas mengatakan bahwa coretan itu ia buat dengan tangan kirinya. Menggunakan tangan kiri menjadi wujud pencarian diri bagi Rizky. Ia menerobos keterbatasan dan ketidakmungkinan dalam dunia ‘normal’ yang bertangan kanan karena sebenarnya ia tidak kidal.
Nurify, satu-satunya peserta perempuan dalam pameran ini, adalah lulusan akuntasi yang aktif melukis dan sudah banyak mengikuti pameran. Ia rajin membuat aneka suvenir yang dijual sendiri dalam semangat ‘do it yourself’.
Berbeda dengan keduanya, Nur Wiyanto saat ini masih belajar seni patung di Institut Seni Indonesia. Di usianya yang masih muda, ia mencari bentuk dengan mengolah materi yang mudah didapat di lingkungan tempat tinggalnya di daerah Imogiri Bantul. Lokalitas menjadi strateginya dalam berkarya.Ia mendapatkan inspirasi saat melihat neneknya menyapu halaman menggunakan sapu lidi. Materi berupa lidi itu lantas ia olah secara hati-hati menjadi patung yang menampakkan tekstur lidi dari ijuk daun kelapa.
Perupa lainnya dalam pameran ini yakni Fran Anggoman, Asep Prasetya, Piko Sugianto dan Sarwoto ‘Kotot’ juga berkarya dengan semangat yang kurang lebih sama. Karya mereka mewakili setiap upaya dan strategi personal yang telah dicoba guna menemukan tempat berpijak itu.   
Dalam pameran ini mereka berkumpul dan bercakap-cakap tentang bagaimana cara mereka mencari dan menemukan ruang berpijak itu. Bersama mereka, ada sejumlah penyair dan musisi yang turut membagikan personal oikumene lewat karyanya masing-masing. Semuanya masih berusia muda.
Melengkapi semangat muda itu, acara yang digelar di tengah kampung ini pun digarap oleh sekumpulan panitia yang sebagian besar masih duduk di bangku SMA. Mereka bekerja secara sukarela, tanpa dukungan dari konglomerat maupun lembaga donor manapun.
Semangat pameran ini adalah belajar. Maka pameran ini bisa menjadi ruang berbagi dan membuka diri. Dari situ biasanya akan muncul kemungkinan-kemungkinan baru yang menginspirasi. Siapa tahu.
Idha Saraswati