Membicarakan perempuan, konstruksi gender dan kesetaraan memang tidak ada habisnya. Barangkali karena persoalan ini berkenaan dengan diri beserta tubuh, kesadaran, imajinasi dan hal-hal lain yang ada didalamnya. keberadaannya pun bisa ditemukan dimana-mana, dari dalam hati hingga kamar mandi. Disini kita tidak akan membicarakan bagaimana perempuan dibedakan dari laki-laki. Karena bisa saja, cara berpikir demikianlah yang akan melanggengkan diskriminasi.
Secara fisik, ada perbedaan yang bisa dijelaskan secara biologis. Akan tetapi ketika membicarakan keperempuanan, kita menempatkan perempuan sebagai kategori gender yang dibentuk oleh budaya, tradisi, masyarakat dan banyak hal dari luar diri. Yang perlu kita ingat ialah, bahwa setiap tempat tidak memiliki kesamaan budaya ataupun tradisi. Sehingga konstruksi gender di tiap tempat satu sama lain berbeda.

Begitu pula ketika membicarakan kesetaraan, seakan tidak pernah ada habisnya. Generasi kita bukanlah yang pertama yang mempersoalkan kesetaraan. Di wilayah hukum dan ekonomi, kita bisa membicarakan kesetaraan secara lebih mudah, karena ada ukuran yang konkrit dan kasat mata dalam mencapai kesetaraan antara lelaki dan perempuan. semisal persamaan gaji dan jaminan tercapainya hak. Sewaktu Clara Zetkin dan Rosa Luxemburg menggagas Kongres Perempuan Internasional pada kali pertama, mereka sudah mengagendakan perjuangan hak perempuan dalam mengikuti pemilihan umum, supaya perempuan terlibat dalam proses penentuan kebijakan, yang berada di ranah publik. Tidak berhenti disitu, perjuangan juga diperluas ke ranah perjuangan kelas dalam menghancurkan sistem kapitalisme. Ya, baik Zetkin maupun Luxemburg memang keduanya penganut Marxis. Akan tetapi, kita bisa jadi apa saja dan terlibat dalam perjuangan apa saja.
Jika membicarakan perjuangan dan keterlibatan politik, maka kita tidak bisa melupakan beberapa capaian dari organisasi perempuan, seperti gerwani, gerwis, istri sedar, dll. Keaktifan perempuan terlibat di dunia politik dan di ranah publik, kemudian menjadi salah bagian dari penentu kebijakan publik, tentu bisa dilihat sebagai suatu pencapaian. Akan tetapi, bagi para perempuan yang memilih untuk berkeluarga, kemudian hidup bersama suami dan anak, serta memutuskan untuk menjadi seorang istri sekaligus ibu yang baik tidak bisa dilihat sebagai perempuan yang kalah. Memang tidak dapat dipungkiri, bahwa keberadaan perempuan yang kebanyakan di ruang domestik (rumah) tidak semata-mata hadir begitu saja sebagai pemberian ilahi. Ada proses sejarah panjang yang pada akhirnya membagi kewajiban antara perempuan dan laki-laki, dimana perempuan harus bertanggungjawab di sektor domestik atau rumah, sedangkan laki-laki memiliki tanggung jawab di ruang publik. Pembagian wilayah kewajiban ini tentu saja berbeda di tiap tempat.

Seperti yang sudah saya singgung diatas, bahwa keterlibatan politik perempuan bisa kita lihat sebagai suatu pencapaian. Bahkan, dalam tahap ini sudah bisa kita katakan bahwa para perempuan yang sudah aktif terlibat di ranah politik tersebut sudah melampaui permasalahan identitas perempuan atau laki-laki. Mereka sudah tidak sibuk dengan definisi, bagaimana menjadi perempuan atau bagaimana menjadi laki-laki. Menjadi perempuan atau laki-laki tidak menjadi halangan dalam mengaktualisasikan kediriannya, ekspresi dan suaranya. Dalam kondisi seperti ini, bisa jadi membicarakan kesetaraan sudah tidak perlu lagi. Tidak ada keluhan perempuan sebagai korban yang pada akhirnya menuntut kesetaraan. Meski tidak bisa dipungkiri, di beberapa tempat masih terdapat dominasi.

Kesetaraan menjadi sesuatu yang rumit lagi di wilayah kultural yang tidak kasat mata. Rumit dan pelik bukan berarti tidak mungkin untuk dibicarakan dan dipersoalkan. Dan, menurut saya itulah fungsinya kita berbicara dan berinteraksi. Supaya ada kerumitan yang sedikit terurai dan terbagi. Jika membahas persoalan perempuan di wilayah kultural, maka yang kita temui ialah representasi perempuan. Representasi perempuan tersebut sering kita jumpai dimana saja.
Representasi Perempuan
Hampir setiap hari, televisi menyuguhkan berbagai hal yang membentuk kesadaran tentang bagaimana dan apa itu perempuan. Tidak hanya televisi, praktik keseharian pun demikian. Sehingga tidak jarang, identitas perempuan tersebut dibentuk oleh kombinasi dari berbagai hal yang membentuk makna. itulah yang disebut sebagai representasi perempuan, atau sederhananya ialah gambaran tentang bagaimana perempuan seharusnya. Itu tidak disampaikan secara langsung kadang. Akan tetapi sering dan tidak jarang mampu masuk ke alam bawah sadar kita. representasi merupakan sebuah proses pembentukan makna dari sesuatu yang kita pikirkan melalui bahasa (Hall, 1997). Bahasa berfungsi menghubungkan, menerjemahkan ide/gagasan abstrak dengan tanda dan simbol yang mewakili sesuatu yang kita pikirkan. Bahasa ialah medium untuk memaknai sesuatu, memproduksi dan mengubah makna. Representasi mengandung soal pelibatan (inklusi) dan penyingkiran (eksklusi) dan di dalam keduanya terkandung persoalan kekuasaan (Baker, 2005).

Representasi perempuan, yang salah satunya ialah menempeli berbagai macam atribut ataupun identitas serta kewajiban pada diri perempuan, merupakan proses yang melibatkan kuasa. Ketika mendefinisikan berarti didalamnya terdapat kehendak untuk mengatur. Elemen penyusunnya bisa banyak hal, mulai dari agama, keluarga, karya sastra, seni, dll. Contohnya, dalam kisah rama-shinta, dimana rama digambarkan sebagai lelaki yang kuat, melindungi dan aktif. Sedangkan shinta yang sebaliknya. Dari sini kita bisa lihat, bagaimana imaji dan representasi perempuan masuk hingga ke imaji yang tertuang dalam karya seni. Atau sebaliknya, seni lah yang justru memiliki kekuatan untuk mempengaruhi. Untuk memutuskan siapa yang mempengaruhi siapa, kiranya perlu pembicaraan yang lebih jauh, tetapi minimal, seni bisa kita maknai sebagai ranah imajinasi tanpa batas. Sehingga menjadi jalan untuk melampui imajinasi yang sudah ada berserakan di sekitar kita. didalamnya, kita bisa turut serta dalam menyusun representasi perempuan. bukankan emansipasi harus dimulai sejak dalam pikiran dan tataran imajinasi?

Yang jelas, representasi perempuan bisa kita maknai sebagai ruang untuk menyusun makna. Karena makna menjadi perempuan tidaklah seragam, tidaklah sama satu dengan yang lainnya. disini kita juga tidak perlu membuat definisi tunggal tentang perempuan. kehadiran representasi perempuan melalui sebuah proses, dan itulah yang perlu disadari. Menyadari adanya proses pembentukan imaji tentang perempuan, sehingga kita bisa ikut berpartisipasi dalam menyusun makna. Dan disinilah titik negosiasinya. Siapa yang melakukan? Harus diri perempuan itu sendiri. berangkat dari mana? Dari kegelisahan. Mengingat karya seni merupakan ruang yang lebar dalam menyuarakan ruang perempuan. meminta dan merengek bukan bahasa kita. Di ruang seni, kita membentuk kesetaraan tersebut dengan mengusahakannya. Karena pada dasarnya, representasi tak lebih dari medan perang dalam memperebutkan makna.
Akhir kata, berkarya dengan apa saja, dan berangkat dari apa saja. mari mengolah gelisah!

Lisistrata Lusandiana