Maka yang dipercaya adalah perubahan zaman yang tak bisa dihindari.
Bagaimana kepercayaan itu muncul bisa dilihat dari sebuah persepsi yang mana nyata-nyata mengubah hidup seseorang. Persepsi memegang peran penting yang mengarah pada pilihan dan tanggungjawab. Persepsi inilah yang mengambil andil juga dalam pemaknaan.

Untuk percaya dibutuhkan sebuah usaha yang cukup agar terjadi sebuah keterhubungan yang cukup pula. Di zaman ini percaya rasanya tidak mudah, di sana-sini terjadi hal-hal yang membuat kepercayaan memudar. Kepercayaan menjadi mahal. Percaya tetaplah mungkin terjadi.

Percaya adalah rasa yang perlu dikembangkan karena tanpa kepercayaan sebuah hasil yang baik tidaklah mungkin. Dalam bukunya berjudul Menuju Masyarakat Komunikatif menurut Habermas, F. Budi Hardiman menunjukkan rasa percaya timbul dan terus terjaga karena ada komunikasi. Komunikasi yang baik menciptkan ruang yang baik pula.

Orang bisa percaya apa saja, percaya takhayul, percaya hantu, percaya UFO, percaya teori konspirasi, sah-sah saja. Namun yang dimaksud percaya di sini lebih mengarah pada trust dan believe yang bergulat dalam hati. Demikianlah percaya mengandung dua makna yang saling berkaitan kadang bertentangan.

Yang penting dalam trust dan believe adalah emansipasi. Emansipasi menjadi pokok keprihatinan masyarakat kita saat ini, ketika banyak hal tidak berjalan sesuai dengan yang seharusnya. Emansipasi masyarakat perlu dimulai dengan komunikasi yang menunjang terbentuknya ruang komunikasi lain, seperti komunitas, kelompok, dan lain-lain yang mengarah pada perkembangan persepsi ke arah positif.