*reporter : A. Brama Adintya

Tiga penampil dari masing-masing pembawaan jiwa musik yang berbeda: Sri Plecit, FSTVLST (baca: festivalist), dan Mocca menjadi line-up helatan PASSION 2015, sebuah pagelaran dari teman-teman SMA 8 Yogyakarta. Hingga akhirnya saya sampai di panggung utama dan lalu agak tertegun karena di tengah Sri Plecit yang sedang high, mengajak audience untuk lompat-lompat ringan mengikuti irama ska, namun yang terajak tetap lebih memilih tidak beranjak dari duduk manisnya menatap layar henpon. Oke, malam ini sepertinya akan lebih dipenuhi oleh SwingingFriends yang menahan rindu setelah terakhir tahun lalu (kalau tidak salah) sang idola singgah di kota Sri Sultan Hamangku Bawono Kaping Sepuluh ini. Hihihi.

Sri Plecit tetap menjaga asa untuk membawa penonton bergoyang dalam basuhan irama ska. 7 nomor dibawakan, nuansa bibir pantai dibawakan dalam jogetan si vokalis yang polahnya nggak ketulungan di atas panggung. Hingga anthem andalan “Datanglah Kemari” menjadi nomor terakhir yang dibawakan oleh generasi anyar skena ska lokal Yogyakarta itu. Semua tunai dan penonton tetap duduk manis seperti menonton wayang kulit. Hhmmm …

Gelaran malam itu berlanjut pada babak “hampir rock, nyaris seni”. FSTVLST dengan formasi plus trombone-nya menjadi yang selanjutnya menghentakkan PKKH UGM malam itu dari rundungan atmofsir ‘layatan’. “Hey, ayo dong! Jangan sungkan-sungkan. Serius amat? Kalo serius itu layatan, kalo ben-benan jangan serius-serius lah!”, celoteh Farid setelah membawakan nomor “Orang-orang di Kerumunan”; “Bulan, Setan atau Malaikat” serta 1 lagu yang dicomot dari album Jenny, “Manifesto Postmodernism”. Selebihnya dan apa adanya,  jathilan rock itu  tetap berlangsung di tengah lautan penonton yang pasif.

Saya tidak pernah melihat FSTVLST sekeras ini berusaha membujuk penontonnya untuk sedikit menjadi murni dan bebas barang sebentar saja. Farid sampai terlihat disorientasi, Roby tertawa sendiri, dan Mufid jaim as always. Sedikit candaan dan interaksi dengan audience dicoba untuk menghidupkan kerumunan tak berkerumun itu. Dimulai dari aksi meminjam topi dan jilbab penonton (serius! walaupun untuk meminjam jilbab, Farid gagal memperolehnya) hingga mendadak memparodikan band kompatriot mereka Shaggydog dengan membawakan “Hey Ho Lets Go”-nya Ramones sebagai pengiring ke nomor “Satu Terbela Selalu”. Total ada 8-9 lagu yang dibawakan FSTVLST. Lagu paling satir sepanjang masa versi On The Spot saya, “Ayun Buai Zaman” menjadi nomor penutup dan mengantarkan gelaran itu pada babak yang ditunggu-tunggu.

Dan akhirnya hasrat para SwingingFriends yang sedari tadi ditahan, membuncah. Tirai merah yang terbuka langsung disongsong permainan flute Ariani yang melantunkan single “I’m Think I’m in Love”, membuat denyut panggung malam itu (akhirnya) berdegup. Saya tidak terlalu excited sebenarnya dengan suguhan puncak malam itu. Hingga  “My Way”-nya Frank Sinatra yang dibawakan dengan Mocca way’s akhirnya membuat saya berusaha menempatkan diri untuk mencoba menemukan titik hinggap lebih jauh agar dapat menikmati band yang kemarin Januari baru saja menelurkan album “Home” itu.

Selanjutnya, lagu-lagu yang sudah lebih akrab seperti “Secret Admirer”, “Say What You Wanna Say” hingga “Hanya Satu “ menjadi beberapa nomor yang menggenapi 11 song-list yang dibawakan malam itu. Overall, Mocca tampil manis. Menjadi penutup pamungkas dari salah satu helatan panggung yang sedang marak-maraknya digelar oleh para pelajar di Yogyakarta. Salah satu panggung di antara persaingan panggung-panggung pensi (miskin konsep) lain, yang hanya saling beradu mendatangkan band-band papan atas dengan harapan dapat semakin meningkatkan nilai tawar nama almamater masing-masing. Tidak lebih dari itu.