Reporter: Yoshua Endyanto

oka_astawa_1

Meski hujan mengguyur sepanjang hari, sebuah agenda seni bertajuk OKAARTPROJECT 2014 terus berjalan dan mendapat apresiasi dari orang-orang yang terus berdatangan tanpa terpengaruh cuaca malam itu.

I Gede Oka Astawa adalah seorang seniman asal Bali yang menjadi inisiator OKAARTPROJECT 2014 dan Minggu malam kemarin (23/2) dimanfaatkan untuk menggelar rangkaian acara pembuka pameran tunggalnya berjudul |+dialog+|: ‘Apa dan bagaimana seni rupa saya’. OKAARTPROJECT 2014 itu sendiri merupakan projek keempatnya setelah sukses menggelar acara serupa di tahun-tahun sebelumnya.

oka2Pendopo Kersan Art Studio dipilih sebagai venue acara ini, tempat yang cukup nyaman dan besar bagi rombongan komunitas seni yang diundang oleh Oka Astawa untuk melakukan kerja kolaborasi on the spot. Alasan Oka Astawa mengundang mereka untuk terlibat dalam kerja kolaborasi ini sebab ia tidak ingin keseniannya dipandang berdiri sendiri karena proses berkesenian adalah sebuah proses kolektif. Untuk itu sebelumnya Oka telah melakukan aktivitas saling bertukar ide dan konsep sebagai bentuk proses kreatif bersama dengan beberapa komunitas. Projek kolaborasi dimulai sekitar pukul 20.00 diiringi dengan kata sambutan oleh Oka Astawa sendiri dan sang kurator, Hendra Himawan.

Hendra menjelaskan bahwa acara ini merupakan soft opening dari pameran Oka Astawa yang akan digelar di Ruang Pamer Taman Budaya Yogyakarta tanggal 11-12 Maret 2014 mendatang. Dalam pameran tersebut, nantinya Oka Astawa juga akan membawa karya dari kolaborasi pada malam itu untuk dipertunjukkan sebagai bentuk respon komunitas dengan gayanya masing-masing. Komunitas-komunitas yang terlibat dalam proses kerja kolaborasi ini adalah Tangan Reget, Gigi Nyala, Kukomikan, dan Perupa Indonesia Timur.

Komunitas Tangan Reget menggunakan spon hati sebagai media karyanya dengan tema ‘Inequality with Trust’ yang merespon ikon-ikon siluet yang sering ditampilkan Oka Astawa. Gigi Nyala mengangkat ideologi kebersamaan sebagai tema dengan merespon balok-balok kayu yang kemudian akan dibentuk angka 8. Kukomikan sebagai satu-satunya komunitas street art yang diundang menjadikan tema kompetisi dalam merespon barang-barang bekas sebagai media karya dengan gaya menggambar spontan khas mereka.

Sedangkan Perupa Indonesia Timur mempersiapkan obor yang akan direspon dengan corak khas Indonesia Timur yang nantinya akan digunakan sebagai properti dalam sebuah pertunjukan budaya Indonesia Timur di grand opening pameran |+dialog+|: ‘Apa dan bagaimana seni rupa saya’. Matheus, sebagai koordinator komunitas Perupa Indonesia Timur mengatakan, suatu kebanggaan besar dapat berkolaborasi dengan Oka Astawa yang memiliki jam terbang tinggi, selain itu kesamaan terkait budaya yang diangkat dalam karya menjadikan kolaborasi ini menjadi sangat menarik.

oka3
Rangkaian acara ARTPROJECT 2014 dan pameran |+dialog+|: ‘Apa dan bagaimana seni rupa saya’ menjadi sarana Oka Astawa untuk mengajak para seniman muda untuk merefleksikan diri ketika mereka berhadapan dengan subjektivitas diri sebagai individu seni yang bebas dengan tuntutan-tuntutan lingkungan yang ada di sekitar mereka. Sehingga Oka menegaskan bahwa ideologi menjadi suatu hal yang penting bagi para seniman agar terbentuk sikap dan mental yang kokoh dalam mengkaji apa yang dilihat dan dirasakan dalam proses berkesenian pada setiap diri seniman muda.

 

*foto: Yoshua Endyanto