“Kamu ini pemuda harapan bangsa,” ucap Ibu sewaktu aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar.

Saat itu pertanyaan yang berkeliaran di kepalaku adalah ‘ada apa dengan pemuda sehingga menjadi harapan bangsa?’ Meminjam pandangan Morgenthau, seorang pemikir politik internasional, sumber daya manusia (pemuda) merupakan kekuatan nasional. Sederhananya, jika suatu negara memiliki banyak pemuda, maka itu adalah modal besar untuk memenangkan perang dan pembangunan nasional. Meski pernyataan ini mendapat kritikan, sebab kini banyak pemuda namun hanya menjadi beban negara. Akhirnya, kuantitas (jumlah) yang banyak belum tentu memberikan kontribusi yang berarti (kualitas).Pertanyaan kemudian, apakah pemuda menjadi penting hanya karena masih muda tenaganya, masih kuat juga otaknya (kemungkinan besar) masih segar?

86 tahun lalu, pemuda Indonesia berikrar tidak hanya mengenai eksistensi pemuda, lebih dari itu, konsep being (menjadi) pemuda yang seharusnya dimulai saat itu. Perjalanannya, ada yang terus tumbuh, mekar dan berbuah, namun ada juga yang layu dan akhirnya tiada. Perdebatannya tidak jarang mengenai dahulu pemudanya lebih progresif, maju juga patut diteladani dibandingkan sekarang. Tidak ada yang salah dengan judgement seperti itu – berwujud pertentangan antar generasi. Usia 26 tahun, Bung Hatta telah memikirkan dasar-dasar “Indonesia Merdeka”. Muhammad Yamin di usia 25 tahun mengusulkan gagasan “Persatuan dan Kebangsaan Indonesia” yang saat itu memahami bahwa keberagaman etnis dan bahasa di negeri ini dipersatukan oleh bahasa Indonesia – bukan satu-satunya bahasa. Dahulu, para pemuda mengorbankan waktu, materi, tenaga, bahkan nyawa untuk membebaskan Indonesia dari penjajahan. Dahulu pemuda lebih betah ‘berperpustakaan’ dan berdiskusi dibandingkan berkumpul ketawa ketiwi. Dahulu, pemuda harus dihilangkan demi menyampaikan bahwa negeri ini tak demokratis. Masih banyak lagi fakta dengan kata ‘dahulu’ yang mengawalinya.

Lalu bagaimana dengan sekarang? Usia produktif (pemuda) di Indonesia kini mencapai kuantitas tertinggi. Jika Indonesia itu adalah pemuda, maka negeri ini pasti kuat serta pikiran yang masih segar. Faktanya, pemuda kini lebih sering juga berlomba-lomba mengisi ruang bersenang-senang seperti mall, cafe, atau media sosial. Kini, para mahasiswa lebih senang beraktualisasi – gagah dengan almamaternya – di acara beberapa stasiun televisi hanya untuk tertawa dan bertepuk tangan sesuai arahan. Pertanyaannya selanjutnya, apakah kebanyakan pemuda seperti itu? Dahulu, Soekarno memimpin Algemene Studieclub yang hanya sekelompok kecil pemuda – mengonseptualisasikan Indonesia ke depannya. Jadi tak perlu ragu jika suatu perubahan hanya dimulai dari sedikit orang. Untungnya, kini, tak sedikit pemuda Indonesia yang memenangkan kompetisi internasional di beberapa bidang studi, selain itu kreativitas pemuda kini semakin melonjak. Menyalahkan sebagian besar pemuda yang masih bersenang-senang juga tidaklah bijak. Akan lebih bermanfaat jika mengajak sedikit demi sedikit pemuda untuk memajukan negeri ini berdasarkan keahlian dan minat yang beragam.

Sepintas, pemuda dahulu dan kini memiliki permasalahan, tantangan, dan cara menanggapinya yang tidak melulu sama. Mengklaim generasi mana yang terbaik sungguh tak bijak karena pemuda dahulu dan kini sama-sama memiliki spirit yakni ‘muda’. Mengutip Tan Malaka, ‘pemuda memiliki kemewahan terakhir, yakni idealisme’. Pemuda – baik dahulu atau kini – memiliki idealisme yang menjadi pedoman dalam berperilaku dan tak bisa digantikan dengan uang ataukah kuasa. Setiap pemuda harus menciptakan sejarahnya sendiri. Memisahkan masa lalu dan kini adalah tidak mungkin karena pemuda adalah situasi regenerasi, yang muda akan tua dan akan muncul yang muda, begitulah siklus alam – selama dunia masih berputar.

Meresapi Sumpah Pemuda 28 Oktober, baik generasi kini dan dahulu, mari menjadi muda!

ABDULLAH FIKRI ASHRI
PENGGIAT KEDAI BUKU JENNY