Saat masih duduk manis di bangku sekolah, aku membayangkan suatu saat akan berdiskusi, berdialektika dengan mahasiswa lain guna menghidupkan iklim intelektual di kampus. Barangkali selain aku, banyak pula yang menganggap mahasiswa sebagai golongan terpelajar bin intelektual. Bayangan mereka, di kampus para mahasiswa sibuk berdiskusi soal teori-teori filsafat, soal hukum-hukum eksakta, atau isu-isu sosial-politik kekinian. Begitu pula aku, sempat berpikir begitu. Tetapi.

Beberapa tahun berlalu, sejak masih jadi eksistensialis Sartrean yang lugu, hingga jadi mahasiswa “entah apa” seperti sekarang ini, aku belum merasa terpuaskan. Berkali-kali aku menyeret tubuh ini melintasi papan-papan informasi di fakultas, pun memaksa mata memelototi beranda jejaring sosial, menanti undangan acara diskusi yang keren-keren (setidaknya untuk ukuranku). Di papan informasi jarang sekali kutemui, sedang di jejaring sosial banyak. Tapi, ah! Acaranya di Jakarta, di sana-sini, yang terdekat paling-paling Yogyakarta. Lah, kampusku? Hanya.

Kampusku, Universitas Sebelas Maret Surakarta, justru rajin melestarikan acara-acara motivasi, kepemimpinan, kepemudaan, dan semacamnya. Aku tidak tahu pasti bagaimana iklim kampus lain, dan bagiku tak terlalu penting untuk membandingkannya. Sebab, aku tidak sedang berusaha menggeneralisasi, melainkan sekadar menunjukkan kecenderungan saja. Aku pribadi memang kurang cocok dengan acara-acara “semangat buta” semacam itu. Justru kegelisahanlah yang dapat mendasari pergerakan secara lebih kuat. Aku yakin, pergerakan anak muda seumpama ketjilbergerak pun berangkat dari kegelisahan akan realitas dan situasi Kota Yogyakarta. Sungguh.

Namun, maklumi saja dulu masifnya acara-acara motivasi, kepemimpinan, dan sebagainya itu. Barangkali pihak penyelenggara, yang rupanya para aktivis mahasiswa, berharap acara-acara itu sanggup mencetak pemimpin-pemimpin baru. Agaknya aktivis mahasiswa merasa butuh alternatif kepemimpinan yang pada gilirannya menjadi dinamo perubahan di negeri ini. Saking butuhnya, sampai-sampai presiden yang baru menjabat tujuh bulan saja dicerca habis-habisan. Padahal, bayi saja perlu sembilan bulan untuk lahir ke dunia yang absurd ini. Meski.

Barangkali bukan hanya aktivis mahasiswa di kampusku, di tempat lain mungkin masih banyak yang melimpahkan kesuksesan pergerakan pada satu orang. Tentu, orang yang dimaksud adalah pemimpinnya, alias sang dinamo. Akui saja, sejarah negeri ini membuktikan bahwa kita sering mengukur sesuatu yang sebetulnya kompleks, sekadar dari tokohnya saja. Buktinya sampai hari ini masih banyak yang membandingkan gaya kepemimpinan Sukarno, Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati, SBY, Jokowi, dan tentunya: Muhammad. Padahal, konteks masing-masing berbeda, tapi jarang dijadikan acuan. Bisa bayangkan Sukarno memimpin di zaman ini? Atau Jokowi jadi presiden di era Orde Baru? Coba.

Semoga aku salah, tapi rasanya banyak dari kita yang lupa bahwa perubahan tak serta-merta lahir dari sesosok dinamo. Okelah bila kita bicara Hitler, Lenin, Napoleon, dan sebagainya. Tapi, bukankah ada orang-orang seperti Machiavelli, Nietzsche, Marx, atau yang terdekat: Tan Malaka, Wiji Thukul? Nama-nama yang disebut terakhir ini tak akan cocok disebut dinamo. Sebab, mereka bukan bos besar yang punya basis massa yang loyal. Masing-masing bukan pemimpin dari sebuah umat tertentu. Lalu mereka itu apa? Ketimbang dinamo, Machiavelli hingga Wiji Thukul lebih sahih disebut dinamit. Bahkan Nietzsche pernah berujar, “aku bukan manusia, aku dinamit!” Boom!

Kendati hampir tanpa basis massa, nyatanya “ledakan” yang dibikin para dinamit bisa jauh lebih hebat ketimbang pergerakan berdinamo. Mengapa? Untuk menjawabnya, kita perlu merogoh-rogoh pendasaran keduanya, baik dinamo maupun dinamit. Dinamo yang lahir dari acara-acara motivasi, kepemimpinan dan lain sebagainya, hanya akan hebat dalam aspek manajerial. Argumentasi sering tertinggal entah di mana, sampai tak sempat mencarinya, mungkin lupa. Lain hal dengan dinamit, yang untuk menciptakan ledakan besar perlu asupan bubuk mesiu yang banyak. Maka lumrah bila para dinamit identik dengan budaya literer. Begitu.

Pemuda hari ini bisa memilih, menjadi dinamo atau dinamit. Kalau punya basis massa, juga komunitas yang solid, mending jadi dinamo. Dengan catatan, jangan hanya mengandalkan aspek manajerial dalam bertindak, argumentasinya juga harus dikuatkan. Kalau jadi dinamit, hati-hati. Ada yang menganggap ledakan sebagai karya seni, namun banyak juga yang merasa “terganggu”. Jika mau jadi dinamit, meledaklah dengan indah. Jangan mejen sebelum terbakar! Bangunlah danwangunlahHalah.

***

Udji Kayang Aditya Supriyanto, pemilik blog jelata adiksikopi.blogspot.com. Suka membaca buku, mendengarkan musik, menonton film, dan memimpikan kamu.