Segalanya mengalir, kata Herakleitos sang filsuf Yunani kuno.
Ya, memang demikian hidup. Mengalirnya kehidupan tak lepas dari mengalirnya sang waktu. Waktu mengalir dan hidup pun juga demikian.
Namun timbul pertanyaan: Hidup mengalir untuk apa?

Di sinilah tantangan hadir, tantangan untuk menjawabnya. Tantangan ini ada di benak mereka yang berpikir dan merasa.
Hidup memang mengalir tetapi mengalir untuk apa?
Ada berbagai versi jawaban, ada yang menjawab mengalir untuk entah, ada juga yang menjawab mengalir untuk mengalir itu sendiri.

Ada yang terlupakan dari dua jawaban tadi jika dihadapkan pada pertanyaan lain: lalu bagaimana dengan berkarya? Berkarya dalam mengalirnya hidup ini adalah keniscayaan.

Jadi jangan-jangan hidup ini mengalir untuk berkarya. Jawaban ketiga inilah tantangan sesungguhnya. Hidup mengalir untuk berkarya. Dengan berkarya, hidup ini menjadi berarti. Berkarya artinya membuat hidup ini bermakna. Mengalirnya hidup jadi punya arti.

Mengalirnya hidup jadi tidak hambar, namun penuh makna. Makna hidup didapat dari karya dan pertemuan dengan yang lain. Dengan karya, pertemuan dengan yang lain terjadi, dan lewat pertemuan itulah hidup ini jadi berarti, punya makna.

Maka sebetulnya Herakleitos mengajarkan bahwa segalanya mengalir penuh makna. Herakleitos mengajak untuk berpikir dan merenungi makna kehidupan.