Catatan kuratorial Choir of The Mischief
Pameran ketjilbergerak bersama Bonggal Hutagalung

 

Sudah beberapa tahun belakangan Yogyakarta diramaikan dengan aktivitas-aktivitas ketjilbergerak. Tidak susah untuk menandai atau mengenali program-program kolektif ini. Program-program ketjilbergerak sering melibatkan banyak orang, masif dalam penggunaan media (diskusi/kelas, seni rupa jalanan, video klip dan peristiwa) dan cenderung memiliki pengemasan program yang populer, sebagaimana ditujukan untuk anak muda. Untuk menandai sebuah program atau merespon sebuah isu, ketjibergerak biasanya juga mengampanyekan tagline-tagline berwujud frasa, misalnya: Berbeda itu Biasa, Wani Sumpah Wani Obah (berani bersumpah, berani bergerak), Jogja Ekletik dan lain-lain.

Keberadaan ketjilbergerak tidak bisa dilepaskan dari wacana anak muda, khususnya di Yogyakarta. Anak-anak muda pasca reformasi menjadi subyek, sekaligus mereka ajak bersama untuk memikirkan ulang mengenai apa yang menjadi kepentingan, urgensi atas keberadaan mereka saat ini. Pendiri sekaligus eksponen utama menjadikan ketjilbergerak sebagai institusi pendidikan alternatif. Oleh karena berorientasi pendidikan dan bersifat alternatif, kolektif ini banyak menggunakan metode-metode yang unik untuk mencapai kualitas pedagogik sebagaimana para pendidik di institusi pendidikan formal.

ketjilbergerak tidak menggunakan ruang kelas sebagaimana sekolah-sekolah pada umumnya, meskipun pada akhirnya beberapa program yang mereka laksanakan mengondisikan peristiwa layaknya sebuah kelas. Secara berkala mereka mengumpulkan anak-anak muda seumuran SMA untuk berkumpul di suatu tempat dalam program Kelas Melamun dan Ben Prigel. Kelas Melamun bertujuan menguatkan kapasitas abstraksi dan gagasan anak muda. Program ini pada akhirnya meluas, tidak hanya menyasar pada pengenalan pada pemikiran-pemikiran yang umum dikenal dalam kelas filsafat, melainkan juga pada gagasan penciptaan: bertujuan pada bagaimana anak-anak muda mengenali profesi seniman, musisi dan lain-lain dan mengenali posisi mereka sebagai aktor-aktor kebudayaan yang penting dalam kehidupan. Ben Prigel (Agar Terampil) merupakan kelas di mana anak-anak muda dikenalkan dengan keterampilan-keterampilan. ketjilbergerak melihat adanya kekurangan keterampilan anak-anak muda saat ini yang membuat mereka sangat bergantung pada banyak hal. Kelas Melamun dan Ben Prigel nampak mewakili slogan khas yang mewakili visi ketjilbergerak: Siapa saja yang muda, kreatif, berani dan berdikari adalah ketjilbergerak.

Slogan itu juga menandai cairnya keanggotaan ketjilbergerak dan tidak menandai secara definitif siapa saja anggotanya. Meskipun ada orang-orang yang secara rutin datang dan selalu membantu mengerjakan program-programnya, keanggotaannya dibina secara organik dan dinamis. Kita bisa melihat bahwa entitas ketjilbergerak fleksibel dan diupayakan untuk lebih bersifat sebagai “gagasan”. Bagi ketjilbergerak “keberadaan” tidak didasarkan pada keberadaan aktor melainkan karya. Maka dari itu kita bisa melihat beberapa nama eksponen ketjilbergerak hampir tidak pernah tampil dalam publikasi-publikasi program, kecuali nama-nama yang berkolaborasi dalam program tersebut.

Slogan ini juga mewakili pelaksanaan program-program ketjilbergerak yang selalu melibatkan negosiasi dan membuka diri untuk bekerjasama dengan institusi apapun, sepanjang sesuai dengan visi mereka. Mereka pernah bekerjasama dengan insititusi pendidikan tinggi, ruang alternatif sejenis, jaringan kampung dan bahkan galeri komersial.

Katie Bruhn, seorang sarjana berkebangsaaan Amerika Serikat meneliti keberadaan kolektif ini dan menyatakan bahwa ketjilbergerak mempraktikkan apa yang disebut sebagai “socially engaged art” (seni rupa keterlibatan sosial). Bruhn mengutip Grant Kaster menyatakan bahwa hasil kerja mereka mencerminkan konsep atau bentuk seni yang “dialogis“, yakni mendorong peserta untuk mempertanyakan identitas yang tetap, kesan stereotip (stereotypical images), dan sebagainya, melalui proses pertukaran dan dialog kumulatif dan bukan melalui satu wawasan sesaat yang dipicu oleh gambar atau objek tertentu.[ Katie Bruhn, Seni Terlibat Sosial dan Ekspresi Publik: Warisan Taring Padi dan Apotik Komik, hal. 11.]

Bruhn melanjutkan bahwa proyek-proyek ketjilbergerak adalah jenis seni rupa tertentu yang didasarkan dialog, keterlibatan sosial dan produksi jaringan yang terus berkembang dari para anggotanya.[ Katie Bruhn, Small Movements, Big Impact: ketjilbergerak and Social Engagement in Yogyakarta’s Art World, hal. 4.]

Sejarawan dan kritikus seni rupa Claire Bishop menyebut seni keterlibatan sosial sebagai salah satu terminologi dari praktik-praktik relasional dalam medan yang meluas dari bentuk-bentuk seni rupa. Selain seni rupa keterlibatan sosial, terdapat juga seni rupa berbasis komunitas, seni rupa kolaboratif, seni rupa dialogis, seni rupa partisipatoris, intervensionis, seni rupa berbasis riset dan lain-lain.[ Claire Bishop, The Social Turn: Collaboration and its Discontents, Artforum, (Februari 2006), hal. 179.]

Namun, selanjutnya Bishop menyatakan keraguannya akan aspek estetik dari bentuk seni rupa ini. Kritik seni rupa menjadi salah satu disiplin yang terimbas keraguan itu. Ia menyatakan bahwa dengan bentuk keterlibatan sosial, seni rupa telah melewati sebuah tikungan sosial (social turn). Maka dari itu aspek-aspek sosial dan etika memperluas disiplin keilmuwan estetika yang menjadi tulang punggung kritik seni rupa.[ Ibid, hal. 180.]

Setelah itu Bishop menawarkan pada bagaimana bentuk seni rupa ini dinilai. Perhatian kritik seni rupa pada akhirnya makin intensif pada bagaimana kolaborasi dilakukan. Dengan kata lain, seniman makin banyak dinilai saat mereka menyediakan baik atau buruk model kolaborasi. Segala potensi yang mengekskploitasi subyek yang mereka presentasikan akan menjadi sebuah kritik bagi seniman-seniman yang menganut bentuk seni rupa ini.[ Ibid.]

Oktober tahun lalu, ketjilbergerak menginisiasi proyek Bocah Jogja Nagih Janji (BJNJ). Proyek itu menghadirkan ratusan anak-anak dan pemuda dari beberapa kampung di kota Yogyakarta (Juminahan, Wonocatur, Notoyudan, Pringgokusuman, Popongan Baru, Surokarsan, Ngadiwinatan, Wirogunan dan Mejing) beserta anak-anak muda dari beberapa komunitas antara lain komunitas Balet, sanggar Cirakaka, Englicious, Mediasastra, pesepeda dan street art. Anak-anak muda ini dengan menggunakan pupur wajah beraneka warna mengokupasi Titik Nol Yogyakarta dengan sebuah seni peristiwa. Ratusan anak-anak itu tanpa segan dan takut bermain bola, lompat tali, egrang dan permainan tradisional lain di trotoar dan tengah jalan. Dengan memakai pupur, selayaknya seorang aktor pantomim mereka mengidentifikasi sebagai kolektif yang menandai bahwa keresahan itu tidak hanya dialami oleh individu atau golongan.
Titik Nol merupakan kawasan strategis. Ia menghubungkan Alun-Alun Utara dan Keraton yang mewakili simbol kebudayaan Yogyakarta di selatan dan Jalan Malioboro di utara. Jalan Malioboro, selain pusat perdagangan dan wisata (yang banyak mengundang wisatawan dari berbagai kota di Indonesia) juga merupakan kawasan pemerintahan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Di sekitar Titik Nol juga banyak berdiri bangunan-bangunan bersejarah seperti Istana Gedung Agung, Benteng Vredeburg dan lain-lain. Secara kosmologis kawasan ini juga menjadi bagian dari jalur imajiner yang menghubungkan Gunung Merapi, Tugu Yogya, Keraton, Kandang Menjangan dan Pantai Selatan pada satu garis lurus.

Di Titik Nol yang menghubungkan simbol-simbol khas Yogyakarta ini, proyek Bocah Jogja Nagih Janji tidak hanya menyela lalu lintas di kawasan yang selalu ramai itu, namun juga situasi sehari-hari kota Yogyakarta yang makin lama tidak berjalan ke arah semestinya, namun tidak disadari oleh banyak warganya. Gagasan ini muncul sebagai respons atas masifnya pembangunan hotel-hotel di Yogyakarta yang nampaknya banyak mendatangkan kerugian dari segi lingkungan maupun sosial.

Secara sekilas proyek ini dilihat sebagai tindakan aktivisme yang bisa dinilai dari sudut pandang etik. Dan batasan nilai berpatok pada moral, yakni panggilan nurani untuk mengintervensi ruang bersama (jalan raya) untuk dijadikan sebagai tempat bermain.

Melalui proyek BJNJ kita dapat menengarai beberapa karakteristik khas ketijilbergerak. ketjilbergerak seringkali hanya menghamparkan gagasan untuk kemudian direspon oleh banyak orang menjadi banyak karya. Hal ini menandai karakter lain dari ketjilbergerak yang mengaburkan batas antara penonton dan pencipta. Disadari atau tidak oleh mereka, hal ini menandai pula konsep kepengarangan (authorship) yang unik. ketjilbergerak selalu membagi authorship dengan cara selalu bernegosiasi dengan mitra kerja mereka. Proyek BJNJ menggarisbawahi hal ini. Pada awalnya ketjilbergerak justru diundang oleh anak-anak muda beberapa kampung di Yogyakarta yang resah akan maraknya pembangunan hotel. Setelah melakukan beberapa pertemuan, tercetuslah ide untuk membentuk Jaringan Kampung Yogyakarta dengan sebuah proyek okupasi Titik Nol dengan sebuah proyek seni peristiwa.

Sebelumnya ketjilbergerak memang sudah sering bekerja dengan kampung-kampung tersebut. Dengan sadar pula mereka datang ke masyarakat di kampung-kampung di Yogyakarta untuk mendengarkan permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh anak-anak muda di kampung itu. Setelah itu mereka menggagas proyek yang akan dikerjakan secara kolektif. Oleh karena itu, proyek mereka terhindar dari potensi eksploitasi yang menempatkan kolaborator hanya sebagai asisten ataupun artisan.

Latar belakang tersebut penting untuk menjadi dasar bagi pameran ini, di mana secara unik ketjilbergerak justru melalui tikungan liris, (kebalikan dari tikungan sosial yang disebutkan oleh Bishop) karena dipengaruhi oleh kecenderungan kekaryaan Bonggal Hutagalung. Pameran ini masih menandai ciri khas ketjilbergerak selama ini yang berkecenderungan aktivisme yang lekat dengan keberadaan anak muda.

 

Aktivisme dan Anak Muda Hari Ini
Banyak yang menyatakan bahwa sejarah pembentukan dan perjalanan bangsa ini ditentukan oleh aktivisme anak muda. Salah satu peristiwa penting yang mewakili hal tersebut adalah munculnya semangat kebangsaan melalui pernyataan Sumpah Pemuda. Peristiwa itu menandai tumbuhnya semangat perubahan nasib bangsa, yang juga dipengaruhi oleh bertambahnya tingkat literasi dan intelektual anak-anak muda. Pada jaman pra kemerdekaan kita banyak melihat arsip-arsip di mana anak muda menginiasi gerakan-gerakan (tak jarang bawah tanah), menulis-menerbitkan majalah, berpolitik untuk mengampanyekan gagasan kebangsaan sekaligus terbebas dari penjajahan. Pasca kemerdekaan keterlibatan anak-anak muda dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tak juga lekang.

Pameran ini sebenarnya menandai pula semangat aktivisme, meskipun dalam kecenderungan yang lain. Choir of the Mischief menandai kesadaran bermain-main dalam menanggapi narasi-narasi besar dan mitos-mitos mapan yang telanjur dipercaya oleh banyak orang. Istilah “mischief” diniatkan untuk mewakili karakter-karakter khas anak muda yakni nakal dan jahil. Karya-karya dalam pameran ini merupakan respons terhadap peristiwa-peristiwa, teks-teks, dan narasi-narasi dan sosok-sosok yang telah menjadi bagian dari sejarah. Respons tersebut tampil dalam beberapa modus dalam pameran ini. Pertama, karya-karya dalam pameran ini menonjolkan narasi-narasi kecil yang sering kita lewatkan dalam memahami sejarah/narasi besar serta menjukstaposisikan hal-hal yang merepresentasikan kebudayaan tinggi dengan yang bersifat sehari-hari. Selain itu, beberapa hal modus-modus tersebut bersifat parodi, di mana rujukan yang dipinjam kemudian “dipelesetkan” untuk menghasilkan makna baru.

Jika dikaitkan dengan aktivisme anak muda, pameran ini hendak menyodorkan gagasan bahwa aktivisme tidak hanya mewujud secara patriotik dan bergelora, layaknya yang dilakukan oleh anak-anak muda Angkatan 45, 66 dan 98. Karya dalam pameran ini yang misalnya mengutip kepingan-kepingan sejarah untuk dikemas secara jenaka, usil, skeptis dan mungkin sedikit kurang ajar. Hal itu dilakukan dengan tujuan mengajak anak-anak muda meningkatkan intelektualitasnya untuk tidak hanya merespon sejarah secara personal, melainkan juga secara aktif membentuk kebudayaan mereka sendiri. Pandangan ini didasarkan pada tantangan bagi anak muda semakin besar terutama dikaitkan dengan globalisasi, kapitalisme dan perkembangan teknologi.

Modus-modus tersebut sedikit-banyak menandai kekhasan anak muda saat ini yang berjarak dengan “realitas”. Hal ini juga merefleksikan adanya demokratisasi ideologi dan pengetahuan yang membuat anak-anak muda memposisikan diri untuk bergumul dan selalu resah dengan dunia mereka sendiri. Ditambah dengan kemudahan pada akses informasi dan kecanggihan teknologi, anak-anak muda saat ini membentuk kutub-kutub kecil dengan beragam ketertarikan dan identitas.

Karya Disposable Heroes terdiri dari beberapa action figure yang berbeda-beda. Karya ini menggarisbawahi kecenderungan ketjilbergerak yang sering melibatkan publik untuk turut serta menjadi pengarang/aktor. Pada masa persiapan pameran ini, ketjilbergerak meminta sumbangan mainan dari para pengikut (follower) mereka di media sosial. Di luar dugaan banyak pengikut mereka yang menyumbangkan mainan-mainan tersebut. ketjilbergerak mendapatkan ratusan action figure, namun untuk alasan artistik hanya beberapa di antaranya yang terpasang.

Disposable Heroes

Mainan dapat dianggap sebagai representasi idola, dan dalam beberapa hal dapat yang merepresentasikan pahlawan. Action figure yang memiliki nilai kepahlawanan tersebut tentu saja relatif. Saat masih kanak-kanak seseorang bisa menganggap action figure sebagai pahlawan. Namun seiring kedewasaan bertambah, mainan-mainan itu ia tinggalkan. Mainan-mainan ini adalah pahlawan-pahlawan yang telah ditinggalkan para pengidolanya. Mainan-mainan tak terpakai ini secara estetik “didaurulang” untuk diangkat derajatnya lagi sebagai karya seni.

Like a Rolling Stone menampilkan intensi Bonggal dan ketjilbergerak yang ingin menampilkan narasi kecil yang biasanya terlewatkan dalam narasi besar. Kutipan “Kalau pria mau kuat, dia harus banyak makan taoge, jangan minum bir” berasal dari buku In Memoriam Soekarno karya Rosihan Anwar.

Like a Rolling Stone

Di bawah tulisan itu terdapat foto gambar Sukarno dan istrinya yang sedang bermain dengan seorang anak. Dalam karya ini keberadaan citraan kecambah hadir dalam beberapa kualitas. Yakni kualitas ide (melalui tulisan), citra kecambah melalui gambar (drawing) dan citra merk jamu ekstrak kecambah dengan media sablon. Baik Sukarno maupun kecambah tidak hadir secara nyata, hanya melalui gagasan atau konsep. Hubungan Sukarno dengan kecambah juga hanya hadir secara imajiner. Karya ini masih memiliki semangat yang serupa dengan Disposable Heroes, meskipun dengan kecenderungan yang lain. Bahwa konsep penghargaan kita atas sejarah yang mungkin hanya terbatas pada sosok sebaiknya dipikirkan ulang. Sejarah berguna untuk hari ini jika gagasan-gagasan baik di masa lalu dapat kita maknai di masa kini.

Karya Just Another Job memiliki penekanan khusus pada bagaimana yang bersifat sehari-hari dapat menjadi penting bergantung pada kerja-kerja kebudayaan yang dikonstruksikan manusia, begitu pula dengan sejarah. Sejarah dapat bersumber dan bergantung pada kepentingan apapun. Rolling door di toko-toko pada akhirnya juga menjadi saksi sejarah. Coretan vandal, bekas-bekas reklame merupakan fragmen-fragmen sejarah yang selalu berganti secara dinamis di atas rolling door.

Just Another Job

Pada konteks selanjutnya, yang bersifat sehari-hari dapat memiliki kualitas menjadi karya seni melalui tangan seniman dan keberadaannya di dalam infrastruktur seni rupa, seperti galeri. Kemungkinan ini coba diajukan oleh ketjilbergerak dan Bonggal ketika mereka membingkai rolling door ini selayaknya lukisan.

Tumble and Twirl menampilkan citraan-citraan tangan terkepal yang merepresentasikan peristiwa-peristiwa demonstrasi yang pernah terjadi di dunia. Karena kemampuan regenerasinya, anak-anak muda dalam segenap daya upayanya meruntuhkan nilai-nilai yang mapan untuk membangun nilai yang baru. Saat nilai yang baru itu mapan, anak-anak muda di generasi berikutnya akan melawan dan meruntuhkan nilai-nilai yang sudah susah payah dibangun sebelumnya.

Tumble and Twirl

Keberadaan anak kecil yang memakai jas hujan berwarna kuning di atas tangan-tangan itu menandakan adanya sebuah tujuan. Keberadaan anak kecil yang memakai jas hujan kuning menandai sifat kelucuan yang nampak menihilkan tujuan atau nilai mulia dari gerakan-gerakan demonstrasi itu. Pada akhirnya situasi hiruk-pikuk demonstrasi akan selalu terjadi hingga menjadi sebuah keniscayaan yang nyaris seperti takdir, apapun tujuannya.

Karya Siapa yang Mau Hidup Seribu Tahun Lagi? menampilkan gagasan bagaimana pemikiran tokoh-tokoh yang hadir dalam salah satu keping sejarah tampil dalam sebuah gagasan, terutama melalui salah satu pernyataannya: benda adalah satu rantai, satu karma yang merantai hidup kita. Pernyataan itu diucapkan oleh Tan Malaka dalam bukunya, Madilog. ketjilbergerak dan Bonggal merespon ungkapan itu dengan menghadirkan secara konkret kotak putu, makanan khas berbahan dasar tepung beras dan kelapa yang masih banyak dijajakan di Yogyakarta. Putu adalah makanan lokal, ada di mana-mana dan tanpa paten. Putu seperti pengetahuan yang organis yang hidup di masyarakat.

Siapa yang Mau Hidup Seribu Tahun Lagi

Ungkapan Tan Malaka itu hadir di dalam satu kotak putu yang dihadirkan secara konkret. Secara simbolik ungkapan itu hadir seperti gagasan selayaknya bahan bakar uap yang mematangkan putu hingga matang. Pada akhirnya karya ini mengutamakan gagasan, terlebih dengan keberadaan citraan kotak putu yang berada di sekeliling kotak putu yang konkret.

Karya ini menyatakan bahwa gagasan seharusnya bersifat organis yang dapat dinikmati dan berguna bagi siapa saja, seperti sosok Tan Malaka yang organis yang selama hidupnya tidak dikooptasi kekuasaan.

Karya Oleh-oleh dari Desa II terinspirasi dari Oleh-oleh dari Desa karya Semsar Siahaan. Karya ini menampilkan mural serupa lukisan-lukisan mooi indie. Keindonesiaan pernah dipertautkan dengan gagasan eksotisme, yakni melihat Indonesia sebagai sang liyan yang dapat dieksploitasi oleh bangsa barat (Belanda). Maka dari itu keindonesiaan diilhat melalui apa yang tidak dimiliki bangsa barat yakni iklim tropis, pegunungan, pohon kelapa, sungai dan sawah. Seiring semangat kebangsaan yang muncul, banyak pihak yang menentang kecenderungan lukisan ini karena menjadikan bumi Indonesia sebagai obyek, yang dari jauh terlihat indah, namun jika didekati menampilkan penderitaan-penderitaan manusia akibat penjajahan.

Oleh-Oleh dari Desa II

Meluas dari gagasan mooi indie, Oleh-oleh dari Desa II membicarakan pandangan antroposentrisme. Pandangan itu mencirikan manusia yang menjadi pusat, termasuk saat memaknai alam. Alam akhirnya dilihat dan ditakar melalui kacamata ilmu pengetahuan yang pada akhirnya masuk ke tataran eksploitasi. Eksploitasi ini diyakini tetap terjadi hingga sekarang meskipun dalam bentuk yang lain, dengan konsep subyek-obyek yang jauh lebih kompleks. Keberadaan toples-toples kaca berikut makanan olahan (permen, manisan, sereal dan kopi). Makanan-makanan olahan itu juga representasi eksploitasi alam yang berhubungan dengan konsep energi. Ilmu pengetahuan berimplikasi pada makin kompleksnya tindakan mengonsumsi makanan umat manusia yang akhirnya makin banyak mengonsumsi energi yang mengurangi keseimbangan dan daya dukung alam untuk kehidupan.

Karya ╮(^▽^)╭ mengutip satu kalimat dalam dokumen Surat Kepercayaan Gelanggang – Seniman Merdeka Indonesia (1950). Manifesto ini dikeluarkan oleh kelompok seniman Gelanggang yang beranggotakan penyair dan perupa seperti Chairil Anwar, Henk Ngantung, Asrul Sani, Mochtar Apin, Rivai Apin, Baharudin Marasutan dan M. Akbar Djuhana. Kelompok Gelanggang juga merepresentasikan sebentuk aktivisme anak muda dalam merespons jaman. Mereka saat itu, kendati masih berusia sangat muda, tanpa ragu berkiprah dalam Polemik Kebudayaan yang dimulai sejak 1930. Saat itu pencarian keindonesiaan terbagi atas dua kubu: pertama yang mendasarkan tradisi dan kedua yang mendasarkan pada kemodernan.

╮(^▽^)╭

Kelompok Gelanggang termasuk pada kudu kedua dengan menyatakan: “Kami adalah ahli waris jang sah dari kebudajaan dunia dan kebudajaan ini kami teruskan dengan tjara kami sendiri.” ketjilbergerak dan Bonggal sangat terinspirasi oleh kalimat ini dan merasa kalimat tersebut relevan dengan semangat yang khas anak muda. Namun mereka juga sedikit merasakan ironi karena pada akhirnya banyak anak muda sekarang yang tidak mengetahui tentang keberadaan dokumen tersebut. Pada akhirnya mereka mengutip kalimat tersebut, menambahkan beberapa citraan yang merujuk ke emoticon dalam media sosial. Ikon-ikon tersebut menandai bahwa ada intensi merespon kalimat legendaris itu dengan yang bersifat sepele.

Kutipan kalimat dan emoticon itu kemudian distensil di puluhan titik di kota Yogyakarta. Stensil-stensil itu akhirnya berpeluang melahirkan banyak pemaknaan bagi orang yang melihat atau membacanya, baik tua dan muda. Kalimat itu juga sengaja dikutip dengan ejaan lama sesuai dengan dokumen aslinya yang pada akhirnya mungkin akan membingungkan publik dari mana dan dari siapa pencipta stensil ini.

Puluhan stensil ini didokumentasikan dalam video yang terpajang di ruang pamer. Ditampilkan dengan perpindahan frame yang cepat, karya ini mencoba menjukstaposisikan gagasan dengan percepatan informasi. Karya ini menampilkan bagaimana polemik identitas keindonesiaan yang bersejerah itu itu relevan dengan situasi sekarang ini yang lekat dengan percepatan informasi yang menandai semangat jaman ini.

 

Kenakalan dalam Sebuah Gagasan
Secara sekilas pameran ini mengecilkan modal sosial aktivisme ketjilbergerak. Pameran ini mewakili sebuah kecenderungan menarik. Secara garis besar, gagasan mischief yang menjadi tajuk pameran tidak tampak dalam karya-karya dalam pameran ini. Jika kita kaitkan secara harafiah, mischief lekat dengan citra urakan, berandalan dan lain-lain. Sebaliknya, citraan yang tampak dalam pameran ini justru rapi, cenderung bersih, minimal dan menampilkan kesunyian.

ketjilbergerak memiliki kecenderungan untuk menampilkan seni sebagai media pendidikan anak muda. Mereka menempatkan seni dalam konteks sosial. Sebaliknya, karya-karya Bonggal memiliki kecenderungan untuk lari dari yang sosial menuju ke yang personal. Karya-karya Bonggal merupakan wujud eskapisme dari hiruk-pikuk, ketimpangan, permasalahan sosial yang ia lihat sehari-hari.

Melalui pembacaan karya di atas, pameran kolaborasi ini juga menjadi kesempatan bagi ketjilbergerak untuk mengalami tikungan liris. Hal ini mengurangi kelugasan karya-karya mereka selama ini, meskipun dalam beberapa karya, ciri khas mereka seperti penggunaan teknik stensil dan mural yang identik dengan idiom seni rupa jalanan masih terlihat. Kolaborasi ini juga masih menandai kekhasan ketjilbergerak dalam menggunakan teks, meskipun bukan dalam konteks propaganda. Hal itu dipengaruhi oleh kekaryaan Bonggal. Menurut Bonggal, pesan yang ingin disampaikan oleh seniman harus disaring, diperam dalam sebuah ruang yang soliter yang dalam sehingga didapatkan esensi-esensi yang mewujud pada kualitas-kualitas formal tertentu. Kesempatan kolaborasi ini ini mewakili ruang perenungan baru bagi keduanya.

Penggunaan benda jadi, benda temuan dan teks pada karya-karya dalam pameran ini di satu sisi sebenarnya menyiratkan aspek antiliris. Menurut Sanento Yuliman, benda-benda temuan menyiratkan kecenderungan keaktualan dan kekonkretan. Jika lirisisme menyaring dan menjelmakan pengalaman dan emosi ke dunia imajiner, maka dalam kecenderungan ini seakan-akan seniman menghindari penyaringan dan transformasi. Melalui benda-benda temuan, pengalaman hendak dicapai sekonkret mungkin.[ Sanento Yuliman, Seni Lukis Indonesia Baru, Sebuah Pengantar, (Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta, 1976), hal. 40-41.]

Benda temuan dan benda jadi sebenarnya berakar dari tradisi seni rupa modern Barat. Digagas melalui karya Marchel Duchamp, benda jadi menantang pemahaman kita perihal kapasitas suatu benda sebagai benda seni. Benda temuan manasuka dapat diklaim sebagai sebuah karya seni. Dalam titik ini, seni rupa pada akhirnya menuju ke proses dematerialiasi dan makin bersifat sehari-hari. Provokasi Duchamp akhirnya bermuara pada seni rupa konseptual dan pop art. Benda-benda temuan sebagai obyek konkret sesungguhnya juga merupakan alternatif dari banyaknya karya-karya yang bernuansa liris yang dianggap mengucilkan diri dan maka dari itu dianggap tidak merepresentasikan sehari-hari.

Namun benda jadi dan benda temuan sebenarnya juga menyimpan potensi lirisnya sendiri. Karya-karya dalam pameran ini mewakili keputusan artistik dan estetik yang merupakan buah dari proses pemikiran dan perenungan. Melalui penggunaan benda-benda jadi dan temuan, karya-karya mereka memiliki kualitas liris dan antiliris di saat yang sama dan di sisi yang lain masih menekankan aspek-aspek aktivisme anak muda saat merespon narasi-narasi besar dengan yang bersifat sehari-hari. Maka dari itu, karya-karya dalam pameran ini menggarisbawahi sebuah pencapaian baru, yakni makin dipentingkannya gagasan dan konsep. Karya-karya dalam pameran ini menandai kembali istilah “mischief”, yakni secara dekonstruktif meleburkan batas antara teks, citraan, imajinasi dan gagasan dalam menilai aspek materialitas dalam karya seni.

 

Chabib Duta Hapsoro
Kurator Pameran