Bila disuruh menyebutkan apa kesan pertama yang saya dapat setelah mengikuti 2 rangkaian acara dari Event Membatalkan Keperempuanan, maka kesan itu dapat direpresentasikan oleh kata: Feminisme. Meskipun panitia acara yang saya ajak ngobrol di Twitter menolak bila event yang digelar dalam rangka perayaan hari perempuan internasional ini disebut sebagai feminisme, dan lebih suka bila Membatalkan Keperempuanan (MK) disebut sebagai sebuah upaya menawarkan perspektif baru akan berbagai hal mengenai keperempuanan, terlepas dari skema besar feminisme atau konsep-konsep keperempuanan dari keilmuan yang sudah terkenal sebelumnya. Namun menilik dari pameran seni rupa dan diskusi yang saya hadiri, secara pribadi saya menyimpulkan bahwa MK masih mengesankan spirit feminisme dalam pokok utamanya.

 

Dominasi Para Perempuan

Spirit feminisme ini dapat dilihat dari beberapa karya yang dipamerkan dalam pameran seni rupa MK. Bertempat di Sangkring Art Space, pameran seni rupa MK diikuti oleh 11 perupa perempuan. Dengan karya yang (Dalam opini saya) masih berkutat dalam menggugat patriarki, menegaskan identitas keperempuanan, maternalitas tubuh perempuan, DLL.

Adalah lukisan surreal Lashita Situmorang bertajuk “Tubuh yang Bertumbuh” menceritakan maternalitas tubuh keperempuanan dan tumbuhnya sosok perempuan menjadi paying pelindung. Maternalitas tubuh perempuan ini juga dihadirkan Wahyu Adin Wiedyardini dalam “Don’t Worry I’m Here.” Sementara itu “Midnite Blues” dari Utin Rini dengan corak warna pop art dan penampakan Marilyn Monroe menegaskan penolakan pada represi seksual perempuan, bahwa orgasme seksual perempuan itu lumrah dihadirkan dan bukan hal tabu. Spirit Feminisme juga ditegaskan dalam karya Bonita Margaretha bertajuk “Perempuan Dominan.” Karya ini seolah makin menggaris-tebalkan poin dimana menggugat status dan identitas keperempuanan adalah seperti harga mati bagi feminisme, yang menolak tunduk pada konstruksi dan ingin perempuan menjadi dominan seperti halnya lelaki menjadi dominan di tatanan dunia selama ini. Kemudian ada “Butterfly Face” yang berwarna ceria dari Lia Mareza, menceritakan transformasi yang memang selalu menyenangkan. Analogi transformasi dari kupu-kupu digunakan Lia untuk menceritakan transformasi keperempuanan. Sedangkan “Inner Skill” Nurify menghantui observer dengan misteri dan ilusi abstraknya sehingga munculkan pertanyaan “kenapa kedua perempuan itu terus menerus memandang tangannya sendiri? Dalam tangan itukah “Inner Skill”yang dimaksud Nurify berada?”

Kemudian dalam event lanjutan diskusi MK yang saya hadiri, poin yang dibahas memang masih berkutat diseputaran kelamin, permasalahan gender dan identitas, konstruksi keperempuanan yang harus tunduk pada patriarki. DLL. Dan semua itu adalah perihal yang diurusi feminisme selama ini: berupaya menggugat konstruksi dan menunjukkan bahwa perempuan juga mampu mendominasi.

 

Menggugat Konstruksi

Lalu salahkah jika perempuan menggugat konstruksi dan menolak disubordinansi? Tentu tidak salah, pada dasarnya perempuan menggugat konstruksi dalam rangka mencapai kesetaraan, sesuatu yang dimentahkan habis-habisan oleh patriarki dan konstruksi yang dibangun mengenai perempuan selama ini. Namun seperti Judith Butler katakan, bahwa menurut feminis kontemporer yang merumuskan pemikirannya dari dialektika Hegel itu gerakan feminisme yang ada semenjak jaman Simone de Beauvoir hingga sekarang ini hanya kurang tepat dan salah sasaran. Penggugatan pada konstruksi dan menolak subordinansi sesungguhnya hanya menghabiskan daya dan waktu feminisme berkutat di dua hal tersebut. Sehingga membuat feminisme terjebak dalam lingkaran setan perdebatan panjang antara hal keperempuanan dan patriarki/konstruksi. Enggan melakukan sesuatu yang sesungguhnya lebih substansial dan tepat sasaran.

Konstruksi akan keperempuanan yang lemah adalah problema yang terus menerus digaungkan sepanjang diskusi MK. Yang akhirnya membuat diskusi sore itu berputar dalam perdebatan panjang mengenai konstruksi yang maha dahsyatlah yang selama ini menjadikan perempuan dinomor-duakan dan dilemahkan. Namun berkaca pada buah pemikiran Antonio Gramsci mengenai hegemoni, dapatlah kita simpulkan seandainya ada sebuah konstruksi luar biasa yang menjadikan identitas keperempuanan lemah, sesungguhnya konstruksi tersebut dapat ditolak dan tak harus diterima. Sebab menurut Gramsci hegemoni hanya dapat terjadi bila ada konsensus antara pihak yang melakukan hegemoni dan pihak yang terhegemonik. Jika konstruksi subordinansi perempuan adalah hegemoni itu, tentu feminisme seharusnya dapat menolak hegemoni dengan cara menolak konsensus, mengabaikan sama sekali konstruksi itu dan melakukan hal lain yang lebih berguna, niscaya hegemoni dari konstruksi subordinansi itu akan rontok dengan sendirinya.

Poinnya adalah, feminisme seharusnya meninggalkan perdebatan dan penolakan pada konstruksi yang menghabiskan banyak tenaga, waktu, dan pemikiran. Karena toh identitas (kredibilitas) akan muncul dengan sendirinya apabila ada hal besar nyata dilakukan. Untuk menggambarkan mana yang nyata tersebut barangkali feminisme harus berkaca pada kisah hidup penyanyi Waljinah.

 

Waljinah dan Dominasi Perempuan

Tentu ada banyak perempuan perkasa lain di luar sana yang sebenarnya layak dijadikan contoh, namun saat ini hanya satu nama perempuan ini yang muncul dalam benak saya untuk mewakilkan dominasi perempuan. Adalah Waljinah, seorang penyanyi keroncong legendaris asal Solo yang menegaskan dominasi perempuan tersebut dengan cara nyata, bukan sekadar memperdebatkan identitas dan menolak konstruksi. Waljinah adalah seorang feminis, berkaca dari tindakannya memperjuangkan hak perempuan. Namun agar dianggap sebagai perempuan perkasa, Waljinah tidak menghabiskan waktunya memprotes lelaki yang memiliki daging bertulang di selangkang selalu menjajah perempuan. Atau memperdebatkan konstruksi lemah selalu dilekatkan pada perempuan. Waljinah menghindari apa yang diperjuangkan feminisme lama tersebut, alih-alih Waljinah justru menyanyi, menulis lagu, dan lirik lagunya bercerita mengenai kekuatan perempuan.

Ambil contoh dalam lagu Walang Kekek dimana Waljinah menceritakan bagaimana kondisi sosial di Surakarta saat itu. Konstruksi sosial menyatakan perempuan Surakarta harus lebih rendah dari para lelaki, namun Walang Kekek dari Waljinah hadir mementahkan konstruksi tersebut, tanpa perdebatan panjang. Lagu Waljinah yang laris di pasaran secara tidak langsung merontokkan konstruksi itu, liriknya yang gamblang menceritakan bahwa perempuan Surakarta lebih dominan karena mengatur perekonomian melalui perdagangan kain batik saat para lelaki sibuk berjudi mencapai konsensus. Tenarnya Waljinah dengan lagunya merontokkan hegemoni konstruksi yang terbangun selama ini, bahkan dengan bantuan Presiden Soekarno yang dimasa itu adalah penguasa (hegemoni) terbesar, yang memberikan penghargaan pada Waljinah, akhirnya Waljinah menjadi hegemoni baru tersebut yang dielu-elukan masyarakat.

Seharusnya Feminisme berkaca pada Waljinah (dan banyak perempuan perkasa lainnya: Kartini, Madame Marie Curie, Lady Diana, Margaret Thatcher, DLL) yang enggan menghabiskan waktunya berkutat di perdebatan panjang menolak konstruksi sosial yang melemahkan perempuan. Mereka lebih memilih melakukan sesuatu, sesuai bidang yang mereka kuasai. Karena mereka yakin bahwa setelah melakukan sesuatu yang besar, konstruski sosial akhirnya akan mengakui status dan identitas keperempuanan mereka sebagai perkasa dan setara, tanpa perlu berdebat panjang.

Terkait dengan Membatalkan Keperempuanan (yang menolak disebut feminisme). Dengan seluruh perupa wanita yang dihadirkan di pamerannya adalah perempuan, juga diskusi yang ada banyak dihadiri perempuan. Seolah menegaskan bahwa MK menyimpulkan selama ini dunia seni membangun konstruksi bahwa perupa perempuan lemah dan tak boleh berkumpul satu galeri dengan perupa lelaki. Bila poin utama ini yang dikedepankan, memberi ruang pada perupa perempuan yang tersubordinansi, bukankah MK masih saja berkutat diperdebatan konstruksi dan identitas keperempuanan. Lalu kita (terpaksa) menyimpulkan Membatalkan Keperempuanan adalah proyek lanjutan feminisme, dan belum menawarkan perspektif baru dalam memahami perempuan sebagaimana yang mereka maksud.

Semoga dapat menjadi bahan pemikiran bersama bahwa untuk menjadi perempuan perkasa tak harus sibuk menggugat konstruksi sosial, lakukan saja hal besar sesuai bidang yang dikuasai. Maka lelaki ataupun konstruksi sosial akhirnya akan tunduk dengan sendirinya tanpa perlu didebat panjang. Pertanyaan terakhir adalah: maukah perempuan (feminisme pada khususnya) melakukan hal itu agar menjadi besar? Atau memilih berkutat di upaya memperdebatkan identitas dan konstruksi sosial?

 

Aris Setyawan
Yogyakarta, 15 Maret 2012