“Because I’m a lady, I have my own language.”
Gabrielle Solis, ‘Desperate Housewifes’

 

Hantu bernama ‘keperempuanan’
Perjumpaan dengan gagasan tentang keperempuanan bagi saya memang selalu menjadi hal yang menarik sekaligus menggelisahkan, seperti tidak pernah ada habisnya. Isu-isu ini menjadi semacam teror di benak kepala saya. Begitu juga dengan projek pameran kali ini. Yang jelas menghantarkan pada momen reflektif atas kedirian keperempuanan saya juga.
Pada proses persiapan pameran ini, saya merasa demikian menikmati obrolan dan diskusi yang terjadi. Sebuah dialektika yang dekat dengan kehidupan kami sendiri. Yang remeh-temeh, tapi justru membawa kami pada proses pencarian jawaban yang tidak mudah. Lagi-lagi: “Ya, proses pencarian kedirian merupakan pertanyaan yang paling menggelisahkan”.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, terminologi keperempuan ini ‘hanya’ merujuk pada hal-hal yang berkaitan dengan perempuan. Pertanyaan selanjutnya, lalu apa sebenarnya arti keperempuanan itu sendiri? Ini kemudian yang menjadi pertanyaan besar di benak kami. Yang kemudian mengantarkan pada apa yang akan kami coba presentasikan pada projek pameran kali ini: ‘membatalkan keperempuanan’ bisa jadi mencairkan, dan mencoba menegosiasikan ‘lagi’ konstruksi atas citra representatif perempuan dari kacamata perempuan sendiri.

Tubuh yang mendua : yang domestik dan politis
“The Sexual is Political”
Kate Millet

Pembahasan konstruksi gender dan kesetaraan memang tidak ada habisnya. Apalagi ketika membicarakan tentang perempuan, yang tentu tak pernah bisa lepas dari isu ketubuhan. Tubuh dan identitas perempuan selalu menjadi medan untuk berbagai macam kepentingan. Dari ranah yang paling domestik, sosial, bahkan negara. Secara fisik, ada perbedaan yang bisa dijelaskan secara biologis. Akan tetapi ketika membicarakan keperempuanan, kita menempatkan perempuan sebagai kategori gender yang dibentuk oleh budaya, tradisi, masyarakat dan banyak hal dari luar diri. Yang perlu kita ingat ialah, bahwa setiap tempat tidak memiliki kesamaan budaya ataupun tradisi, sehingga konstruksi gender di tiap tempat satu sama lain berbeda.

Di luar pembahasan berbagai isu dan persoalan yang terutama berkait dengan pemenuhan hak dan kesetaraan, persoalan-persoalan personal (yang sesungguhnya bersilangan juga dengan pranata sosial) adalah isu yang krusial dalam kehidupan perempuan. Dari roman ‘remeh temeh’ hingga lembaga pernikahan. Barangkali karena persoalan ini berkenaan dengan diri beserta tubuh, kesadaran, imajinasi dan hal-hal lain yang ada di dalamnya. Inilah yang menarik dari wacana keperempuanan, selalu merangkak masuk ke dalam ruang personal sekaligus mempertegas samarnya batasan antara yang domestik dan politis.

Yang domestik ini, yang selalu menarik untuk diulas, meskipun dipahami ini juga bagian dari yang politis. Dari sekian banyak representasi keperempuanan, identitas tersebut terus dibangun berulang-ulang dan selalu berkaitan dengan citra sosial tertentu, kelas atau kelompok. Representasi merupakan sebuah proses pembentukan makna dari sesuatu yang kita pikirkan melalui bahasa. Bahasa berfungsi menghubungkan, menerjemahkan ide/gagasan abstrak dengan tanda dan simbol yang mewakili sesuatu yang kita pikirkan. Bahasa ialah medium untuk memaknai sesuatu, memproduksi sekaligus mengubah makna.

Farah Wardani berpendapat bahwa, seni rupa sebagai sebuah medan pertemuan proses kreatif merupakan satu sarana yang memberi saluran refleksi tak terbatas dalam melakukan analisa pengolahan tanda-tanda tersebut secara produktif. Karya-karya seni yang tercipta baik produk maupun bagian dari proses gejolak dan fenomena yang ada dalam konstruksi sosial, dan sebaliknya pula ia juga dapat memperkaya jalan pembentukan konstruksi-konstruksi itu dengan sendirinya.
Dalam hal ini, imaji dan representasi perempuan masuk hingga tataran citra yang tertuang dalam karya seni. Atau sebaliknya, seni lah yang justru memiliki kekuatan untuk mempengaruhi. Untuk memutuskan siapa yang mempengaruhi siapa, kiranya perlu pembicaraan yang lebih jauh, tetapi minimal, seni bisa kita maknai sebagai ranah imajinasi tanpa batas. Sehingga menjadi jalan untuk melampaui imajinasi yang sudah ada berserakan di sekitar kita. Di dalamnya, kita bisa turut serta dalam menyusun representasi perempuan. Bukankah emansipasi harus dimulai sejak dalam pikiran dan tataran imajinasi? Dengan kata lain, seni merupakan sebuah bahasa yang berpotensi dalam mengekspresikan kegelisahan seniman.

Lagi-lagi, romantisasi tragedi!

Permainan ruang antara dari dua Maria
Di antara ruang domestik dan publik disitulah bermukim tubuh perempuan. Rentangan sejarah yang panjang menempatkan perempuan di ruang domestik beserta segala perannya. Namun ini bukan jadi batasan, karena perempuan masih bisa bermain-main didalamnya. Yang domestik pun bisa tampil ciamik ke publik. Dari narasi personal, para seniman ini berangkat dan mengajak kita untuk berdialog dan mencairkan kompleksitas diantara ruang-ruang antara pada subjek perempuan melalui karya. Representasi yang personal dan domestik ini, tampak pada karya Maria Indria Sari dan Maria Magdalena. Penggunaan medium serat dan kain yang selalu diidentikan sebagai medium yang dekat dengan perempuan, juga benda-benda temuan yang tak berjarak dengan keseharian ini menjadi pilihan medium yang khas dari mereka. Objek-objek dan citra yang dihadirkan dalam karya cukup merepresentasikan kedirian mereka, suatu bentuk identitas yang subtil. Kedua Maria ini, mencoba menarasikan tentang kegelisahannya pada ‘bentuk’. Saya membacanya sebagai sebuah dialektika atas representasi tubuh perempuan pada konstruk sosial yang dominan. Misterius, menghantui, dan cukup menjadi teror. Meski dalam beberapa hal, domestifikasi merupakan keterjebakan perempuan dalam suatu ruang, akan tetapi, Kedua Maria ini justru bisa bermain-main di dalamnya.

Yang misteri dan seksi
Yang misteri dan seksi kali ini dihadirkan oleh Utin Rini dan Nurify. Nurify yang beranggapan bahwa ilusi dan misteri itu seksi, memainkan lagi batas antara yang nyata dan yang sebaliknya. Kedalaman “Inner Skill” Nurify kali ini coba ia hadirkan dengan memainkan identitas diri yang tidak jarang berada pada ruang antara yang nyata dan sebaliknya.
Bagi Utin Rini, ekspresi pencapaian seksualitas tak perlu bersembunyi dan menjadi misteri. Dengan menghadirkan yang selama ini terepresi oleh norma, Utin Rini menghadirkan “Midnight Blues” yang seksi. Dengan ini ia membongkar apa yang selama ini ditutupi dan dianggap tabu, yakni ekspresi orgasme. Jika secara normatif dikatakan bahwa perempuan tidak perlu orgasme karena aktivitas seksual semata untuk reproduksi, maka “Midnight Blues” kali ini mengatakan hal yang lain. Gairah memang hal yang lumrah!

Tubuh maternal dan hal-hal yang tak pernah selesai
Begitu juga peran perempuan dalam ranah yang paling biologis sekalipun, yaitu beroperasinya peran sebagai ibu. Tentang subjektivitas maternal ini, saya juga menemukannya pada beberapa karya. Seperti yang dinarasikan Wahyu Wiedyardini, dengan metafora anjing kesayangannya, ia menghadirkan momen refleksi dirinya atas proses menjadi seorang ibu dalam memberikan perlindungan dan melayani tanpa pamrih. Tentang perempuan yang melindungi ini, Lashita memetaforakannya dengan payung, mengemasnya dan memberi tambahan catatan yang menarik. Sebagai perempuan yang matang, tampaknya ia sangat paham atas pengkondisian ketubuhannya. Maka ia pun menambahkan, dengan segala keterbatasan kondisi namun perempuan masih punya daya untuk bergerak dan tumbuh, bahkan melewati batas-batas sekat yang ilusif.

Sekat yang ilusif ini ditafsirkan Lia Mareza dengan sudut pandang atas ketertarikannya pada ruang. Ruang yang bersifat maya ini memberi celah untuk menggali lebih dalam lagi atas identitasnya. Salah satunya dengan menggunakan metafora kupu-kupu. Binatang ini dihadirkan sebagai proses metamorfosisnya sebagai proses “ontology of becoming”. Bahwa sebagai subjek kita selalu berada pada proses hampir menjadi.

Yang domestik sekaligus publik
Kemudian dalam pandangan relasi ekonomi politik, peminggiran perempuan pada pekerjaan domestiknya berarti memangkas akses perempuan ke sumber produksi lainnya, masalahnya terletak pada nilai yang dilekatkan pada pekerjaan domestik tersebut. Budaya patriarkat yang konvensional menganggap pekerjaan domestik itu tidak bernilai. Namun apa yang terjadi pada kenyataannya, bahwa apa yang ‘sekedar’ domestik ini ternyata mempunyai daya. Inilah yang coba ditampilkan Idealita. Tampak lugas dalam karya fotografi Dea, pertemuannya dengan perempuan-perempuan perkasa di pulau Samosir ini melampaui paradigma kesetaraan atas wacana feminisme dalam arti sebenarnya.
Bonita juga hadir dengan kegelisahan yang serupa, kemudian dengan pengolahan dan metaforisasi yang berbeda. “Perempuan Dominan” dari Bonita kali ini membicarakan beban ganda perempuan yang berkewajiban di dua ranah sekaligus yakni domestik dan publik, dan keduanya sanggup dilakoni yang kemudian ia hadirkan dengan kaki sebagai metafora atas tumpuan.

Cinta dan kecewa sudah satu paket rupanya
Sedangkan dalam karya pada debut pameran pertama mereka kali ini, Deidra dan Arini, masih berkutat pada kegelisahan perempuan muda atas relasinya dengan lawan jenis (:laki-laki). Bukan persoalan yang remeh-temeh memang, setiap orang pasti sudah pernah melewatinya tapi apa yang akan mereka sampaikan adalah bahwa pertemuan awal atas dikotomis dua jender ini, membentangkan pencarian atas identitas kedirian mereka. Menarasikan atas ‘dunia’ yang berseberangan. Tidak muluk-muluk, tapi cukup menggelisahkan. Yang dikotomis tapi romantis. Pengalaman-pengalaman satir dituturkan secara jujur, dihadirkan dengan medium dan lingua-franca yang jelas dekat dan akrab dengan generasi mereka.

******
Ikon tubuh masih beroperasi di pembacaan sebagian besar karya 11 seniman perempuan ini. Representasi tubuh pada karya-karya ini menarasikan berbagai tafsir terkait dengan kondisi dunia perempuan dalam relasi sosial dan budaya. Lagi-lagi disini berkaitan antara yang personal dan politis. Satu benang merah dari pembacaan keseluruhan karya dalam pameran ini adalah kelebihan perempuan dalam ‘memanipulasi’ segala hal yang berkaitan dengan diri dan pertempurannya dengan medan sosial. Termasuk bagaimana citra visual tersebut dihadirkan dalam karya dan menjadi salah satu media bagi perempuan dalam ‘meromantisasi tragedi’.

*Gintani Nur Apresia Swastika