Ada sebuah cerita demikian.
Seorang profesor sedang menyeberangi sungai dengan perahu. Dia bertanya kepada si tukang dayung, “Apakah Anda pernah belajar matematika?”
“Belum pernah, Pak,” jawab si tukang dayung.
“Kalau begitu Anda kehilangan sepertiga hidup Anda. Dan apakah pernah belajar membaca dan menulis?”
“Belum pernah, Pak,” sahut si tukang perahu.
“Kalau begitu Anda telah kehilangan dua pertiga dari hidup Anda.”

Tiba-tiba terjadi banjir bandang menerjang perahu itu. Perahu itu tergoncang dan oleng dihantam badai gelombang air sungai yang semakin mengganas. Kapal itu mulai bocor dan kapal dipenuhi oleh air. Semakin lama, gelombang semakin besar.
Dalam saat-saat mengerikan itu, si tukang perahu bertanya kepada si profesor, “Apakah Anda pernah belajar berenang?”
“Belum pernah,” jawab profesor itu.
“Kalau begitu saya sangat khawatir,” sahut si tukang perahu, “Anda akan kehilangan seluruh hidup Anda karena…”

Tukang perahu itu belum sempat menyelesaikan ucapannya ketika perahu itu tenggelam karena bocor dan oleng ditelan gelombang yang sangat ganas.
Tukang perahu itu dapat berenang dan selamat. Namun si profesor tenggelam bersama perahu itu.

Masalahnya adalah kenapa tidak dilihat dulu perahunya ada tambalannya atau tidak, kenapa memilih perahu yang mudah bocor.
Kenapa si tukang perahu tidak mempersiapkan pelampung untuk keadaan darurat.
Hal yang sungguh aneh lagi, kenapa sang tukang perahu tidak menolong sang profesor?