Reporter:  Lintang Kertoamiprodjoe

recordstoredaymalang3

#day 1

Beberapa flyer menumpuk di sebuah meja kayu,dimana seorang lelaki berbaju merah sedang menjadi sirine yang memperingatkan kepada para pengunjung untuk terlebih dahulu menuliskan nama mereka di buku tamu. Di samping buku tamu, ada setumpuk zine buatan teman-teman, Suketteki namanya. Siapapun yang bersedia, boleh mengambilnya karena hari itu tepat tanggal 19 April adalah lahirnya zine Suketteki edisi ke 3, yang menarik adalah ada bonus CD dari pemusik folk lokal dari kota Malang ini. Berisi sepuluh lagu dan dia terselip di zine Suketteki dengan tidak berbayar. Sementara si lelaki berbaju merah masih saja duduk di kursi yang hanya satu, dia sangat betah sekali duduk di situ sampai malam nanti sepanjang perhatian saya.

***

Tidak ada kegaduhan suara musik sama sekali di Museum Musik Indonesia ini, meski kita tahu,sedang ada pesta merayakan Record Store Day. Yang ada hanya suara kegaduhan transaksi, kegaduhan tanya jawab penjual dengan pembeli, adu mulut antara pengkolektor dengan penggemar yang membicarakan idolanya. Kaset pita, vinyl dan bahkan disket pun menjadi primadona sore ini. Pembeli yang hendak mencoba kaset pita, bisa mendengarkan lewat sebuah recorder kecil yang masih menggunakan tenaga baterai, yang belakangan juga mulai diincar pemuda lagi. Banyak sekali jumlah lapak yang menjajakan hasil rekaman fisik yang nampak beberapa juga masih terlihat masih menata karena telat datang. Sekitar 13 lapak yang masing-masingnya selalu penuh dengan pengunjung. Sebut saja MADS RECS ,BANDAR KASET, ARABIAN RECS, THRALL DIVISION, DEFEND STORE, HELL IS OTHERS RECS, TARUNG RECS ,INSECT RECS, MATIXKUTU RECS, ROCK N TERROR RECS, STONED WITHOUT DOPE, THE PAIMO DISTRIBUTION, MASSXHYSTERIA RECS. Tetapi tidak semua datang di hari pertama ini.

***

DSC_5145

Terletak di komplek Perumahan Griya Shanta, Museum Musik Indonesia sendiri menyuguhkan banyak sekali rekaman fisik dan segala macam atributnya. Setiap hari, siapapun boleh berkunjung ke tempat ini. Ketika memasuki ruang yang berada di kiri, dari pintu utama museum, saya menemukan banyak sekali vinyl yang sudah sangat jarang ada lagi, tampak juga kolase foto-foto.salah satunya yang menarik perhatian saya adalah kolase foto perjalanan karir grup band wanita legendaris dengan A GO GO nya, Dara Puspita. Di sebuah foto terlihat Dara Puspita yang sedang berpose foto dengan latar belakang Menara Eiffel. Lalu jika berpindah ke ruang tengah, akan ada pemutar piringan hitam d iatas sebuah meja, dan rak-rak kaset, cover dan pamflet dan apapun tertata rapi dengan nama masing-masing. Hampir keseluruhan tembok Museum Musik Indonesia ini selalu dipenuhi kolase foto penyanyi-penyanyi lawas dan jika berjalan lurus, di ruang sebelah kanan sendiri, kita akan menemui segala rupa rekaman fisik yang ditata secara alfabetis. Sungguh, wisata musik lengkap di tempat ini. Dan hujan tidak menjadikan nyali pengunjung menjadi ciut untuk datang ke acara ini, terbukti dari antusiasme pengunjung yang semakin menuju malam semakin ramai. Record Store Day hari pertama ini akan memutarkan sebuah film dokumenter buatan teman-teman tentang kedinamisan waktu yang melibas rekaman fisik dan siapa saja yang bertahan dengan alasan-alasannya. REKAM! RILIS! PUTAR! berdurasi sekitar 30 menitan. Sebuah hasil kerja keras yang mendapat respon cukup baik.

***

#day 2

recordstoredaymalang1

Di depan sebuah bangunan yang kecil yang terletak di salah satu sudut pusat Kota Malang ini, Houtenhand. Beberapa orang nampak bergerombol. Seorang pria sedang duduk di bawah tiang listrik, dia mengenakan sepatu boots dijahit benang berwarna kuning. Dia sedang asik melubangi celananya dengan sebuah batu pipih. Rupanya, dua teman saya yang lain (yang juga panitia dari Malang Record Store Day 2014 ini) sedang berbincang dan mempersiapkan konsep dan adegan yang akan diambil untuk lelaki tadi, iya, ternyata segerombol manusia yang sedang duduk di depan Houtenhand tadi adalah personil dari sebuah band yang nanti juga akan mengisi acara Malang RSD 2014, No Man’s Land, sebuah band yang terbentuk sejak tahun 1994, mengusung anthem-anthem sosial. Mereka adalah pionir untuk band bergenre oi! Ya, malam ini mereka sangat dinanti untuk tampil di sini. Ketika sedang asyik memandangi mereka yang sedang take untuk teaser album terbaru No Man’s Land, melintaslah seorang pria yang bernama Mas Doni, dia adalah pemilik Houtenhand, dia membawa gitar dan memilih menghindar dari keramaian pikuk ini, dengan tenang dia memainkan beberapa lagu yang saya dengar sayup dari tempat saya duduk di pinggir jalan ini. Hingga pada akhirnya saya tergoda untuk masuk ke lantai dua atas Houtenhand, karena teriakan, suara piano dan tepuk tangan sedang terdengar memburai dari jendela lantai duanya, karena seorang Christabbel Annora sedang mengawinkan nada dengan vokalnya yang manis. Setelah memainkan beberapa lagu, pembawa acara sempat menyinggung soal kenaikan harga album ‘KOMPILASI SEPI’, sebuah album kolektif yang tidak biasa yang berisi sekitar 10 lagu musisi solo lokal Kota Malang.

recordstoredaymalang2

Di lantai satu Houtenhand, terdapat dua buah stan lapakan yang memamerkan dan menjual beberapa koleksi vinyl, kaset pita dan CD dari berbagai macam genre, baik musisi lokal maupun luar negeri, termasuk juga ‘KOMPILASI SEPI’. Naik ke lantai dua, (bahkan di tangga juga ada lapakan), saya hanya dapat temui satu lapakan, meski jumlah lapakan tidak sebanyak di hari pertama. Mungkin karena hari kedua ini juga lebih banyak dikhususkan ke acara  musik. Performer di album ‘KOMPILASI SEPI’ satu persatu mulai dan selesai menunaikan tugasnya. Telinga-telinga lapar malam ini mulai kekenyangan, terlihat beberapa yang masih rakus masih mengumpani dirinya masing-masing dengan caranya sendiri, bahkan beberapa orang yang masih gelisah yang saya dengar dan saya lihat masih menanti perform dari No Man’s Land.

Saya turun ke lantai satu Houtenhand dan memesan minuman dan berniat mencari sedikit udara segar, ketika tiba-tiba bersua dengan teman dan mengobrol dan malah bergabung dengan mereka. Saat itu, kursi merah marun di dekat pintu masuk hanya berisi satu teman dan entah kenapa tiba-tiba saya menjajah tempat itu. Saya berpindah ke kursi yang lebih kecil dekat lapakan Paimo Recs dan duduk bersebelahan dengan Dewi Ratna dan lalu datanglah seorang Bung Samack dari lantai dua dan duduk tepat di tengah antara saya dan nona Dewi Ratna. Mulailah kami bercerita tentang apa saja, tentang film, tulisan, musik dan apapun sambil menanti No Man’s Land. Oh ya, kawan saya, Bung Samack rela ‘memilih’ datang ke Houtenhand dan melewatkan kesempatan untuk datang launching album baru Begundal Lowokwaru yang memang momennya bersamaan. Saya sempat menikmati artwork cover album barunya Begundal Lowokwaru yang dibawa oleh Bung Samack. Kami berbincang dengan tidak sadar waktu, hingga No Mans Land sudah bersiap untuk tampil.

Aekarang ini Death of President sedang berorasi di atas sana, saya masih duduk di bangku merah marun ini saat kedua teman saya pamit untuk ke lantai atas.

Pukul sembilan kurang seperempat, pria-pria berkeringat dan baju mereka basah saat melintas di depan saya. Rupanya mereka benar-benar menikmati Record Store Day hari kedua ini dan No Man’s Land adalah hidangan penutup pemuas dahaga. Puas terlihat di wajah-wajah mereka malam ini. Saya kusut di antara pita kaset dan baret di antara CD dan patah di dalam piringan hitam. Saya adalah digitalmu…