Sepanjang peradaban, gerakan anak muda selalu punya andil dalam membuat perubahan. Di tanah air saja misalnya, sejak proklamasi kemerdekaan Indonesia hingga era reformasi, peran anak muda tidak bisa dianggap remeh. Energi yang besar, semangat, dan keberanian, merupakan karakter khas anak muda yang dapat ditemui dalam gerakan-gerakan tersebut. Ketiga karakteristik ini merupakan modal yang dapat mendukung produktivitas, namun sebaliknya jika tidak dikelola dengan benar justru dapat berbelok pada hal-hal negatif.

Oleh karenanya, anak muda membutuhkan wadah atau playground, di mana ia dapat bebas berekspresi dan menyalurkan energinya secara positif. Komunitas dari Yogyakarta ini salah satunya, yang dengan lantang menyatakan bahwa, “Siapa saja yang muda, kreatif, berani, berdikari adalah ketjilbergerak!”. ketjilbergerak, begitu mereka menyebut dirinya, adalah sekumpulan anak muda kreatif yang selama beberapa tahun terakhir diam-diam bergerak secara konsisten melalui berbagai kerja-kerja budaya yang bersifat kolaboratif di tataran akar rumput.

Terdiri dari mayoritas pelajar dan mahasiswa, ketjilbergerak membuat berbagai program menarik yang tidak sekedar menjual sensasi atau hura-hura. “Program ketjilbergerak itu salah satu syaratnya, harus bernilai bagi masyarakat,” tutur Invani Lela Herliana, atau biasa disapa Vani, manajer ketjilbergerak. Pameran seni rupa, konser musik, festival desa, workshop gratis untuk anak-anak dan berbagai macam kegiatan lainnya telah mereka lakukan. Dalam program-program tersebut, ketjilbergerak mengajak seniman, musisi, sampai pemuda setempat untuk urun rembuk, sehingga terbuka kesempatan kolaborasi yang luas.

Komunitas ini sendiri berawal dari segelintir mahasiswa di Yogyakarta yang peduli dengan isu-isu budaya. Saat itu, pada kisaran tahun 2006, mereka membuat zine (buletin) yang diberi nama ‘ketjilbergerak’. Dalam perjalanannya, ketjilbergerak bertransformasi menjadi sebuah komunitas anak muda yang organik dan mandiri, memperluas area bermainnya tidak hanya sebatas halaman zine serta merangkul partisipasi lebih banyak lagi anak muda. Disebut organik, karena ketjilbergerak tidak punya struktur kelembagaan dan manajemen formal. Program-programnya dibiayai secara mandiri dari hasil penjualan merchandise dan terkadang dari kocek pribadi.

Selain itu, keanggotaan ketjilbergerak juga bersifat bebas tanpa ikatan, siapapun boleh bergabung, entah itu mahasiswa, pelajar, seniman, atau siapapun juga. ketjilbergerak dapat diumpamakan seperti rumah yang disinggahi silih berganti oleh berbagai orang yang datang untuk saling berbagi dengan sesama pesinggah lainnya. Di sini, mereka dipacu untuk berkarya bersama dalam berbagai kegiatan yang mereka adakan, bekerja sesuai dengan minat dan kemampuan mereka masing-masing. Tidak ada sesuatu yang mengikat dalam komunitas ini, selain komitmen personal serta keinginan untuk obah dan mengembangkan diri.

Sejak beberapa tahun terakhir, ketjilbergerak justru didominasi oleh para pelajar sekolah menengah seni. Berawal dari saling ajak antar sesama teman sekolah, akhirnya semakin banyak pelajar yang bergabung dengan ketjilbergerak. Para pelajar ini juga mengalami regenerasi, mereka yang baru masuk otomatis menggantikan tempat para kakak kelas yang mulai berkurang keaktifannya karena UAN. Karena itu, tak jarang anak-anak muda ini harus belajar dari awal untuk menjalankan program yang mereka buat. Apalagi ketjilbergerak menekankan tanggung jawab pada anggotanya, siapapun yang punya ide, harus bertanggung jawab pada idenya. Namun hal itu bukan masalah, “Di ketjilbergerak, kita semua sama-sama belajar,” jelas Vani.

Sejak tahun 2006 hingga saat ini mereka sudah merampungkan sebanyak lebih dari 50 program, di mana tahun 2013, 2014 dan 2015 menjadi tahun yang paling produktif buat mereka. Ide-ide program ketjilbergerak dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari lingkungan di sekitar basecamp ketjilbergerak, sampai kegalauan personal para anggotanya. Salah satu program yang bersumber dari ‘kegalauan’ ini adalah ‘Kelas Melamun’. Dalam program yang berlangsung setiap bulan sejak Agustus 2013 tersebut, anak-anak muda bisa mengunjungi studio atau rumah seniman untuk berdiskusi atau ngangsu kawruh tentang hal-hal seputar seni budaya. Semacam menyediakan ruang berbagi antara anak-anak muda dengan orang yang sudah berpengalaman di bidangnya. Selain Kelas Melamun, ketjilbergerak juga menjalankan program berkala Angkatan Perubahan, Ben Prigel dan Gap Balik! yang bisa dipantau perkembangannya di website www.ketjilbergerak.org dan akun-akun media sosial ketjilbergerak.

Ditanya tentang rencana ke depan, anak-anak ketjilbergerak mengaku ingin terus bergerak dan mengalir saja. Untuk saat ini, mereka belum tertarik menjadi lembaga yang lebih terstruktur, dengan manajemen yang lebih jelas dan terencana. Mereka mengaku sudah pernah mencoba, dan ternyata cara tersebut belum sesuai diterapkan di ketjilbergerak. Apa yang mereka lakukan saat ini nampaknya sudah sesuai dengan filosofi ketjilbergerak, di mana setiap anak muda, siapapun ia, diberi kesempatan untuk obah atau bergerak, melakukan sesuatu yang bernilai buat dirinya sendiri dan orang banyak.

***

Perjalanan ketjilbergerak bisa dilihat di sini.

*sudah pernah diterbitkan di laman Indonesia Kreatif*