Saya teringat akan cerita karib saya yang hanya bisa melongo ketika ia terlibat adu argumen mengenai esensi seni pertunjukkan. Ia menerima sebuah pukulan telak dari lawannya yang bersikeras membela sebuah pementasan tari hampir striptease pada sebuah pagelaran aksi amal (sekali lagi, aksi amal) di area publik dengan pernyataan: “Lho, itu kan seni!”

Oh, itu seni ya mz? Seniningan keleus!

****

Mudji Sutrisno, dalam buku Estetika: Filsafat Keindahan karangannya mengungkap beberapa hal mengenai bagaimana “keindahan” dapat menjadi sebagaimana apa yang dipahami bersama sebagai “keindahan”. Menurutnya, ada banyak hal-hal di dunia ini yang merupakan suatu keindahan. Di sisi lain masih akan ada banyak objek (bahkan bisa jadi subjek) yang berpotensi menjadi suatu keindahan, suatu estetika.

Salah satu hal yang saya pribadi pun sepakat untuk dianggap dan dikatakan sebagai sebuah keindahan adalah seni. Terlepas dari cara orang yang berbeda-beda dalam menikmati kemolekan seni, namun seni memang indah. Seni serta estetika sebagai isinya telah membedakan antara manusia dengan mahluk lain, bahkan membedakan pula antara manusia yang satu dengan manusia yang lain baik melalui penciptaannya maupun melalui pemaknaan seni itu sendiri.

Namun dalam konteks tertentu, seni dan estetikanya tidak pantas untuk lalu lepas begitu saja dari pertanggung jawaban moralnya. Menurut Mudji Sutrisno yang sering kita kenal akan kiprahnya di ranah kebudayaan, bahwasanya sebuah kesenian, baru akan mencapai titik isi keindahannya yang riil ketika kesenian itu menjadi sebuah peristiwa. Artinya, di luar estetika sebagai isi dari kesenian, perlu ada yang digugat kembali dari sebuah bentuk kesenian yaitu ketika ia dapat berbenturan dan lalu melebur dengan konteks di mana kesenian itu sendiri lahir.

Dari cerita karib saya di atas, aksi tubuh yang bergeliat dari punggawa kelompok tari yang diisi oleh para mahasiswi wanita, secara estetika memang, yah lumayan mendapat predikat estetik. Namun bagaimana dengan keberbenturan dan keleburan seni itu tadi dalam konteks (secara spesifik) pagelaran aksi amal? Hhmmm…

Lalu bagaimana dengan ketjilbergerak sendiri yang selama ini kondang sebagai salah satu pionir sendi kesenian anak muda, khususnya di Yogyakarta? Apakah seni yang ditawarkan oleh ketjilbergerak sudah merupakan seni yang mampu membenturkan realita dan dinamika kehidupan sehari-hari dalam medium seni? Pergerakan seni yang dilakukan oleh ketjilbergerak tidak bisa diragukan lagi. Kesenian yang diproduksi serta dibagikan oleh ketjilbergerak adalah sebuah bentuk kesenian yang tidak semata-mata menjadikan estetika sebagai nilai tawar yang tinggi sahaja.

Seni yang diusung oleh ketjilbergerak adalah suatu bentuk kesenian yang tidak bisa dipungkiri merupakan aktivitas dari sebuah nafas budaya populer yang kini sedang gandrung dihembuskan oleh banyak anak muda. Namun walau begitu, seni yang ditunjukkan oleh ketjilbergerak tetap menunjukkan keterhubungannya yang erat dengan dialektika yang membentuk dinamika kehidupan sehari-hari.

Hal itu setidaknya, sekali lagi, ditunjukkan secara gamblang oleh ketjilbergerak melalui single “NEGARA” sebagai sebuah respon serta andil ketjilbergerak dalam momentum Hari Kebangkitan Nasional. Setelah banyak-banyak hal aspek hidup dan aspek dinamika yang telah ketjilbergerak tuding lewat karya-karyanya, kini giliran ketjilbergerak menuding sebuah institusi bernama “negara” untuk mereka bahas secara ringan lewat nada experimental 2-tone berdurasi 3 menit 6 detik ini.  Nomor “NEGARA” menjadi wakil dari kesenian yang kontekstual dan melebur, baik secara konten maupun medium.

Musik digital yang akhir-akhir ini sedang menjadi primadona sejuta umat mereka pilih sebagai medium. Momentum yang mereka pilih pun juga tidak bisa dibilang biasa saja. Kebangkitan Nasional, jelas merupakan agenda dari sebuah negara yang sangat getol akan aksi-aksi “merayakan”. Namun sayang, tidak jarang agenda-agenda yang disematkan pada sebuah tanggal untuk dirayakan hanya menjadi sebuah perayaan tanpa kedalaman makna. Konten mengenai kealpaan dan kejauhan negara dengan pihak-pihak yang seharusnya negara naungi, yaitu warga negara, menjadi tajuk yang mereka usung dalam single yang untuk pertama kali mereka rilis tanpa berkolaborasi dengan musisi lain, laiknya single-single yang sudah.

 

Nomor “NEGARA” dan Posisinya yang Membangun

Negara dan kesan mengenai semakin disorientasinya institusi tersebut dipaparkan melalui suara tenor si penyanyi yang sepintas mengingatkan saya pada Ian Curtis,  meraung-raung meminta kehadiran negara. Ya, dan kehadiran negara memang pantas untuk kembali ditagih setelah berjuta-juta doa yang kita panjatkan, kerja-kerja yang kita tuntaskan, pendidikan yang kita tempuh, dan bahkan sejumlah nominal yang kita bayarkan, di mana kesemuanya itu, entah kita sadari atau tidak, semata-mata untuk keberlangsungan negara. Melalui medium seni musik, ketjilbergerak mencoba membuat riak pada permukaan permasalahan mengenai eksistensi dan peran negara yang belakangan ini seperti sama sekali tidak dipermasalahkan.

Mungkin seiring dengan rilisnya single ini, akan juga diikuti dengan pernyataan-pernyataan yang mengungkapkan skeptisme bahkan apatisme mengenai eksistensi negara. Yah mungkin saja kita-kita ini, dengan segala kemerdekaan spiritual, sosial maupun material bisa lepas dan memutus hubungan antara negara dengan diri kita.

Yang perlu lebih dititikberatkan untuk diingat adalah bahwa tidak semua orang ada pada posisi yang seberuntung kita. Masih ada orang-orang yang memang membutuhkan eksistensi negara secara riil, konkrit untuk menunjang lini-lini kehidupan mereka. Dan menjadi tugas yang pantas dan patut bagi kita yang mampu untuk kembali menghubungkan relasi negara dengan yang mereka naungi, yaitu warga negara yang membutuhkan bahkan penduduk negara sekalipun. Mengapa penduduk negara dan tidak warga negara saja? Karena warga negara adalah sebuah entitas bagi mereka yang memiliki legalitas sebagai warga negara berupa KTP dan sebagainya, sedangkan tidak jarang penduduk negara, mereka yang kurang beruntung dan bernaung di bawah kolong langit suatu institusi negara, tidak memiliki legalitas tersebut. Tidak bisa kita pungkiri bahwasanya mereka-merekalah yang sejatinya paling membutuhkan peran negara.

Namun berbicara mengenai negara, ia bukan saja melulu mengenai suatu institusi yang mengurus keperluan-keperluan dengan suatu instrumen atau suatu ideologis yang ada. Kita perlu kembali kepada suatu kesadaran yang paling dasar, bahwasanya kita juga merupakan bagian dari apa yang disebut sebagai negara. Dan rupanya kesadaran dan pemahaman tersebut telah dijadikan nafas hidup oleh ketjilbergerak sehingga akhirnya ketjilbergerak mampu mengambil peran dan menjadikan seninya mempunyai posisi dalam “pembangunan” yaitu pembangunan infrastruktur mentalitas sosial, terlebih bagi anak muda.

Single “NEGARA” dengan liriknya yang nakal, provokatif dan penuh dengan tuaian tanya-tanya telah menggenapi apa yang ditulis oleh Mudji Sutrisno dalam tulisannya yang berjudul Posisi Kesenian dalam Pembangunan. Kesenian yang ideal adalah kesenian yang dapat mengundang tanya dalam prosesnya. Kesenian yang dapat –menurut Mudji– menggugat ketenangan, menimbulkan polemik dan mengajak orang untuk mengomentarinya.

Dalam nomor inilah, ketjilbergerak memproduksi ulang suatu isu dan permasalahan lama dalam nuansa yang baru. Setelah begitu lama isu mengenai eksistensi dan peran negara lamat-lamat tenggelam dalam isu-isu praktik politikal negara, ketjilbergerak mencoba mengusik kembali nafas tenang para pihak negara terkait, untuk kembali menggugat dirinya mengenai apa sebenarnya hakikat dan posisi mereka di dalam eksistensi negara. Sehingga menjadi jelaslah posisi ketjilbergerak, keseniannya yang bernegara, dan dimana mereka berada dalam hierarki institusi negara yang kompleks.

Sekali lagi, ketjilbergerak!

—–

Aloysius Brama

Pengais makna pada apa saja dan memaparkannya dalam Altrouismo, getol akan genre “Pop-Cult dan Football Writing”, serta saban hari mengasuh @bramskoy.