Judul karangan yang disematkan di atas belum jelas. Meski tentu saja, dengan rentetan kata-kata yang saya pilih, tulisan ini bermaksud mencari hubungan antara memori, ikon kepahlawanan, dan ke-diri-an kita. Tetapi, hubungan yang bagaimanakah? Di sini saya tidak bermaksud untuk membahas hubungan tersebut dan meletakannya dalam kerangka universal, dalam arti hubungan yang muncul di antara ketiganya akan menghasilkan sesuatu yang sama dalam konteks yang berbeda. Oleh karena itu saya ingin memulainya dari cerita tentang sebuah kegiatan berkesenian dalam bentuk mural.
Di pertigaan Munggur, Jalan Solo.
Ah…Kau Sudah BerubahSub-judul di bagian ini sudah mencerminkan nama kegiatan itu sendiri, atau bila nama kegiatan itu ditulis secara lengkap: ‘ketjilbergerak #12: Ah…Kau Sudah Berubah’. Digarap oleh ketjilbergerak bekerja sama dengan Memento Mori, proyek ini memanfaatkan ruang kota sebagai medium dan seni mural atau graffiti sebagai wadah untuk merepresentasikan sesuatu, entah itu yang sifatnya personal atau boleh jadi sesuai dengan realitas yang ditangkap oleh mata seniman. Yang menarik dari cara berkesenian semacam ini tentu saja ia berangkat dari pemanfaatan terhadap ruang kota sebagai medium untuk berkomunikasi dengan masyarakat kota yang heterogen. Jadi, mural bisa dilihat siapa saja, dari kelas sosial mana saja, meskipun boleh jadi penafsiran tiap-tiap individu atas bentuk seni yang ada bisa bermacam-macam.
Saya tidak bermaksud untuk berbicara mengenai bagaimana warga kota bereaksi terhadap atau menafsirkan mural yang dikreasikan oleh ketjilbergerak dan Memento Mori lewat proyek tersebut. Tetapi dari hasil mural yang telah ada di beberapa tempat, kita bisa melihat bahwa apa yang ditawarkan adalah ikon-ikon kepahlawanan yang biasanya dikenal lewat buku-buku pelajaran: Bung Tomo, Jenderal Soedirman, Kartini, Soekarno, dan Pangeran Diponegoro. Mengapa ikon-ikon itu yang dipilih, merupakan sebuah pertanyaan yang jawabannya bisa kita simpan dulu. Terlebih dulu kita akan melihat latar belakang dilaksanakannya proyek ini. Dan tak ada cara yang lebih baik selain mewawancarai Greg Sindana, seorang yang boleh dibilang konseptor dari proyek kali ini.
Proyek ini sebenarnya berangkat dari kegelisahan, energi, bakat, dan keingintahuan dari para anggota Memento Mori. “Saya yang merasa lebih tua sedikit gitu kan, kemudian..oke, kita buat saja ini sebagai semacam metode pendidikan,” ujar Greg Sindana. “Jadi ya terus kita berpikir, mereka ini (Memento Mori – red) butuhnya apa toh? Mereka kan butuhnya pemahaman tentang konsep, sehingga mereka yakin terhadap apa yang mereka lakukan. Ya sudah, kita sodorkan konsep propaganda tentang pahlawan, tentang kontekstualisasi”.
Tentu belum jelas di sini, apakah maksud dari kata ‘kontekstualisasi’ yang diungkap oleh Greg. Namun ketika saya bertanya tentang kenapa ikon pahlawan yang dipilih, ia buru-buru melanjutkan. “Itu sebenarnya ini kok…jadi generasi muda sekarang kekurangan patron, atau kekurangan biro, atau kekurangan teladan. Terus mereka selalu ngomong tentang teladan ini, teladan itu”. Terbata-bata karena kekurangan kata-kata, Greg segera melanjutkan, “Kita kemarin terbesit tentang sejarah, tentang mencoba menyadarkan konteks kemasyarakatan, tentang konteks bernegara dengan cara mengolah proses tentang terbentuknya negara”. Jadi menurutnya, negara ini terbentuk melalui perjuangan pahlawan-pahlawan, melalui heroisme. Dan inilah kiranya yang dimaksud dengan kontekstualisasi itu, “Perjuangan bernegara saat ini bagaimana? Itu metode sederhana untuk menyadarkan konteks bernegara kepada teman-teman Memento Mori”, ujar Greg. Apakah kemudian kita bisa mengartikan bahwa proyek mural ini adalah sebuah usaha untuk menafsirkan ikon-ikon pahlawan yang ada diartikulasikan secara kontemporer? Greg tidak membantah hal ini.
Di simpang empat Hotel Melia Purosani.
Dari sini kita telah berbicara mengenai satu kata kunci, yakni ikon pahlawan, yang menjadi bagian judul tulisan ini. Di mana orang-orang yang terlibat di dalam proyek mural ini bermaksud untuk membawa ikon-ikon heroisme yang diterjemahkan melalui konteks waktu yang berbeda. Meminjam ikon-ikon heroisme dan kesejarahan yang selama ini kita kenal, antara lain, lewat buku-buku pelajaran sejarah untuk kemudian dibawa ke masa sekarang menurut pandangan saya merupakan pekerjaan menarik. Apalagi bila mempertimbangkan bahwa pekerjaan itu menggunakan jenis seni seperti mural, di mana ia berinteraksi langsung dengan kehidupan masyarakat perkotaan. Samuel Indratma pernah menulis bahwa seni urban (di mana mural termasuk di dalamnya) memiliki logika berbeda dengan seni yang mengandalkan galeri sebagai ruang di mana karya dipamerkan. Maksudnya, karya seni urban bisa menyapa orang dalam jumlah ratusan dan pesan tersampaikan dalam kecepatan akses yang lebih tinggi. Sebuah kondisi yang tidak bisa didapatkan dari sebuah galeri seni.
Kelebihan dari seni urban inilah yang menjadikan ruang kota punya nilai sebagai tempat di mana seniman mengaktualisasi dirinya. Jika aktualisasi diri ini dikaitkan dengan peminjaman ikon-ikon pahlawan oleh ketjilbergerak dan Memento Mori, maka tentu kita patut bertanya: ketika ikon-ikon kepahlawanan populer dikeluarkan dari buku teks dan diletakkan di ruang perkotaan lewat tangan seorang seniman, pesan simbolik seperti apa yang bisa kita dapatkan?
Memori dan Kedirian Kita

Hal kedua yang bisa kita kenali dari proyek mural ini adalah representasi kepahlawanan yang diartikulasikan melalui ikon-ikon tertentu. Ikon-ikon tersebut sangat populer karena apa yang disajikan di sana cukup dikenal di dalam memori sebagian besar orang, meskipun masing-masing ikon divisualisasikan secara segar dengan merepresentasikannya sesuai dengan situasi masyarakat kekinian. Jadi melalui ikon-ikon sejarah yang ada, kita bisa menemukan banyak hal, yakni: Jenderal Soedirman bergerilya sembari membawa lambang mata uang Euro di atas tandu yang membawanya, Pangeran Diponegoro yang menunggang kuda-kudaan, Soekarno yang menenteng kamera televisi, Bung Tomo yang memakai keffiyeh untuk menutupi wajahnya, dan Kartini yang doyan belanja (lengkap dengan tas belanjaan dan telepon seluler mutakhir.)

 Di permukaan, yang kita lihat pada representasi kepahlawananan demikian ialah memori. Tentu saja memori ini dikaitkan dengan heroisme, atau secara lebih spesifik, nilai-nilai kebangsaan Indonesia yang turut dibangun oleh masing-masing pahlawan yang dipilih. Dengan demikian di sini, heroisme adalah prasangka yang turut dilekatkan melalui mural yang ada, dan selanjutnya ini digunakan untuk berkomunikasi dengan masyarakat kekinian. Tetapi bila memori adalah pengalaman masa lalu yang melekat dan aktif di benak kita, maka bagaimana ia membentuk kedirian kita? Di titik ini, mural-mural yang ada menurut pandangan saya, dibangun melalui hubungan yang laten antara memori dan tanda-tanda kekinian yang hadir dan menjadi bagian dari keseharian hidup kita.
Kita bisa melihat bahwa ikon-ikon kepahlawanan yang ada merupakan bagian dari memori kita, atau apa yang dibentuk melalui pelajaran yang kita dapatkan di sekolah dan melekat di benak banyak orang. Kita diajarkan oleh para guru bahwa para pahlawan merupakan orang yang paling berjasa membentuk ke-Indonesia-an melalui perjuangan politik, bersenjata, dan perjuangan dalam bentuk lainnya. Memori kita, dengan demikian, dibentuk oleh kesadaran simbolik bahwa karena keberanian dan pengorbanannya untuk bangsa, para pahlawan menjadi role model yang nilai-nilainya harus terus diingat, dan bila perlu dijadikan contoh.
Adapun hal-hal semacam ini bisa kita dapatkan dari, misalnya, imajinasi Bung Karno yang menenteng kamera dan menyorot dirinya sendiri, maupun Kartini yang doyan belanja. Dua ikon tersebut bagi saya terlihat menarik karena secara langsung berkaitan dengan dua hal yang masing-masing saya sebut narsisisme dan masyarakat konsumsi. Kita akan memulainya dari konsep pertama, yakni narsisisme.
Secara definitif, narsisisme merupakan konsep yang merujuk kepada kecintaan kepada diri sendiri. Atau dengan kata lain, perilaku seorang individu yang mencintai tubuhnya sampai ia mendapatkan kepuasan tersendiri. Narsisisme di sini umumnya bisa dipahami melalui psikonalisa Freudian yang memberi penjelasan tentang bagaimana ego berpaling kepada dirinya sendiri dan tidak dapat berkomunikasi dengan dunia luar.  
Di pertigaan Jalan Bhayangkara, samping RS PKU.
Saya memilih konsep narsisisme ini agar Bung Karno dalam proyek mural kali ini bisa menamai dirinya sendiri. Jika identitas Bung Karno selama ini dikenal sebagai “bapak proklamasi”, atau meminjam ujaran Abidin Kusno: “penyambung lidah rakyat”, maka dalam konteks narsisisme, memori tentang Bung Karno dimunculkan kembali. Pemunculan ini disertai dengan rasa percaya diri dan dengan keyakinan bahwa pencitraaan adalah segalanya. Melalui ikon Bung Karno, kita tidak lagi dihadapkan pada sosok seorang “proklamator”, melainkan sosok yang narsis, atau tukang pencitraan yang pandai bergaya di depan kamera, yang hanya mencintai sosok dirinya dibandingkan dengan misalnya, masyarakat yang dipimpinnya. Betapa menggelikan! Tetapi tentu saja ini hanyalah sebuah metafor yang meminjam sosok Bung Karno. Sebuah sosok yang telanjur lekat dalam ingatan banyak orang sebagai sosok pemimpin ideal. Artinya di sini, kita dihadapkan pada sebuah forma ikon di mana secara metaforik sosok Bung Karno sebagai pemimpin dipinjam untuk menggantikan pemimpin Indonesia sekarang yang hanya doyan pencitraan dan cinta kepada diri sendiri, namun minim teladan.
Asumsi narsisitik yang dibangun di sini menurut saya tidak berlebihan untuk diungkapkan mengingat imajinasi visual yang ada memang secara gamblang menunjukkan hal tersebut. Mural Bung Karno menenteng sebuah kamera di mana lensanya dihadapkan kepada diri sendiri membawa kita untuk mempradugakan seperangkat nilai yang justru berkebalikan dengan konsep tentang pemimpin yang “merakyat”. Tentu saja imajinasi tentang rakyat tidak ada di dalam mural itu, namun jika kata “pemimpin” itu diasumsikan sebagai orang yang memimpin sekelompok yang lain, maka rasanya sah-sah saja jika saya kemudian mengkaitkan Bung Karno secara paradigmatik dengan pemimpin rakyat Indonesia. Artinya melalui mural Bung Karno dan peminjaman atas citra dirinya sebagai seorang pemimpin negara, kita dihadapkan pada situasi di mana seorang pemimpin yang lebih cinta kepada dirinya sendiri dan tidak mau berkomunikasi secara intens maupun mengurus, misalnya, persoalan ketidakadilan yang terjadi di tengah-tengah rakyat yang dipimpinnya. Tanpa saya perlu menyebut contoh kekinian, bukankah hal-hal semacam itu rasanya juga bisa kita rasakan sekarang?        
Di bawah Kretek Kewek, Jalan Kleringan.
Forma ikon dalam bentuk yang berbeda justru ditawarkan oleh mural Kartini yang bergaya “kontemporer” dengan menenteng tas belanjaan dan telepon selular termutakhir. Bagi saya, sangat jelas bahwa yang ditunjuk oleh mural tersebut adalah logika masyarakat konsumsi. Rasanya setiap hari dan juga di mana-mana kita telah dikelilingi oleh objek-objek maupun benda-benda yang siap dikonsumsi, dan ini telah menjadi bagian dari hidup sehari-hari. Masyarakat sekarang memang seakan niscaya terkutuk untuk selalu berada dalam lingkaran impresi komoditi kapitalis. Mural Kartini yang sedang kita hadapi ini merupakan karya yang memberikan rumusan tentang masyarakat konsumsi yang mengisyaratkan bahwa orang tidak lagi mengkonsumsi barang karena nilai gunanya melainkan karena nilai tandanya.
Sama halnya dengan mural Bung Karno, ikon Kartini di mural tersebut secara metaforik dipinjam untuk menggantikan imajinasi tentang para perempuan “kekinian” yang juga gigih untuk menyuarakan emansipasinya seperti halnya Kartini di masa lalu. Forma ikon semacam ini kemudian dihadapkan dengan forma konseptual yang merepresentasikan perempuan yang sudah telanjur dan niscaya masuk ke dalam jebakan perekonomian kapitalis. Dua forma yang sangat kontras tersebut bercampur menjadi satu, dan orang bilang bahwa pengalaman mengkonsumsi zaman sekarang sangat cepat berlalu, sesaat, dan selalu meminta untuk mengkonsumsi lagi dan lagi. Karenanya ada satu keniscayaan yang bisa ditangkap dari mural Kartini tersebut, yakni tidak peduli apakah dia seorang aktivis yang memperjuangkan emansipasi perempuan, semua orang punya kemungkinan terjebak dalam lingkaran konsumsi.
Pengalaman personal sebagai seorang individu memang tidak bisa dilepaskan dari kenyataan sosial, termasuk dari tindakan mengkonsumsi komoditas. Tetapi tentu orang butuh pengalaman lain untuk dikenang, yang tidak hanya bisa didapatkan dari pengalaman membeli melainkan dari pengalaman yang dibangun bersama orang lain. Mesin ideologi konsumsi massa merupakan realitas yang jamak kita jumpai di zaman sekarang, dan melalui sosok Kartini yang dipinjam dan diterjemahkan secara “kontemporer”, kita disadarkan oleh kenyataan itu meskipun pada dasarnya pengalaman membeli niscaya bukan merupakan satu-satunya.  
Menggeser Definisi Bernegara

Definisi bernegara di zaman sekarang – satu konsep yang ingin dibangun dan dijelaskan dalam proyek mural ini, dengan demikian, tidak bermaksud untuk melulu mengkaitkannya dengan situasi an-sich di mana patriotisme, perjuangan bersenjata, atau bahkan perjuangan diplomatis merupakan elemen-elemen yang ajeg dan dipahami sebagai satu-satunya cara kita untuk bernegara.

Justru lewat karya-karya mural yang mengedepankan ikon Bung Karno dan Kartini, kita bisa menemukan situasi di mana memori tentang kehidupan bernegara yang dihidupi oleh masing-masing ikon pahlawan masa lalu dihadirkan kembali lewat fenomena-fenomena tertentu yang dekat dengan keseharian kita. Hasilnya sudut-sudut tertentu direpresentasikan ulang sehingga mau tidak mau kita mengakui bahwa fenomena-fenomena seperti pemimpin yang narsis dan orang-orang yang terhisap ke dalam pusaran konsumsi pun menjadi bagian dari kehidupan “bernegara”, atau secara lebih spesifik, kehidupan kita di tanah Indonesia.
Pertanyaannya kemudian, apakah keduanya juga ikut membentuk ke-diri-an kita? Ini merupakan pertanyaan personal yang jawabannya bisa dikembalikan ke masing-masing. Tetapi bagi saya ketika berhadapan dengan pemimpin yang narsis, yang bisa saya lakukan paling banter hanya mengumpatnya. Sementara ketika menikmati kenyataan bahwa konsumsi merupakan bagian yang tidak terelakkan, saya pun minimal hanya bisa bersikap sinis sambil bersikap ambivalen bahwa mungkin jika saya punya banyak harta, saya akan melakukan hal serupa. Tetapi justru inilah yang menarik, karena baik memori dan ikon-ikon pahlawan secara langsung ikut mengkonkritkan pengalaman keseharian kita secara konseptual, yakni melalui proyek mural.
                                                                                             
Karangwaru Lor, 31 Januari 2012
 
———————-
Mohammad Hadid adalah lulusan S2 Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma.
ketjilbergerak #12: Ah…Kau Sudah Berubah adalah projek mural dengan tim Memento Mori (yang terdiri dari siswa-siswa kelas 1 SMSR Yogyakarta) yang berlangsung sejak November 2011 (diawali dengan tagging nama di 30 spot di penjuru kota Jogja) hingga akhir Januari 2012.