A. ketjilbergerak

Kalau ada yang mengidolakan rasa berani itu berarti sekali bagi majunya pribadi maupun kelompok. Saya mau cerita sedikit. Dulu waktu wilayah-wilayah di Yogyakarta ini masih sepi, lengang, dan gelap orang tak perlu merasa berani karena toh sehari-hari melewati jalanan sepi, lengang, dan gelap. Batin tak was-was, tenang.

Sekarang tempat sepi, gelap, lengang ditakuti. Kita lihat sekarang jalanan ramai, padat, dan penuh. Mungkin itulah yang menjadikan orang was-was di tempat sepi. Sekarang ini jarang ada cerita lagi tentang orang bersamadi atau bertapa di tempat sepi, bahkan tempat sepi dipakai untuk menguji nyali. Padahal dulu biasa orang bersamadi atau mencari ketenangan di tempat sepi. Zaman berganti. Semua jadi ramai. Rasa berani hanyalah emosi yang nekat dan bahkan paradoks dengan rasa cemas. Orang cemas dan akhirnya nekat.

Sikap kèndel (diam) dan kendel (berani) tak lagi sinergis terutama di wilayah perkotaan. Diam dan berani tak lagi berkaitan. Padahal kedua sikap itu awalnya berkaitan. Siapa yang diam tenang menghadapi tantangan ialah yang berani, dan sebaliknya, keberanian dimulai dari diam dan tenang.

ketjilbergerak sebuah pergerakan positif yang menggugah orang muda dan mengajak untuk kèndel artinya introspeksi menyadari keheningan dan kendel artinya berani. Mengapa demikian? Kita lihat saja acara Perjumpaan Subuh yang dibuat oleh ketjilbergerak. Pagi-pagi benar dalam gelap dan tenang KB sudah mulai bergerak. Subuh mengisyaratkan waktunya kèndel (diam) dan kendel (berani). KB mengajak masyarakat untuk menyadari betapa indah ketenangan itu dan betapa keheningan membuat orang untuk berani introspeksi.

B. Ketidakmunculan

Mengapa banyak citra-citra ketimbang otentisitas? Ya kalau dikejar, memang citra itu mudah di kejar, namun sebetulnya apa yang dikejar dari citra itu sendiri? Pada pertanyaan inilah mulai dibuka pintu hati. Ketika terbuka muncullah kejujuran bahwa yang sesungguhnya dikejar ialah hal lain dan bukan citra itu sendiri. Ada yang mengejar A, ada yang mengejar B, ada yang mengejar C, ada yang mengejar D, ada yang tidak tahu. Kalau ada usaha pasti ada hasil, kita lihat hasil-hasil itu di sekitar kita. Dalam kesimpulan ini, kèndel (diam) dan kendel (berani) bisa jadi adalah sebuah usaha. Usaha untuk mengejar apa yang dikejar. Bergerak terus… Kalau pegiat B lebih memilih tidak muncul itu merupakan sikap kèndel yang merupakan gerakan kritis atas citra-citra dan membuka kemungkinan baru sekaligus menciptakan hasil yang baru.
Eppur si mouve.