Reporter: Kedai Buku Jenny

IMG_20140427_084651
Jarum jam menunjukkan pukul 15.00 WITA, kami bergegas menuju pusat kota Makassar.
Senin sore itu, 21 April, masih terasa layaknya siang hari dimana terik matahari masih sangat menyengat. Ya, kota (Makassar) ini rasanya begitu panas dengan kemacetan, polusi, dan tentu saja pohon-pohon yang semakin menjauh. Namun, sore itu adalah sore yang kami nantikan untuk memulai #KelasMelamun yang diadakan Kedai Buku Jenny bekerjasama ketjilbergerak.

Sebelumnya beberapa teman penasaran di media maya maupun lewat sms menanyakan apa dan bagaimana #KelasMelamun. Tibalah kami di pusat kota dimana salah satu wadah berkumpul dan berkarya yakni Societiet de Harmoni Gedung Kesenian Makassar. Gedung tua itu (masih) mengalami renovasi yang entah sudah berapa tahun tak terselesaikan. Meski begitu, gedung itu tetap menjadi tempat berkumpul, dan salah satu ruangan di gedung itu merupakan rumah KALA Teater. Dan di sanalah kami mengadakan #KelasMelamun bersama Sutradara Kala Teater, Shinta Febriany.

Senyum hangat dan bersemangat dari teman-teman KALA Teater menyambut kami. Ruangan yang penuh dengan buku-buku, poster-poster, dan dokumentasi penampilan Kala Teater semakin memanjakan mata kami. Beberapa teman mulai berdatangan, dan dimulailah #KelasMelamun yang pertama kali di Makassar. Kak Shinta Febriany mulai berbagi cerita dan pengalamannya mengenai Teater dan Kota. “Kota seharusnya paham akan posisi kesenian dalam membangun masyarakat, Salah satu kesenian tersebut adalah teater. Melalui teater kita bisa mengasah kepekaan antarmanusia. Jika kita memiliki kepekaan maka masyarakat akan terbangun,” cerita kak Shinta. Ia menambahkan bahwa kota yang serba menitikberatkan pada pembangunan, citra, dan melupakan kesenian harus diinterupsi. Kita harus mengingatkan bahwa kota seharusnya dibangun juga oleh kesenian. Oleh karena itu, kita harus tetap mengeluh mengingatkan pentingnya kesenian, tetapi kita mesti make something, dan teater ada untuk mengingatkan itu. “Teater kini tidak lagi hanya untuk menceritakan realitas yang ada di masyarakat, tetapi lebih dari itu, teater ada untuk merefleksikan sesuatu,” tambah kak Shinta.

Beberapa teman kemudian ikut bercerita dan bertanya seputar teater dan kota. Ruangan yang dipenuhi sekitar belasan pemuda pemudi semakin ramai dengan tawa dan cerita. Tak terasa magrib telah menjemput dan menandakan #KelasMelamun bulan April telah usai. Meski masih ada teman yang masih ingin bertanya dan bercerita. Namun, apa daya tangan tak sampai memutar waktu. Kak Shinta menutupnya dengan harapan bahwa kota dapat mengapresiasi kesenian dan kita harus terus berkarya dan membuat sesuatu untuk kota. Kak Shinta juga mengungkapkan kebahagiaannya karena telah diajak melamun dan berharap kita tetap melamun karena #KelasMelamun merupakan wadah sharing sedikit pengetahuan dan pengalaman. Kami mengakhiri #KelasMelamun tentu saja dengan ucapan bahagia dan terima kasih dan tak lupa pula, foto bareng.

So, tetap melamun ya, dan sampai ketemu di #KelasMelamun bulan depan! :)

 


catatan dari ketjilbergerak:
#KelasMelamun cabang Makassar ini terlaksana atas semangat dari teman-teman Kedai Buku Jenny dan VonisMedia, Makassar.
Mau membuat #KelasMelamun di kotamu? Boleh :)  langsung hubungi ketjil.bergerak@gmail.com ya :)