Jalanan merupakan tempat ajang kontestasi?

Jika kendaraan bermotor memenuhi jalanan, jalanan tidak lagi sebagai tempat kontestasi. Budaya yang berubah dan berubahnya makna jalanan tak bisa ditangisi. Penuhnya jalanan menjadi pengingat bahwa jalanan itu tak lagi tempat kontestasi, melainkan tempat berpikir, tempat merenung, tanpa sadar dilakukan saat mengendarai kendaraan.

Dulu ada istilah banyak jalan menuju Roma, sekarang jalanan menjadi sedikit karena dipenuhi kendaraan bermotor, apalagi saat banjir pilihan jalan menjadi sedikit. Namun, jalanan tetaplah tempat berpikir dan merenung. Jalanan aspal menjadi tempat melaju sambil berpikir.

Ada juga istilah “tua di jalan”. Seumur hidup kita melewati jalanan, kita tua di jalan. Sungguhkah? Kalau berpikir soal waktu, memang demikian. Namun, bukankah kita juga muda di jalan. Di jalan melaju, bersama teman, bersemangat sendiri mengejar cita-cita. Berkali-kali ketika menghadapi masalah diucapkanlah credo “pasti ada jalan”.

Ya, memang pasti ada jalan, jalan tidak akan lekang oleh waktu kecuali ada kendaraan terbang seperti pada film futuristik. Jalan menjadi makna hidup itu sendiri, berjalan di jalan yang dipilih dan ditempuh, itulah jalan dan artinya entah sampai kapan.