Reporter:  Lintang Kertoamiprodjoe

DSC_2817

ORGASME!
Setan mana yang tidak hadir memanjakan inderamu selasa malam ini. Iya, mereka bersekongkol malam ini, mereka sedang reuni di acara ketjilbergerak “IDEOLOGI FRANCHISE DAN PAJAK YANG BELUM DIBAYAR”. Tema yang menarik, bagi yang awam sekalipun pasti akan menyambung dengan tema dan judul yang diangkat oleh kawan-kawan ketjilbergerak kali ini. Para senimannya pun memvisualkan tema dengan hasil karya yang tidak biasa. Sebut saja Yujin Sick, Bagus Priyo Beruang serta kolaborasi karya ketjilbergerak dengan Robomonzta. Mata, telinga, rasa, raba, ah semua dimanja dengan manis tanpa teriris.

***

Saya pikir saya akan datang terlambat, karena saya sebelumnya janjian dengan seorang kawan sebelumnya untuk datang bersama dan kita salah tempat janjian. Oke, kita saling mencari dan saling menunggu. Tetapi pada akhirnya, lagi-lagi saya harus memuji semesta dan Gusti Allah yang membuat kita bertemu. Ah, saya sempat singgah di kosannya sebentar sebelum menuju ke Omah Kayoe Art Space. Kita berangkat bersama.
Sesampai di Omah Kayoe, nampak juga Bung Eko Marjani dari koalisinada sedang berbincang dengan kawan, kemudian datanglah kawan-kawan yang lain. Banyak sekali kawan-kawan lama yang lama tidak bersua. Saling bertegur sapa. Para musisi pengisi acara pun beberapa sudah terlihat di lokasi. Hoodie Woody Freaky terlihat beberapa personilnya sudah di lokasi. Personil Mimpi Biasa sudah di lokasi. Pun Needles Factory, saya belum menemukannya di lokasi. Sepertinya ada yang salah dengan mata saya ini.

***

Tepat pukul setengah delapan malam, Alfan, seorang lelaki kondang pembawa acara mulai mengakomodir bala pasukan untuk merapatkan barisan. Membentuk saf. Dengan membawa megaphone. Dikeraskan suaranya dengan lantang. Memanggil sebagian pemuda yang sudah datang dan masih bergerombol di depan sebuah art space yang sekaligus tempat meminum kopi dan bertukar ide yang apik, Omah Kayoe.
Nampak, Alfan melangkahkan kaki, memanggil seseorang ke lorong sebelah, diberikannya megaphone kepada Mas Yosa, perupa dari Kota Batu untuk memberikan sambutan hangatnya. Dilanjutkan juga oleh Mas Novan dari Tani Maju. Sepertinya, kasak kusuk suara penonton terdengar tidak sabar ingin segera masuk ke dalam ruang galeri. Sementara saya berdiri di samping Yujin Sick, sambil berbincang ketika tetiba bung Greg mempersilakan juga kami untuk segera memasuki ruang galeri.

***

Ruangan ini kecil, tetapi penuh dengan kehangatan. Memasuki pintu masuk galeri, pengunjung akan disambut oleh sebuah patung yang bertumpuk empat, di sebelah kanan ada sesobek tulisan dari Sita Magfira. Jika berjalan ke kiri, akan ditemui karya dari Bagus Priyo Beruang dan tepat di balik patung bertumpuk empat, akan ditemui karya dari Yujin Sick.
Di depan pintu masuk, ada sebuah meja di kanan, ada dua perempuan, nona Sita dan nona Vani serta seorang lelaki, Ervan. Mereka sedang asik merayu pengunjung, meminta mereka mencumbukan nama pada sebuah kertas serta menghadiahi sebuah kertas pula dengan beberapa lembar stiker yang merona.Saat saya melangkah, sebelum menuliskan nama, lagi-lagi saya harus menerima bahwa saya dipanggil “MBAK” untuk kesekian ribu kalinya. Kami tertawa-tawa. Meja sebelah masih penuh dengan jajanan kecil nan menggugah.

***

Yujin Sick & Bagus Priyo Beruang

Yujin Sick & Bagus Priyo Beruang

Mimpi Biasa

Hoodie Woody Freaky

Needles Factory

Mimpi Biasa sedang bersiap untuk memainkan beberapa nada. Pengunjung masih memutari ruang kecil di samping tempat performer sedang berasyik masyuk.
Hoodie Woody Freaky tampak menunggu si vokalis sekaligus gitarisnya, si Haykal. Sebentar mereka cek sound. Lalu memainkan satu lagu, yang belum selesai, ada sebuah kendala. Ah, but it’s not a big deal. Mereka melanjutkan kembali bersenggama dan menyenggamai telinga penonton. Penonton bersorai riang. Ada diskusi kecil saya dengan bung Greg, soal kanan hingga kiri. Saya beranjak sebentar, menemui kawan di ujung ruang. Lalu beralih ke ruang galeri, sempat pula bersua dengan bung Aji Prasetyo dan Hoodie Woody Freaky akan menyudahi persenggamaan telinga hingga sayup terdengar dari sebelah, Needles Factory sudah menggantikan mereka. Kali ini, saya cukup dibuat tertegun, penampilan Needles Factory benar-benar membuat saya larut dalam ambience-nya. Lagi-lagi, senggama telinga dan rasa. Aduh!
Waktu sudah hampir pukul sepuluh, beberapa peralatan mulai dibereskan. Performer pun berkemas. Tersisa beberapa obrolan di beberapa sudut ruang. Di depan pintu, saya dan beberapa kawan menjadi bagian dari obrolan itu. Sampai akhirnya kami sadar waktu dan saling mengucapkan pisah untuk kembali bertemu di lain waktu.
Beberapa pengunjung terlihat masih ada yang mengitari ruang dan reuni tiga kota ini sungguhlah seksi.
Malam ini.

Yujin Sick, saya sendiri, Sita Magfira

Malang.190314.1am