*reporter : A. Brama Adintya & Robertus Krisnanda

“Kiai itu harus seperti seniman yang kreatif agar eksistensinya otentik. Agar ia tidak pasrah kepada tiran duniawi yang mencengkram tengkuknya atau kepada kebekuannya sendiri.”
Adalah salah satu sari percakapan antara Emha Ainun Nadjib dengan Kiai Hamam dalam bukunya “Indonesia Bagian Dari Desa Saya”.

Buku tersebut merupakan esai-esai Cak Nun yang pernah terbit di media massa pada medio 1970-an dan dihimpun kembali menjadi sebuah buku. Dan buku itu kurang lebih menampakkan bahwa masih itu-itu saja ternyata keprihatinan sosial budaya di Indonesia dari jaman Cak Nun belum putih rambutnya hingga sekarang ini beliau ider diundang dari pengajian ke pengajian bersama kelompok Kiai Kanjeng-nya.

Buku “Indonesia Bagian Dari Desa Saya” bagaikan sebuah reportoar kenampakan dinamika hidup manusia yang tidak jauh-jauh pangkalnya dari unsur terkecil lingkungan hidup, yaitu desa. Desa dipilih sebagai sebuah lingkungan hidup yang memuat kultur dan nilai-nilainya sendiri dimana setiap insan manusia meresapi apa yang berlaku di desanya itu. Entah apakah Uyau Moris juga membaca buku itu, namun kurang lebih ia juga melakukan hal yang sama dengan sebuah pagelaran musik.

Namun, Uyau –begitu ia akrab disapa- menyoal sisi lain dari afiliasi manusia dengan desanya. Bahwa nyata ada pada masyarakat suatu sikap akan “bangga desa” yang berlebih, justru menjadi penghalang yang memungkiri hakikat manusia sebagai “mahluk srawung”. Bagi Uyau pribadi, suatu sikap yang sering disebut sebagai etnosentrisme atau primordialisme ini seharusnya tidak tepat tumbuh pada manusia. Hal inilah yang menjadi latar belakang pagelaran narasi musik retrospective “Borneo: Sound of Journey” yang dihelat pada tanggal 28 Januari 2015 lalu di Gedung Societet, Kompleks Taman Budaya Yogyakarta.

Mahasiswa etnomusikologi Institut Seni Indonesia Yogyakarta asal Dayak Kenyah ini melalui perjalanan serta pengalamannya sebagai anak rantau di tanah orang berusaha bercerita tentang pandangan dan keprihatinannya atas benturan-benturan antar suku yang terjadi karena sikap tinggi hati. Melalui 8 reportoar musikal yang ia bawakan selama 120 menit, Uyau menawarkan diri menjadi pengantara bagi hadirin untuk membawa pada sebuah permenungan akan makna hidup bersama dengan damai.

Daya kreatif sebagai wujud eksistensi otentik sebagai seniman seperti yang diutarakan Cak Nun diatas, ia tunjukkan dengan mengeksplorasi musik-musik yang ia bawa ke panggung pertunjukkan malam itu. Lagu-lagu yang ia bawakan mengusung tema seputar kehidupan kultural masyarakat Dayak. Arti kedamaian dan keserasian ia gali secara mendalam melalui musikalitasnya. Walau pun bertemakan kehidupan kultural masyarakat Dayak, namun Uyau mengemasnya dengan lebih universal. Irama melayu dari dawai sape, alat musik tradisional Dayak, berdampingan dengan gendhing-gendhing yang dilantunkan oleh alat musik tradisional Jawa seperti slenthem, gambang dan gong menghasilkan musik etnis yang ceria, energik namun tetap kontemplatif.

Tidak hanya lewat musik, pertunjukkan Uyau itu juga hampir merupakan pertunjukkan seni yang paripurna. Seni tari dan seni peran menjadi salah satu bagian yang dieksplor Uyau untuk terlibat dalam rangkaian silih ganti 8 lagu-lagunya. Dan bahkan seni rupa pun menjadi bagian kesemarakan pertunjukkan itu. Lewat dekorasi dan instalasi berupa patung dan miniatur rumah adat Dayak serta pajangan-pajangan Mandau, senjata tradisional masyarakat Dayak, memperkental nuansa Borneo di Gedung Societet malam itu. Semua menghasilkan sebuah irama keserasian yang indah, saling melengkapi dan harmonis, sama persis seperti pandangan Uyau atas tidak perlunya sikap etnosentrisme maupun primordialisme.