ketjilbergerak melakukan pembacaan atas realitas dan diekspresikan lewat lagu berjudul Energi Mudamu, Senjatamu! Kini, giliranku yang melakukan pembacaan atas lagu tersebut. Lagu-lagu ketjilbergerak punya satu ciri khusus, selalu diakhiri tanda seru (!) di setiap akhir judul. Terbaca bahwa ketjilbergerak hendak menjadikan lagu-lagunya sebagai seruan. Energi Mudamu, Senjatamu! menjelma propaganda yang menyeru anak muda untuk bergerak! Muda, bagi beberapa orang (termasuk penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia) diasosiasikan dengan “belum atau kurang”. Mangga muda adalah mangga yang belum masak, biru muda adalah biru yang warnanya kurang tua. Bahkan, muda sering diposisikan kedua, semisal istri muda. Seruku, konsep “muda” sebenarnya masih perlu dipermuda!

Aku pernah membaca karangan Seno Gumira Ajidarma berjudul Semangkin (d/h Semakin) yang termuat dalam kumpulan cerpen Penembak Misterius. Aku semangkin, maksudku semakin, yakin bahwa cerpen tersebut hendak memberontak rezim yang berkuasa saat itu, Orde Baru. Bahasa adalah titik tolak pemberontakan Seno. Sebab, bahasa pula yang selama ini jadi legitimasi kekuasaan Orde Baru. Implementasinya melalui politik eufemisme, yakni penghalusan bahasa (di tataran parole). Tersurat dalam Semangkin (d/h Semakin), Santinet menasihati suaminya, Sukab, “Dalam hal bahasa, kebenaran terletak pada apa yang hidup di masyarakat, bukan pada pelajaran Bahasa Indonesia di televisi.” Praktis, menunjukkan energi muda pada masyarakat adalah niscaya, dalam rangka mendobrak definisi “muda” yang inferior.

 

Membaca Energi Muda
Energi Mudamu, Senjatamu! hampir tanpa kejutan. Mendengar judulnya, sudah terbayang lagu yang semangat, riuh, dan provokatif. Mendengar lagunya, bayangan itu terkabulkan. Sebagai penggugah, lagu ini kunyatakan berhasil. Sekalipun bagi orang sepertiku, yang akrab dengan lagu absurd nan kontemplatifnya Dir en Grey maupun Sukekiyo. Hematku, energi pada lagu tersebut bukan pada musiknya, yang dari awal sampai akhir cenderung konstan, meski tak membosankan. Beruntung, di beberapa titik ada selipan instrumen lain sebagai varian. Kendati demikian, aku tetap yakin, Energi Mudamu, Senjatamu! kuat di lirik.

Demo berseberangan/ Terma-terma jalanan/ Logika theologian. Tiga baris pertama, tafsirku, baru sekadar menggambarkan realitas. Betul, realitas yang mesti dilawan! Jalanan seringkali diseberangi term-term suci theologian, yang sayang malah dibuang sembarangan. Ayat-ayat lokal dibentangkan hingga seolah-oleh universal, dengan kata lain, dipaksakan jadi narasi besar.

Libido pengetahuan/ Argumen dibatalkan/ Mental kepemilikan. Bagian ini cukup menarik. Sebetulnya, sekolah lebih sering dijadikan tempat masturbasi ketimbang toilet. Di sana, siswa-siswi menyiksa diri dalam lembar-lembar teks ujian, hanya demi nilai bagus yang dianggapnya “nikmat”. Selulusnya dari sekolah, segalanya pengetahuan seakan lepas, orientasi langsung berpindah pada materi. Lha wong di sekolah cuma masturbasi, kalau nikmatnya sudah habis ya cari kenikmatan lain.

Mobilitas, hasrat, visi/ Jangan beku!/ Potensi, rayakan! Jelas, energi muda mesti mewujud mobilitas, merasuk dalam hasrat, dan terancang rapi jadi visi. Selain itu, haram membeku, wajib cair dan kontekstual. Setiap gerakan tak boleh mengabaikan kondisi jalan. Kemudian, rayakanlah Energi Mudamu, Senjatamu!

Tangan berjabatan/ Bangun kebaruan/ Apa yang dikabarkan. Sesungguhnya, jomblo-jomblo termuliakan dalam pergerakan. Siapa lagi yang mau menjabat tangan jomblo, apalagi di malam Minggu, selain kawan seperjuangan? Aku teringat nasib Soe Hok Gie yang ia prasastikan dalam Catatan Seorang Demonstran. Jomblo boleh tak dapat tempat di hati pujaan, namun di pergerakan, ia boleh berdiri di garis depan!

Tentang perbedaan/ Carilah persamaan/ Dalam sebuah himpunan. Percayakah kau bahwa Tuhan menciptakan perbedaan untuk saling diperangkan? Aku tak percaya! Perbedaan adalah niscaya. Namun di taraf tertentu, selalu ada kesamaan. Pada titik itu pula mesti dihimpun dalam suatu pergerakan. Tak perlu bikin partai atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), yang kini dikerenkan dengan sebutan Non-Government Organization (NGO). Cukup dengan berteman, tak usah muluk-muluk. Aku dan kamu teman/ Kamu dan dia teman/ Dia, kita bersaudara.

 

Maklumat Pembaca
Menyoal lirik, Energi Mudamu, Senjatamu! memang tak mendayu-dayu, terkait kebahasaan. Namun di sinilah aku menangkap ide bahwa pembacaan kita pun mesti dipermuda. Pesan dalam sebuah lagu tak harus disampaikan lewat syair-syair teratur, yang mengandung subjek-predikat-objek plus keterangan. Lirik lagu Energi Mudamu, Senjatamu! terpecah-pecah dalam kata dan frasa. Hampir tanpa kata hubung. Namun sebagai lagu secara keseluruhan, mustahil menyatakan kata dan frasa yang terpecah-pecah itu serta-merta tidak berhubungan. Hubungan antar kata dan frasa dibangun sendiri oleh pendengar. Artinya, lagu tersebut bersifat terbuka, sekalipun seruannya provokatif. Setidaknya, Energi Mudamu, Senjatamu! tak memaksakan kesamaan, yang jadi narasi besar. Sebab, berbeda itu biasa!

Demikian pembacaanku yang belum dan tak akan pernah selesai. Lagu boleh saja terlupakan, dan setiap lagu mau tak mau harus menanti giliran. Namun pesan yang hendak disampaikan tak akan pernah mati. Tafsiran akan terlahir berkali-kali, menjadi-jadi, dan semakin melengkapi. Pun kemudaan, setiap jasad akan menua, sampai suatu saat pasti sirna. Namun energi, perkara lain lagi. Energi yang setia pada muda adalah senjata. Untuk melawan siapa? Rumuskanlah sendiri. Satu yang pasti, lawan bukanlah mereka yang sekadar beda. Perbedaan bukan dasar permusuhan. Lawanlah pengusung ketidakadilan, pemuja penindasan, penuhan diri sendiri, dan memberontaklah. Mengutip Albert Camus, “Pemberontakan adalah cinta, atau bukan apa-apa sama sekali.” []

 

Udji Kayang Aditya Supriyanto
Redaktur Majalah Kentingan, mengelola blog jelata adiksikopi.blogspot.com, dan untuk mengisi waktu luang: belajar di Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta.