Dampak peristiwa 11 September sepuluh tahun lalu belum berakhir. Serangan-serangan Amerika dan sekutunya terhadap negara-negara yang tidak sepakat dengan Perang Melawan Teror-nya Amerika, yang lalu dianggap negara teroris juga, terus berlanjut. Tidak hanya perang fisik, serangan berupa propaganda juga gencar dilakukan dengan biaya yang jumlahnya mencengangkan. Indonesia pun menyambut ajakan perang Amerika (tentu saja menjadi anteknya). Tiba-tiba teroris menjadi begitu nyata, muncul dengan teratur di semua media, dan kita dibuat selalu waspada—tepatnya takut—jangan-jangan tetangga kita adalah anggota Jemaah Islamiyah atau bagian dari Jihad Internasional. Dan memang demikian tampaknya. Semakin banyak laki-laki berjenggot dan bercelana panjang-tanggung, juga perempuan dengan hijab yang menyisakan mata saja untuk dilihat, ada di sekeliling kita. Sebagian (besar) umat Islam sendiri pun merasa risih dengan kehadiran makhluk-makhluk baru itu. Kita pun akhirnya tidak punya pilihan selain ikut mengutuk terorisme. Dan solusi moral yang ditawarkan pada kita adalah sikap yang jelas: toleransi.

Kelompok Islam fundamentalis, sebutan bagi orang-orang yang digambarkan bermata tajam, penuh kemarahan, dan mungkin menyembunyikan bom di balik rompinya, adalah orang yang tidak toleran dengan agama lain dan juga terhadap penafsiran berbeda dari agamanya sendiri. Tujuan politisnya dipaparkan dengan begitu jelas pada kita lewat media: Indonesia akan dijadikan negara Islam dengan Syariah Islam sebagai aturan resminya. Maka, seluruh elemen masyarakat, tentu saja termasuk LSM yang dibiayai Asian Foundation, Ford Foundation maupun Hivos, yang menentang tujuan politis kelompok fundamentalis Islam yang (sejauh bisa dibayangkan) tidak akan toleran, mengharapkan negara Indonesia di bawah Dr. Susilo Bambang Yudhoyono yang tentara itu, lewat Densus 88-nya yang dari kepolisian, menghabisi semua teroris yang membahayakan hidup orang lain, terutama hidup kita sendiri—orang yang merasa lebih toleran, lebih tidak fanatik, atau, istilah kerennya, lebih sekuler; dan istilah kesukaan Amerika-nya, lebih liberal. Karena sudah menyangkut eksistensi atau keberadaan kita sebagai manusia, mau tidak mau, kita menjadi bagian dari kisah War on Terror-nya Amerika.

Di satu sisi, ada cerita kepahlawanan ala Hollywood dimana Amerika adalah hero-nya dan pasukan kontra-terorisme di seluruh dunia, termasuk Densus 88, adalah pembantu-pembantunya yang setia. Di sisi lain, kemarahan yang lahir dari ketertindasan berpuluh-puluh tahun masyarakat Islam (kasus Israel-Palestina) dan kejatuhan berabad-abad dunia Islam (penjajahan Inggris dan Perancis, dan sekarang Amerika, di Timur Tengah) membangun narasi yang berbeda. Memakai cara pandang dikotomis pahlawan-penjahat, kaum fundamentalis adalah pahlawan-pahlawan pemberani yang rela mengorbankan diri dalam melawan imperialisme Amerika dan sekutu-sekutunya, termasuk Indonesia sebagai sekutunya. Karena, memakai kata-kata politikus Partai Bulan Bintang Ali Mochtar Ngabalin “Ibarat kata: Amerika mengucapkan lafadz al Fatihah, maka SBY-lah yang akan menjawab amiin,” melawan SBY juga berarti melawan Amerika.

Pameran fotografi Mental Histoire ini mengajak, setidaknya saya, untuk merenungkan posisi diri dalam perang di atas dan, untuk sampai di sana dan mungkin keluar dari sana, merenungkan posisi diri dalam memandang agama. Menurut ketjilbergerak, konseptor pameran ini, dalam beberapa kali perbincangan, Mental Histoire tidak lain dan tidak bukan adalah agama. Dalam pengertian: agama, khususnya di Indonesia, adalah dogma adalah sistem adalah kehidupan material yang membentuk diri kita, membentuk mental (pikiran?) kita. Dan mental individual kita ini akan berbalik memberikan sumbangan untuk membentuk mental masyarakat kita. Siklus dibentuk-membentuk inilah tampaknya yang ingin dirasakan dan dipelajari oleh ketjilbergerak.

Namun, saya tidak tahu-menahu bagaimana pengkerucutan dan haluan ideologis ketjilbergerak dalam memilih foto-foto yang dihadirkan dalam pameran. Saya juga tidak tahu pertimbangan estetis pemilihannya. Yang saya saksikan sejak pertama, kecuali beberapa foto yang tidak jadi ditampilkan, adalah apa yang para pengunjung pameran saksikan juga.

Sedari awal, saya sudah tertarik dengan tajuk pameran ini: Mental Histoire. Yang dimaksudkan penyelenggara pameran ini dengan tajuk itu adalah Sejarah Mental. Yah, meski dalam frasa yang benar secara tata-bahasa, atau sintaksis lebih sempitnya, Sejarah Mental mungkin diterjemahkan L’histoire Mentale dalam bahasa Perancis dan Mental History dalam bahasa Inggris. Mental Histoire itu sendiri sebenarnya ora muni atau ‘tidak berbunyi’, tidak bermakna secara semantik karena salah secara tata-bahasa dan tidak tepat kata-katanya. Namun, toh frasa itu tetap hadir. Dan kita, maksud saya, saya sendiri, dipaksa untuk memaknainya sebagai, atau lebih tepatnya memberikan referen atas frasa itu pada, Sejarah Mental. Gaya sok intelektual dengan frasa-frasa asing memang sedang menjadi salah satu fenomena kebahasaan kita. Tujuan utama gaya macam itu, di samping tujuan-tujuan praktis lainnya, adalah untuk merasai diri berada dalam jajaran para intelektual atau dianggap intelek. Inilah salah satu bentuk inferioritas kita. Apakah inferioritas ini juga ada dalam sikap kita dalam memaknai agama? Entahlah.

Meski saya enggan membeokan apa yang ingin disampaikan oleh penyelenggara pameran, karena pembeoan itu juga berarti pembatasan tafsir subjek-yang-memandang foto, saya merasa perlu menyampaian kronologi gelegar-nalar (brainstorming) konsep Mental Histoire. Alasan saya sederhana dan agak profetik: mungkin para subjek-yang-memandang foto dalam pameran ini akan kebingungan dengan beragamnya objek foto yang ditampilkan. (Meskipun kebingungan itu dijawab, atau setidaknya diantisipasi, oleh Pernyataan Fotografer). Dalam pembicaraan awal, ketjilbergerak ingin mengangkat agama dari ritual-ritualnya dan memasuki “medan pemaknaan” dari sana. Maka, tidaklah heran jika banyak foto berhubungan dengan ritual agama (foto-foto Aditya Suryaputra tentang Penyalipan di Filipina, satu foto dari Victor Puguh Harsanto, foto-foto Hindrawan, dan beberapa foto Pius Rahardian Putranto). Sedangkan foto-foto lain berhubungan dengan kegiatan-harian-yang-menjadi-ritual. Berarti, kegiatan sehari-hari pun sudah mirip dengan upacara. Misalnya, “ritual metropolitan” dan ritual adat dari foto-foto Victor Puguh Harsanto. Dalam gelegar-nalar selanjutnya, yakni ketika Ketjil Bergerak menjabarkan konsep pamerannya pada Hysteria, tercetus ‘tema’ baru yang lebih sempit, yakni, dalam bahasa Inggris pula, What Is Religion? Tommas Titus Kurniawan dan Gatot Caesario Tolando adalah perespon ‘tema’ yang disempitkan itu.

Ketika semua foto sudah tersaji, pemisahan-tegas tema pertama dan kedua tak lagi berarti. Foto-foto Titus dan Gatot menjadi bagian dari keragaman-karena-keluasan-tema foto-foto yang telah dipilih sebelumnya. Gatot menyumbangkan foto-konsep narasi kemarahan yang mewujud dalam sikap menyerang (bahkan dengan mengorbankan diri) dan Titus mempersembahkan keluarganya menjadi simbol masuknya agama pada diri sebagian besar orang Indonesia.

Bagaimanapun juga, foto ritual memang mendominasi. Wajah-wajah khusuk, khidmat. Kepasrahan diri yang sempurna. Saya kira inilah inti dari ritual. Dan kekhusukan itu hadir pada kita untuk kita renungkan pencapaiannya (tidak semua orang bisa khusuk dalam upacara) seperti puisi sederhana yang padat dan menjadi. Atau kita tonton saja sebagai bagian dari agenda komodifikasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata—agama ‘kan kebudayaan juga, dan ritualnya ‘kan bisa dijual juga. Yang pasti, ritual, entah agama entah metropolitan entah keseharian, hadir bersama-sama, dan musti diterima sebagai sederajat. Itu karena, ternyata, semuanya penting! Dan semuanya adalah penghayatan kita akan hidup. Saya katakan sederajat bukan untuk merendahkan keberadaan agama. Tapi lebih untuk bersikap realistis. Sejak kecil kita diberi pelajaran agama dan ilmu pasti (termasuk biologi) secara bersamaan. Jadinya, kita menerima hikayat penciptaan Adam-Hawa, tapi juga mengamini teori evolusi Darwin.

Saya tidak ingin mengatakan bahwa dengan demikian, kita mustinya toleran terhadap agama atau kepercayaan lain atau tafsir lain. Dan saya kira kalau pameran ini dimaksudkan demikian—untuk membuat kita lebih toleran—tidak perlu ada pameran karena kita cukup menonton TV saja (itu setidaknya untuk saya). Toleransi itu selalu punya batas. Dan batasnya adalah ketidakadilan. Kita, misalnya, menuntut kaum fundamentalis untuk toleran pada tafsir lain; dan dengan demikian kita tidak mentoleransi tafsir mereka! Yang dibawa dengan anggun pada saya oleh beberapa foto dalam pameran ini (semua foto Adit, beberapa foto Pius dan Hindra) adalah sesuatu yang pernah datang pada saya dan saya abaikan. Yakni: kepercayaan akan jalan hidup. Dengan modal kepercayaan, kita akan berjuang untuk emansipasi, bukan mengharapkan toleransi. Kita memperjuangkan hak kita untuk percaya. Perjuangan inilah kebudayaan itu, seperti foto Sholawat Rodhat dari Hindrawan.

Foto yang terakhir saya sebut itulah yang membuat saya berhenti sangat lama dan memperhatikan detailnya begitu rupa. Peci, kacang tanah, kabel mikrofon, sarung, tikar, dan yang paling asyik, corak tikarnya. Mungkin karena saya, secara KTP dan lingkungan, adalah Islam dan hidup di desa. Foto ini membawa saya pada pengajian, orang-orang tua yang sederhana dan bijaksana, kebersamaan, tafsir-tafsir Alqur’an untuk kebaikan bersama, kesejukan desa karena do’a-do’a, hingga perkataan Soekarno tentang peci. Dan semua itu tetap di sana di dunia pikiran saya, tidak pergi kemana-mana. Saya menemukan Islam sebagai kebudayaan yang dicipta manusia-manusia, bukan sebagai kumpulan perintah dan larangan yang tak bisa dinegosiasikan lagi.

Bagaimana dengan Familie Effect (Bahasa apa lagi ini?!)? Saya kira untuk menikmati hasil photoshoper ini kita harus cepat-cepat menghapus Pernyataannya. Oke, katakanlah bahwa ia berusaha untuk menelisik agama dari perasaan-perasaan manusiawi hubungan keluarga. Namun, bagi saya, foto-fotonya justru berbicara sebaliknya: bahwa saya diajak untuk mengidentifikasi wajah-wajah keluarga itu dengan kupu-kupu dan warna-warnanya, bukan dari kemiripan genetisnya atau dari aura-aura wajahnya. Atau, dari tempelannya alih-alih dari garis-garis aslinya. Secara sinis, atau justru kejawen, mungkin agama juga bisa dilihat demikian. Agama resmi di Indonesia cuma impor dan yang namanya agama ya cuma ageman (pakaian).

Foto-foto Gatot Caesario Tolando mirip dengan foto Aditya Suryaputra dalam satu hal: cerita. Keduanya bisa disebut sebagai foto seri. Semua foto berkaitan secara naratif, ada awal dan akhir. Meski, saya rasa, pembacaan tidak harus melalui segmen-segmen per foto. Foto Adit fokus pada peresapan dogma, sedangkan foto Gatot lebih pada eksekusi di dunia luar-diri. Toh, kita tetap bisa bilang: mereka tetap menyatakan eksistensi dogma-dogma.

Seperti yang sudah saya singgung, dunia yang dibawa sebagian besar foto dalam pameran ini pada saya adalah dunia kepercayaan sebagai jalan; sebagai peristiwa yang bukan hanya sudah terjadi, tetapi ada dan hidup. Maka, bolehlah dikatakan bahwa dalam konteks Perang Melawan Terorisme yang sudah saya jabarkan di awal, mereka membawa sebuah dunia-apa-adanya; dunia beragam yang tidak bisa diseragamkan oleh propaganda kontra-terorisme maupun tafsir-tunggal fundamentalis yang memuakkan.

Wahmuji
Penulis Majalah BASIS dan salah satu pendiri dan penggiat LIDAHIBU, Yogyakarta