Sebuah Catatan Pendek tentang Seruan “Berbeda Itu Biasa”

Apa yang mau diceritakan tentang perbedaan di antara kita sebagai orang-orang Indonesia ketika perbedaan menjelma menjadi momok dan penyamarataan dipakai sebagai cara gampang untuk mengelola kehidupan dengan segala pernik-perniknya? Kita sudah punya “Bhinneka Tunggal Ika” sekaligus sebagai memoria dan cita-cita. Sayang, belum begitu terasa pada bagian aktualitanya. Untungnya, kita masih punya nalar, hati, dan nyawa untuk sekedar berkata-kata bahwa hidup dalam perbedaan itu biasa, dan justru dalam perbedaan-perbedaan kita menemukan mulianya kemanusiaan dan kerjasama antarmanusia.

Kisah Kura-kura dan Kelinci
Beberapa minggu yang lalu dari seorang kawan saya mendapatkan sebuah cerita tentang kura-kura dan kelinci. Dua binatang ini dikisahkan sedang mengadakan perlombaan lari. Dapat dibayangkan sebenarnya siapa yang akan memenangkan lomba adu cepat itu. Tetapi tunggu dulu, yang tak terduga dan menarik adalah komplikasi yang terjadi pada sosok kura-kura dan kelinci yang dihadirkan sepanjang kisah itu.

Diceritakan bahwa segera kedua binatang mengambil start untuk berlari. Si kelinci langsung melesat dan ketika ia melihat bahwa si kura-kura tertinggal sangat jauh di belakangnya maka berhentilah ia untuk beristirahat di bawah pohon yang rindang. Rupanya si kelinci tertidur di bawah pohon itu. Ketika terbangun, ia mendapati bahwa si kura-kura sudah lebih dulu sampai di garis finish. Pesan dari cerita adalah barangsiapa meskipun lambat tetapi stabil akan sampai ke tujuan. Tetapi cerita tidak berhenti di sini.

Si kelinci sangat menyesali kecerobohannya. Maka kemudian ia menantang si kura-kura untuk berlomba lagi. Si kura-kura menyanggupinya. Lalu mulailah keduanya mengambil start, dan berlari. Si kelinci tidak menyia-nyiakan waktu. Ia berlari cepat dan segera sampai di garis finish. Ia menang. Pesan dari cerita adalah barangsiapa lebih cepat dan konsisten akan mengalahkan yang lambat walau stabil berusaha.

Pada titik ini, si kura-kura tidak mau kalah. Maka ia menantang si kelinci untuk adu cepat lagi, tetapi dengan rute lintasan lari yang berbeda. Si kelinci menerima tantangan ini. Kemudian keduanya sudah siap di garis start dan mulai berlari melewati rute yang sedikit memutar. Si kelinci tancap gas dan lari meninggalkan si kura-kura. Tetapi tanpa disadarinya, rute yang baru ini harus melintasi sungai yang lumayan dalam. Si kelinci terhenti di tepi sungai itu dan kebingungan bagaimana melintasinya. Ketika si kelinci sedang kebingungan itu, si kura-kura melewatinya dan melintasi sungai itu sehingga kura-kura sampai di garis finish. Pesan dari cerita adalah pertama-tama kenalilah kompetensimu dan ubahlah arena kompetensi sehingga sesuai dengan kompetensimu itu.

Setelah tiga kali bertanding itu, si kura-kura dan si kelinci berangsur menjadi kawan baik dan berbicara satu dengan yang lainnya, termasuk mengatur strategi bagaimana agar keduanya bisa melalui rute yang baru itu. Ditemukanlah cara, yaitu pertama-tama si kelinci berlari cepat dengan menggendong si kura-kura hingga di bibir sungai. Yang kedua, di sungai itu si kura-kura gantian menggendong si kelinci. Yang terakhir, di lintasan seberang sungai si kelinci kembali menggendong si kura-kura. Keduanya sampai di garis finish bersama-sama. Pesan dari cerita adalah sungguh baik menjadi individu yang brilliant, tetapi sebelum seseorang bisa bekerja di dalam sebuah tim, pencapaian biasanya selalu berada di bawah harapan. Sebab, ada kalanya pada situasi tertentu individu lain bekerja lebih baik daripada yang lainnya.

Merayakan Perbedaan di Juminahan
Cerita tentang perbedaan kura-kura dan kelinci, dan juga tentang strategi mengatasi perbedaan di antara keduanya, itu langsung mampir di benak ketika saya hadir dan menyimak aneka pertunjukan seni di panggung RW 14 Kampung Juminahan Kecamatan Danurejan Yogyakarta beberapa waktu yang lalu. Pertunjukan itu bertajuk “Berbeda Itu Biasa” dan diselenggarakan secara kolaboratif oleh Universitas Sanata Dharma, ketjilbergerak, dan pemuda-pemudi dari tiga kampung yaitu Juminahan, Tegalgendu, dan Jogonegaran.

Di panggung rukun warga itu, dari siang hari hingga tengah malam, ditampilkan kesenian tradisional tari-tarian, tarian balet, dolanan bocah, drama anak, tembang-tembang Jawa, tetapi juga macam-macam aliran musik dari berbagai kelompok musik kawula muda di Yogyakarta, termasuk jazz dan hip hop. Yang menarik adalah terjadinya dialog tak habis-habisnya antara mereka yang di atas panggung dan mereka yang berada di halaman panggung sebagai penonton. Terlebih, kehadiran trio stand up comedian yang menjadi master of ceremony menjadikan panggung pertunjukan itu tak ubahnya ruang dialog yang penuh canda tetapi tak jarang juga getir karena obrolan menyentuh pula soal-soal yang menjadi keprihatinan masyarakat seperti problem korupsi, kerusakan lingkungan, kemiskinan, kekerasan, radikalisme, dan ketidakpedulian antarsesama. Hujan yang turun pun tak menyurutkan antusiasme dari yang menyelenggarakan acara dan para penonton yang hadir.

Pesan kuat yang hendak disampaikan dalam pertunjukan itu adalah bahwa, satu, tidak mungkin kehidupan manusia meniadakan perbedaan, dan dua, dalam perbedaan yang ada justru manusia dan sesamanya menemukan keindahan kebersamaan. Maka menjadi terang benderanglah bahwa “berbeda itu biasa”, dan tiap-tiap manusia dengan segala keunikannya diundang untuk saling mengenal dan untuk menemukan jalan-jalan terbaik bagaimana melewati hari-hari yang sesungguhnya tidak mungkin dijalani secara sendirian. Tidak semua adalah kura-kura atau kelinci menurut cerita seorang kawan tadi. Tetapi di hadapan tantangan-tantangan hidup, perbedaan antara kura-kura dan kelinci membangkitkan akal dan hati untuk menemukan jalan yang menghormati kelemahan dan sekaligus mengembangkan kekuatan. Menyitir filsuf Driyarkara, hakikat manusia ada dalam relasinya dengan manusia yang lain, sebagai sahabat yang saling mendukung dan menumbuhkan. Dalam bahasa Latin ia menyebut “homo homini socius” atau “manusia adalah kawan bagi sesamanya”.

Dari panggung pertunjukan rakyat di kampung Juminahan itu sesungguhnya ada gugatan terhadap pandangan bahwa – entah bagaimana itu bermula – perbedaan itu ancaman. Karena mengancam maka perbedaan sedapat mungkin dihilangkan dan keseragaman dianjurkan. Orang lalu lebih aman berada di dalam kelompok yang punya seragam yang sama dengan dirinya. Bahkan kalau perlu pikiran dan perasaan pun dibuat seragam, semenjak sebagai bayi dalam gendhongan hingga menjelang kematian. Di sinilah panggung Juminahan mengingatkan bahwa menolak perbedaan yang terdapat dalam kehidupan manusia merupakan pengingkaran terhadap kehidupan itu sendiri. Dengan lain kata, kehidupan dengan meniadakan perbedaan adalah sebentuk kematian selagi manusia masih hidup.

Lebih daripada itu, panggung rakyat di Juminahan memberikan pelajaran tentang bagaimana agar perbedaan yang ada dalam komunitas tetap hidup dan menyokong kemanusiaan, serta menunjukkan bahwa justru karena perbedaan kehidupan bersama menjadi lebih punya berkat dan manfaat. Tiap-tiap orang di panggung Juminahan dan seputarnya mengambil peran serta menjalankan peran itu sekuat-kuatnya sehingga kerjasama tidak lagi semata tektual di buku pelajaran sekolah, atau advertorial di layar televisi, melainkan kontekstual, berkeringat, berdenyut, menggembirakan, sekaligus mendebarkan. Para remaja menghias sepotong jalan di RW 14 dengan bendera warna-warni dan tangkai-tangkai padi kering yang disulap menjadi bermacam-macam bentuk yang mengundang imajinasi. Pemuda-pemudi mewarnai tembok-tembok gang dengan corak-corak meriah tetapi berpadu dan sepertinya menyampaikan sesuatu pesan tertentu. Bocah-bocah kampung memainkan drama tentang kehidupan kampung pinggir Kali Code yang riuh dengan suasana. Ketika seorang anak berkata-kata yang lain mendengarkan, demikian seterusnya. Ketika semua maunya berkata-kata maka tidak ada yang terdengar kecuali keributan. Saat panggung dipersiapkan, masing-masing panitia pun dalam segala kecapekannya memastikan bahwa panggung tidak roboh, kalau hujan turun penonton tidak basah kuyub, listrik dan sound system prima, konsumsi murah meriah tersedia, tempat parkir motor pun diatur tempatnya, kalau ada yang mendadak sakit ada yang menangani. Semua bergerak, sudah tahu harus melakukan apa.

Jogja: City of Tolerance
Dalam kegiatan-kegiatan itu, masing-masing menanggung pekerjaan yang berbeda, dan cara mengerjakannya pun berbeda antara satu dan yang lainnya. Tanpa harus melihat kamus, apa yang disebut sebagai toleransi segera menjadi jelas buat saya dengan menyaksikan komunitas Juminahan cum suis yang ber-orkestrasi dalam kerja demi terselenggaranya acara mereka itu. Mereka tidak memasang spanduk “Jogja: City of Tolerance”, tetapi segala aktivitas mereka adalah ekspresi paling terang tentang orang-orang Jogja yang ber-toleransi. Kata toleransi berasal dari kata bahasa Latin tolerare yang berarti menanggung. Masing-masing warga Juminahan dan kawan-kawan mereka saling menanggung. Yang lebih kuat menanggung yang lebih lemah. Yang lebih tua menanggung yang lebih muda. Dan sebagainya. Menjadi orang yang toleran di komunitas Juminahan adalah menjadi pribadi yang dalam lubuk hatinya ada ruang buat sesama yang berbeda dari dirinya. Menjadi orang yang toleran adalah menjadi pribadi dengan kesanggupan menanggung kelemahan orang-orang di sekitarnya.

Orang toleran bukanlah orang yang melakukan perbuatan pembiaran. Ada seorang kenalan yang kebetulan singgah di kota Yogyakarta, dan mengajak saya untuk jajan di angkringan. Kebetulan sudah ada sejumlah orang di angkringan pilihan kami. Mereka itu sedang asyik membicarakan maraknya tindak kekerasan oleh sebuah geng motor. Obrolan sampai pula pada perusakan situs bersejarah oleh kelompok dengan identitas tertentu. Juga tentang penyerangan terhadap sejumlah orang yang sedang berdoa. Kekerasan demi kekerasan terjadi, dan semua yang hadir di angkringan saat itu menilai bahwa rasanya ada usaha pembiaran di sana, dan itulah prestasi paling kelihatan dari “Jogja: City of Tolerance” bahwa segala kekerasan yang mengancam nyawa dan keselamatan hidup itu ditoleransi alias dibiarkan.

Angkringan kami malam itu sungguh menjadi mimbar freedom of speech. Setiap orang yang hadir larut dalam obrolan dan ingin berlama-lama di situ. Itu membuat senyum si empunya angkringan. Menjelang tengah malam, obrolan sampai pada topik bahwa toleransi atau pembiaran juga merambah wilayah yang lain, yaitu tidak dihentikannya pembangunan hotel dan mall di kota Yogyakarta setahun terakhir ini. Pada pembangunan hotel dan mall itu dibangun pula sumur-sumur bor. Akibatnya, sumur-sumur warga di seputar kawasan proyek pembangunan mengering airnya. Hingga, sejumlah komunitas warga berteriak keras dan menyampaikan pesan bahwa “Jogja Asat” alias Jogja Mengering. Sebuah happening performance pun pernah digelar di hadapan sebuah hotel, yaitu pertunjukan mandi dengan pasir. Kalau tidak salah, sebuah video dokumenter yang berjudul “Belakang Hotel” pun diproduksi untuk menggambarkan betapa penetrasi pendirian hotel begitu dahsyat mengancam kehidupan warga sekitar khususnya dalam akses terhadap air bumi. “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.” Demikian bunyi pasal 33 ayat 3 Konstitusi Indonesia. Tetapi dalam kenyataan bukan demi kemakmuran rakyat, tetapi kemakmuran investor dan pengembang. Semua yang hadir di angkringan tampak berwajah muram ketika mengobrolkan itu semua. Seseorang tiba-tiba menyeletuk, “Welcome to intolerant city!”.

Seorang bapak berpeci menyahut, “Ah, jangan begitu, Mas. Kota tak pernah intoleran. Kitalah yang intoleran. Karena kita membiarkan semuanya itu terjadi. Tak terusik dan tak pernah gelisah sedikit pun.” Kata-kata bapak berpeci itu terngiang ketika mata saya tertumbuk pada gotong royong dari warga Juminahan dan kawan-kawan mereka. Dengan segala keterbatasan dan kekurangannya mereka berusaha memberikan kesaksian yang hidup bahwa perbedaan-perbedaan yang ada dalam komunitas manusia adalah sarana dan media yang dianugerahkan oleh Sang Pencipta agar manusia menjadi semakin manusiawi. Mereka menegur setiap yang hadir di seputar panggung rakyat itu bahwa menghormati perbedaan itu perlu belajar, dan belajar menjadi toleran tidak pernah mudah. Tetapi yang tak pernah mudah bukanlah sesuatu yang tak pernah bisa untuk dijalankan. Dan dari panggung Juminahan malam itu, dalam gerimis yang tak kunjung usai, saya membawa pesan bahwa pengingkaran serius akan perbedaan, hingga menjadikan manusia tidak manusiawi, pantas untuk dilawan. ***