Sudah dibilang zaman ini masihlah zaman romantis. Romantisme zaman ini tidaklah jauh beda dengan era romantis abad 18. Hanya saja lebih chaos. Chaos yang sechaos-chaosnya chaos. Kita sering dengar kata “alay”, lalu kata “lebay”, “keuleus”, joss buka dikit, sekarang ada lagi cabe-cabean. Apa itu cabe-cabean? Yak, cabe-cabean itu adalah cabe yang sering kita makan, alias lombok dalam Bahasa Jawa.

The hell is lagu dangdut oleh Imey Mey yang dinyanyikan dengan nada genit, karena memang cabe-cabean itu menceritakan keindahan “genit” dari sudut chaos. Liriknya begini:

“Orang bilang abg sekarang genit-genit juga kecentilan, keganjenan, gaya berlebihan keluyuran, cuma nampang doang cabe-cabean, orang bilang cewek gampangan cabe-cabean…”

Sebetulnya dari liriknya saja sudah jelas ini soal estetika romantis “yang nampang dan narsis”, hot seperti cabe. Kekagumannya disampaikan dengan agak sinis. Toh kita bisa belajar darinya bahwa orang harus berani. Berani apa? Berani dandan, artinya ia harus memperhatikan keindahan tubuhnya, harus menampilkan yang baik sebagai rasa syukur.

Juga harus terampil, terampil apa? Terampil bersosialisasi, karena hanya dengan bersosialisasi, orang bertemu dengan orang banyak, bahwa ia tidak hidup sendiri tetapi bersama orang lain. Terampil bersosialisasi dengan percaya diri.

Orang bilang cewek gampangan cabe-cabean, gampangan apa? Gampangan untuk menyapa, untuk rendah hati dan tidak malas untuk bergaul. Demikianlah cabe-cabean mendapat tempatnya di hati rakyat. Rakyat menyanyi dengan genitnya, melepas lelah seharian bekerja keras. Rakyat berjoget dalam suasana hangat malah bisa dibilang hot, karena kitalah sesungguhnya cabe-cabean, manusia yang mencari tempat untuk bergaul, bersama-sama bersyukur atas hidup yang penuh perjuangan.