Tulisan Pengantar untuk Pameran Tunggal Greg Sindana
“Unpredictable Concept: Human, Spirituality, Science”
21-23 Maret 2009, Kanisius, Yogyakarta

oleh: Natan Arya

 

“Siapa yang tahu dari mana mau ke mana?”
Anonim

Greg (…)

Menurut hemat saya Greg Pelukis yang berkata-kata. Berawal dari pengalaman pahit yang baginya adalah benturan-benturan karena semua orang berbohong. Kepentingan, juga posisi atau apalah itu. Sehingga orang jadi bingung. Seperti dirinya? Dan semakin tak mengerti Nurani dan menjauhi kebenaran. Saya jadi ingat Phikarev -seorang tokoh di Cerita Nikolai Gogol, penulis Rusia- seorang pelukis yang sedih yang masygul. Ia berangkat dari kecewa. Karenanya ia berangkat dari kejujuran bahkan kepolosan?


Bagi Greg Melukis adalah berdoa, saat melukis adalah memorabilia waktu dan semua keberadaan yang mampu dicerap. Itu sebabnya Greg melukis, karena melukis baginya lebih eksploratif dan kontemplatif, terbuka untuk tafsir dan terbuka untuk dibongkar pasang. Satu gambar atau lukisan bisa banyak metaphor. Ia melihat betapa seniman adalah dimana kontemplasi adalah makanan sehari-hari guna memberi alternative jalan dan wacana tanpa doktrinasi (less doktriner?). Bagi Greg, Melukis adalah Kewajiban untuk selalu menyajikan alternative yang ya itu tadi less doktrin. Karena Pembacaan butuh kedalaman yang relative pun kontemplatif. Ruang untuk kontemplasi ditunjukkan pada lukisan Greg yang selalu menyisakan tempat kosong. Dan baginya, ia merasa ruang kosong tadi menandakan tak lengkapnya manusia melihat realitas, karena seperti Rm. Sindhunata bilang dalam sebuah tulisan di sampul belakang buku Filsafat Fragmentaris-nya F. Budi Hardiman bahwa “…kemanusiaan kita yang sesungguhnya juga hanya terdiri atas fragmen-fragmen yang tidak utuh juga.”

Greg yang minim bersinggungan dengan pendidikan formal karena SMA diluluskan, kata atau konsep tak menjadi soal. Karena bahasa soal konvensi. Tetapi bagaimana komunikasi bisa terjadi tanpa bahasa. Barangkali ini sebabnya pameran lukisannya diadakan (?). Ia menyajikan sesuatu yang puitik dan majenun dari sesuatu yang profetis menjadi verbal. Karena membenda? Dan bisa dijual belikan? Tak jadi soal.

Homo Ludens, begitulah sering menyatakan dirinya. Manusia adalah mahkluk yang bermain. Ia bermain dengan apa saja yang bisa dimainkan, karena baginya hidup penuh dengan hal-hal asyik yang menggairahkan. Tetapi dimana pesan itu ketika bermain? Apakah ia anti pesan dengan kebermainannya ini? Saya jadi ingat Haidar Bagir penulis itu. Dalam salah satu pengantar Catatan Pinggir Ia menulis “Ekspresi mana yang tak berpesan?” Saya setuju dengan pendapatnya. Greg tetap berpesan lewat karyanya. Berpesan dengan apa yang ia sukai, ia bermain tapi berpesan. Tetapi ada yang seperti dilebihkan oleh Greg. Bukankah pesan ketika jadi permainan hanya akan menyibukkan orang dengan permainan kata? Saya tak tahu. Tapi jika Ia bermain, saya tak meragukannya. Kata seperti agamisk atau mermerous adalah kata-katanya sendiri yang lebih soal ekspresi. Tapi kenapa? Mungkin karena ia menganggap dirinya agent provocateur ?

Menyoal istilah seni, dulu ia pernah bilang kalau seni adalah ranah yang tidak bisa dikekang konsep komunal seperti aturan, moral, obat flu (apakah maksudnya personal?)
Atau yang seperti dikatakan Nietzsche? Seni adalah apa yang diluar the floating mass, melampaui pun jadi tandingan dominasi moral, filsafat, atau agama. Karenanya bersifat daemonic, Ia bilang melukis mengasah sensitivitas karena metode dan aturan itu pengkotakan, yang mana perjanjian menuju rezim.

Dan ia mengajak kita untuk melihat dengan baru, merenung renung sejenak…

Pengalaman

Greg dan saya seringkali berada dalam sebuah pembicaraan seru, tentang berbagai hal, mulai dari pengalaman hidup sampai hal yang seringkali dianggap remeh, hal-hal remeh dalam pembicaraan kami seperti sudut pagar, lengkungan di sendok, dan sepatu menjadi cerita yang saya rasa sangat menarik. Semua hal punya cerita katanya. Bagi saya apa yang dikatakan Greg ini inspiratif sekali. Mengapa demikian? Mungkin penjelasannya sederhana karena mereka Ada. Entah kata ‘mereka’ disini benar atau tidak.

Dan hidup ini jadi menarik sekali, karena sebetulnya kehidupan sehari-hari itu luar biasa.
Pribadinya yang seakan-akan meremehkan semuanya ternyata menyembunyikan sesuatu yang inspiratif. Apa ini karena membuka diri? Jangan-jangan jika demikian orang yang membuka diri pada hidup akan memperdalam kualitas diri/Diri-nya.Bagi saya hal ini pesan yang menyegarkan.

Albert Camus penulis tersohor itu, dengan Mythe Sisype menyadarkan saya bahwa seringkali klaim, vonis, judge, perasaan sudah tahu, adalah kegagalan. Toh berapa orang hebat yang mengklaim kebenaran akhirnya jatuh pada keabsurdan juga. Greg menyadari hal ini. Ia terus berhadapan dengan pertanyaan “Apakah hidup ini layak dijalani atau tidak?” kalau iya saya harus bagaimana? Ia menyadari bahwa ia tak pernah memilih hidup ini, tak tahu darimana mau kemana, maka Ia terus bergulat, Ia baca banyak buku, melihat banyak hal, tetapi suatu ketika ia menyadari ia bukan apa-apa sekaligus Segalanya. Dari situlah Ia memberanikan diri untuk ‘jatuh’ pada potensi dan keberjalanan hidup ini.

Media yang ia pilih (sekarang) adalah lukisan. Pergulatannya ia ekspresikan dalam lukisan dan amboy beberapa kali saya memetik inspirasi dari lukisannya. Yang ingin saya katakan disini adalah media adalah sarana, untuk bermain tapi juga berpesan. Media lukislah yang Ia pilih. Ia melihat banyak kemungkinan disini, Ia berpesan lebih banyak, Ia membagikan apa yang ia miliki untuk banyak orang. Keinginan inilah yang mendorongnya umtuk pameran, semata karena Ia mencoba semakin mencintai hidup dengan berkarya. Lukisan.

Setelah sering ngobrol kesana-kemari tercetuslah ide nekat untuk pameran lukisan. Untuk akhirnya ya ngobrol apa saja dengan banyak orang.. Idenya bahwa silahkan bercerita sesuka anda dengan melihat lukisan Greg atau Greg-nya sendiri..Karena dari cerita-cerita kecil banyak hal tak terduga datang. Bukankah hidup juga banyak yang tak terduga?


Unpredictable Concept: Human, Spirituality, Science

Begini ceritanya: Konsepsi, intelektualisasi, adalah semacam usaha manusia untuk melihat dan menemui Diri-nya. Tapi kenapa malah timbul pertentangan yang banyak ketika konsep beradu. Saya jadi ingat Dr Suzuki, Ia mengatakan seseorang itu sebenarnya: benar sungguh selalu menjalani hidup (lives) yang personal dan bukan macam hidup definisi konseptual dan ilmiah. Seorang teman dalam obrolan mengatakan science dan konsep adalah bikin manusia tak lagi lihat yang indah dari dirinya, kalau dirinya gak berkonsep gak pede, dan jadilah si manusia itu konsep bikinan, padahal mbah Mitro tetangga saya ia nyantai saja, ngawur saja, ia tak sekolah dan hidup dengan damai. Artinya, bahwa Greg tak rela untuk berkarya di bidang yang konsep-konsep, Lukisan salah satu alternative pembebasan itu. Tapi di sisi lain Ia merasa ada sebuah kegundahan atau keraguan, menyoal seni dan perannya. Ia berpendapat seni jadi komoditi, ah tapi kan orang butuh realistis. Paradoks yang problematic. Dan seringkali kita luput melihatnya? Tapi saya tunda dulu vonis-vonis, karena saya tak tahu sama sekali soal seni. Tapi bukankah seni itu membawa pesan? Lukisan juga demikian? Tapi kenapa ya tak ada perubahan yang signifikan yang dihasilkan dari komunitas seni yang di Jogjakarta ini begitu luar biasa di mata Internasional? Ah, seni kan segmented…

Greg pernah berkata di suatu obrolan, bahwa Seperti musik yang semakin ear catchy, lukisan menjadi eye catchy, jadi seperti Ideologi yang diberi tempat di bawah kontrol “sadar”.

Menyoal

Menyoal Lukisannya berarti menyoal pengalaman hidup Greg yang minim bersinggungan dengan pendidikan formal. Hidupnya ngawur. Tapi bukankah kengawuran itu tak ada ketika bicara ranah wahyuniah seperti lukisan. Wong, wahyuniah itu adalah kengawuran yang tidak ngawur. Apalagi ia adalah orang yang percaya pada Walter Benjamin yang percaya pada aura lukisan. Lantas begitu juga lukisannya?

Kalimat, frase atau kata yang dicoret dalam lukisan Greg menandakan bahwa apa yang terucap adalah apa yang hilang, Dengan melihat tanda ini, beberapa dari kita akan bertanya; untuk apa? Barangkali demikian, bahwa kata memakan dirinya sendiri. Ia juga terbang kemana-mana tak tahu sampai mana. Seringkali momen ini terlupakan. Greg mencoba mengingat bahwa kadang ada yang tak terbahasakan, seperti rasa misalnya. Kita tak pernah tahu benar sedang merasa apa kita. Dan kalimat, atau frase atau kata yang dicoret ini, hampir ada di setiap lukisannya. Dan kata-kata memang seringkali tak memadahi untuk menikmati sebuah karya seni. Bahwa rasa gelisah itu akan terus ada, sedangkan kata tak tahu mau kemana.

Coba lihat lukisan berjudul, Selamat agamisk beserta resikonya. Lukisan ini bercerita tentang kesedihan terhadap kategori yang selalu menciptakan oposisi, padahal dialektika alam adalah the interpenetration of the opposite. Yang ga alami seperti machoism dan immunitas cultural tercipta atas kesenjangan dan keinginan akan.. Tank dan dot sama saja sebagai pelengkap dan sebagai mainan untuk menaklukan yang lain. Bayi menaklukkan kesepiannya dengan dot, sama jika ke dalam ranah society “dewasa” (tank). Dan juga soal metode-metode yang menangkal kebaruan, keberjalanan (ketakutan pada kebaruan). Orang lebih senang pada jeruji lembut yang kelembutan itu sendiri bisa berubah maknanya, sama yang diinginkan di manapun, Yaitu definisi kedamaian yang tak pernah selesai. Tapi keinginan malah jadi destruktif karena takut perubahan dan ke yang lainan.

Maka hidup jadi gegambar yang gamang dalam Life Contour yang menyoal 1.Rasisme 2.kenakalan 3.keasyik masukan 4.dosa dan permainan. Menurut Greg Kegamangan itu tersirat dalam konsepsi-konsepsi yang mengandung intertekstualitas yang piuh. Ada kecanggihan disana, mencipta kacamata-kacamata yang bisa untuk melihat maka jadilah hasil dan konsepsi beda. Dan kacamata-kacamata adalah hasil sejarah yang juga butuh kacamata untuk melihatnya, dan manusia adalah kolektor kacamata. Gamang. Karena koleksi tadi membuat pusing karena ada plus dan minus. Ketika dicopot min tambah, jadilah manusia yang phobia arah dan sejarah.

Lepas dari kebesaran sejarah tanpa phobia mengingatkan pada Solomon bijak di lukisan Solomon talks no good things for us. Bahwa jangan-jangan good sekarang jadi malah seperti anjuran. Greg melihat bahwa Visual/Budaya visual menjadi tentang anjuran-anjuran yang artificial (Artificial propaganda) Visual tak lagi jujur. Bahkan pengartian pada yang visual jadi mutlak tidak multi tafsir. Ia bertutur Padahal keinginan-keinginan akan lebah madu dan lobang menaruh telur ada ketika ada implikasi-implikasi bersayap dan konfrontasi atas pencapaian budaya kita, hanya menjadi “ini apa” yang mengarah pada domestifikasi violence. Bagi saya ketika orang mengatakan good ia terasing dari good itu. Dan dengan demikian good jadi komoditi?

The macarony bring luck if you bought it adalah usaha keluar dari domestifikasi kekerasan karena bagi Greg Dekonstruksi menjadikan diri waspada dalam kesenangan yang paradoks. Keinginan untuk mobile ke ranah lain, belajar tentang ranah tersebut. Ada degradasi martabat ketika belajar dalam ranah tersebut. Kacamata merah jambu sudah tidak nyaman dipakai. Saya pernah merenung bahwa modernitas juga begitu? Revolusi memakan kata-katanya sendiri? Penyambutan pada sesuatu lain diceritakan pada Crown is a mean of yellow recognition. Greg bercerita tentang lari atas mahkota tradisi, bahwa ada yang salah atas Greg dan tradisi Greg yang instingtif untuk berlari menyambut. Penyambutan akan keinginan untuk maju. Ia bertanya kok bisa ya punya keinginan tadi? dan rasanya seperti ingin meninggalkan lubang, wong lubang adalah hasil juga, tapi tetap ada keinginan untuk pergi. Pergi untuk menyambut. Ia menambahkan Paradoksnya ia senang berlari dan nguthik-uthik lubang. Nguthik-uthik sebagai dialog pada liyaning liyan.

Dialognya membuahkan hasil. Kejujuran atasnya dalam Wreckoning the lies. 6 poin yang ia utarakan adalah 1.peragaan busana yang sederhana dan membius. 2.standard-standard pola perilaku dan receptance of human being sebagai situs perjalanan. 3. hiburan di bawah gerimis membuatnya berwarna. 4.penipuan/tipuan yang bisa dipermainkan sebatas komoditi jual beli komunikasi. 5.perjalanan ketika harus berhenti pada waktunya. Apakah “kenapa harus begitu?” 6. Ternyata kesepian membawa kenikmatan yang humoris, sarkasme dan mediokratik yang unik.

Bagaimana jika ia berbicara tentang alam? Ia bercerita tentangnya dalam Mengincar kelembapan dan ph balance: menurutnya, bicara tentang alam, juga berbicara tentang self-censorship. Rupanya ada lembaga yang berniat dan merasa punya solusi untuk melakukan apa saja atas nama alam. Baginya ini seperti rekonstruksi kemanusiaan demi kontrol atas liyan. Misalnya perang dan sebagainya. Gesture terbatas. Terjadi pengungkungan manusia. Tubuh jadi pasti, sesuai ukuran, dikekang bentuk. Ukuran inilah suatu consensus yang membunuh atas diri. Self-censorship adalah pembunuhan atas diri.

Pengekangan ini, yang dilakukan diri sendiri ini, seperti siapa yang mengaku benar adalah pembohongan diri besar-besaran yang mengacaukan arti atau entitas kebenaran. Kejahatan-kejahatan dilakukan oleh bayangan mereka, di balik senyum mereka yang pasti. Di balik tampaknya mereka yang manusiawi.

Truth are epistemological, begini Greg bercerita di sebuah burjo: “ Aura-aura purba. Keinginan/ Metode komunikasi yang sudah tidak eksploratif dan komunikatif. Senjata-senjata untuk perjalanan/bekal-bekal untuk berpetualang semakin ditanggalkan menjadi bercinta di bawah kekuasaan raksasa (Negara, Sistem ekonomis, Norma yang membebani)” Orang tak lagi sadar akan keberjalanan hidup, bahkan saat sanggama orang tak sadar sebagai hidup: lahir-dialog-mati.”

Hamil 4 adalah perjalanan sebelum akhirnya Greg tak bisa mencintai (sekali) satu hal saja, Satu wanita saja, Ia menganggap dirinya pengembara yang bertamu ke mana saja. Ia berkata selalu merasakan sukha ketika menghangatkan satu rumah, ketika sudah hangat saatnya meninggalkannya tanpa menutup kemungkinan untuk mampir lagi. 16 Desember 2008 Greg merasa hamil dan akan melahirkan sesuatu. Yang lahir, ya keputusan Greg untuk mengelana. Ia merasa ia berada di pinggiran untuk menonton peradaban.

Alien, pet, working tenticles Bullfroxz ( ) bercerita tentang kendaraan yang mendengus-dengus siap menghajar (entitas yang menggebu) tapi tetap ada kelembutan. Keliaran dikendalikan kelembutan, kebutuhan akan lembut manusia tak terpuaskan itulah yang menjadikan manusia jadi bullfrox, karena ada hierarki: piaraan-tuan-Raja dalam networking yang thek. Ini merupakan pengalaman personal Greg tentang pengalaman personal tak pernah cocok dengan pengalaman bersama.

Profetik, itu adalah kata yang sering diucapkan Greg. Dalam lukisannya mermerous Goldmime agaknya ia bercerita soal-soal profetik. Greg merasa prophecy adalah soal merasa-nyambut ketimbang membunuhi sesuatu. Ia menunggu hal-hal profetik datang kepadanya. Ia selalu mereview hidupnya, terhadapnya ia merenung. Baginya besar tanggung jawab yang ia pikul. Ia bertanya dalam hati “Sudah melakukan apa saja terhadap nama Sindana?” (Sindana, artinya: yang tercerahkan dan mencerahkan orang lain) dan Tuhan baginya dan yang selalu ia katakan adalah yang memerous Goldmime. Yang tak terkata kemerlip dimana-mana. Tak terbatas kata yang precious goldmime.

Pecinta alam juga menjadi sasaran permainan Greg, dalam lukisan Nature Lover misalnya, ia lagi-lagi menyinggung soal alam. Suatu ketika ia bertanya “Nature lover? apa itu nature lover?” tanyanya. Pecinta alam menurutnya jadi seperti pecinta alam yang malah eksploitatif. Tayangan tentang alam malah mengasingkan manusia dari alam, malah di utak-athik sehingga menimbulkan kesan alam tak bisa mengurus dirinya sendiri. “Alam” sebatas kata benda atau obyek. Nhah précis disinilah Nature lover tak in touch dengan alam. Ketika menaruh perhatian pada alam, secara tak sadar manusia terlalu banyak campur tangan memaksakan ide yang kemudian dikenakan secara materialis (pasar misalnya).

Emang Ada yang Pertama?
Haiyo, emang ada yang pertama?

Persinggungan yang Sehat Greg merelakan… Belajar tentang kerelaan, kelapangdadaan. Bahwa kerelaan adalah perjumpaan-perjumpaan romantisme-romantisme, emosi, duka, adalah persinggungan. Dan persinggungan yang menyehatkan ketika rela. Jalan ini adalah jalan yang harus ditebus demi keberjalanan itu sendiri. Di situ ada kegelapan – tercekam tercekat oleh himpitan yang tak tertembus itu kode-kode terselubung saja, yang lama-lama akan terbuka. Haiya sudah.

Private Blue Lagoon Tentang sesuatu yang indah, ketenangan, keindahan yang tidak mengikutkan kita. Ketika liyan lebih besar dalam perasaan, iming-iming industrialis dan dunia fantasi yang menyebabkan konsumerisme padahal sama saja, kita satu semesta tetapi ada upaya-upaya yang liyan jadi indah yang tak menyertakan kita, yang membuat ia merasa dipinggirkan, padahal tidak. Perasaan tertindas itu datang karena ada perasaan itu, entah bagaimana yang sesungguhnya. Ajakan untuk berdialog melihat yang sekarang di sini ini bukan yang diimpi-impikan di jauh sana.

Thanks to Feuerbach Concern Greg terhadap…kegenitan-kegenitan. Gajah makhluk berkelompok tapi di lukisan Greg saling membelakangi. Ilmu-ilmu materialis mengedepankan materi juga menyatukan tetapi juga membuat jarak. Karena mematerikan pengobyekan. Entah harus berterimakasih atau thanks for nothing sebagai bagian dari keberjalanan semesta. Gajah simbol korban-korban yang patut diterimakasihi.

Antara Itu dan Lain-Lain Kah? Penunjukkan berdasar fenomena yang dicerap. Pengetahuan berdasarkan pegalaman. Menunjukkan pemahaman tentang realita individual yang selalu terbebani oleh teori-teori ngono wae. Pembacaan lagi metode-metode untuk ‘melihat’ lagi. Greg hampir sampai menanyakan lagi konsep-konsep kedirian Greg. Melihat ke luar rusak seketimung, ke dalam segala-galanya.

Recycle Semiotic Sign, Religion, Misconduct Tentang ketuhanan dan kode-kode yang menganjurkan keberadaannya. Seperti Nietzsche bilang God is tott. Dia seperti menganjurkan supaya orang membunuh Tuhan dalam pikirannya.

Tribute to Forgetfull Phantasy Dasarnya warna adalah kopi (representasi kebudayaan tulis setelah penemuan rempah-rempah). (Budaya-budaya tulis muncul, lalu abjad, lalu orang baca, lalu ngumpul, jadi massa dengan universalitas abjad). Mempertanyakan tentang dedikasi atas fantasi. Mengamati orang-orang yang berdedikasi atas fantasi. Orang-orang lupa dan merasa tidak berhak mempertanyakan kandungan fantasi.

Kesturi Ibadat (coret) tentang arti ibadat. Tanya tentang permainan yang serius dan tentang suatu hubungan yang massive dan bersifat ibadah.

Menutup ini semua:
Setetes air jatuh
Di kolam bening
Menggoncang dalam hening.

Desember – Maret 2009
natan.
nulis karena seneng