Reporter: Vina Puspita

DSC_2172

Jumat, 21 Februari 2014, merupakan hari yang membahagiakan bagi kami, mahasiswa/i seni lukis ISI Yogyakarta angkatan 2012 yang tergabung dalam kelompok BomWaktu12. Pasalnya, pada malam itulah secara resmi dibuka pameran perdana angkatan kami yang digelar di Jogja National Museum (JNM), bertajuk “Gilir Jaga”, bersama mas Ristiyanto Cahyo Wibowo sebagai penulis kuratorial pameran dan pak Mikke Susanto sebagai penasihat. Pameran kelompok BomWaktu12 yang berlangsung hingga 24 Februari 2014 ini dibuka oleh Ibu Lenny Ratnasari Weichert (Pemilik Kersan Art Studio), dimeriahkan dengan tarian oleh Elan Fitra Dianto dan Muhammad Khaidir Ali, serta musik oleh Gudang Garam Band dan String 27. Lebih dari 120 karya sketsa dan ilustrasi, 50 lukisan dan 9 instalasi disajikan oleh 32 personil BomWaktu12 di ruang pamer.

Semangat untuk bersatu dalam sebuah kelompok angkatan pertama-tama terinspirasi dari tradisi yang terbentuk di lingkungan mahasiswa/i seni lukis ISI Yogyakarta sejak dahulu, dimana setiap angkatannya membuat nama kelompok dan berkarya bersama. Kedua, kami percaya bahwa menyatukan diri dalam sebuah kelompok angkatan merupakan langkah awal yang baik untuk menjaga silaturahmi persaudaraan, hingga ketika sepuluh bahkan dua puluh tahun kemudian, dimanapun berada dan berkarya, kami tetap terikat sebagai keluarga BomWaktu12 yang saling memberi dukungan.

DSC_2324

Istilah BomWaktu12 sendiri lahir secara spontan dari hasil diskusi bersama, diawali dengan pemikiran bahwa angka 12 (diambil dari angkatan 2012) memiliki kedekatan dengan formulasi waktu: 1 tahun terdiri dari 12 bulan, dalam lingkar jam juga terdiri dari 12 jam. Ketika berbicara tentang waktu, maka kita tak bisa lepas dari yang namanya proses, perjalanan dan pengalaman. Demikian kami menyadari bahwa keberadaan kami sebagai mahasiswa seni merupakan sebuah proses untuk menemukan pintu-pintu selanjutnya menuju eksplorasi yang lebih mendalam. Sebagaimana bom waktu yang dirakit memiliki potensi ledak, kamipun percaya bahwa setiap orang memiliki potensi diri yang bisa dimaksimalkan dengan semangat, ketekunan dan kerja keras guna mencapai kualitas yang mumpuni, sehingga kami bisa memberikan kontribusi positif yang mengejutkan. Dibalik filosofi nama tersebut, nyatanya tersimpan pula pesan mendalam seperti yang disampaikan oleh Mbak Lenny dalam sambutannya pada malam pembukaan pameran, bahwa seyogyanya bom waktu yang dirakit harus berpiranti bagus/baik untuk dapat menghasilkan daya ledak, apabila tidak, yang terjadi malah sebaliknya, bom tersebut bisa saja ‘melempem’. Cambuk bagi kami untuk mempersiapkan’piranti’ yang baik sebagai perupa yang cakap.

IMG_3917

Sebagai aksi awal, 21-24 Februari 2014 lalu BomWaktu12 mengadakan pameran seni rupa di JNM. Lima bulan lamanya kami mempersiapakan pameran perdana tersebut, dimulai dengan menentukan tema besar. Dari penggodokkan gagasan bersama, kami sepakat untuk mengangkat tema beraroma budaya; kearifan lokal dan nilai luhur bangsa yang berada diambang kepudarannya, entah karena dimakan jaman, entah sebagai konsekuensi dari modernisasi ataupun sebatas dinamika peradaban. Gagasan tersebut lahir dari refleksi kami terhadap kemampuan untuk memiliki dan melestarikan, sebagaimana pepatah mengatakan: lebih mudah mendapatkan daripada mempertahankan. Begitupun kami menyadari begitu banyaknya aset negeri ini lupa untuk dijaga, sedangkan tugas menjaga adalah tanggung jawab bersama, terutama orang muda sebagai penerus negara dan budaya luhur bangsa. Dari situlah lahir istilah “Gilir Jaga” sebagai tajuk pameran seni lukis kelompok BomWaktu12 – mahasiswa/i lukis ISI Yogyakarta angkatan 2012 sebagai tantangan bagi kami para perupa dalam memaknai peran sebagai generasi muda yang sedang mendapatkan ‘tongkat estafet’ untuk melindungi dan menjaga nilai-nilai esensial yang bangsa Indonesia miliki. Konten karya yang diangkat oleh tiap perupa kembali pada masing-masing individu dalam merespon suatu wacana, yang kemudian melahirkan karya-karya visual yang menjadi narasi bagi si perupa, bukan hanya merepresentasikan gaya melukisnya, tapi juga ideologinya. Ada yang mengangkat isu politik, kemanusiaan, pelestarian alam, permainan tradisional, aksara Jawa, dan lainnya. Lewat setiap karya yang dipamerkan pun kami berharap agar semangat untuk turun menjaga semakin tumbuh di dalam diri kita, agar perihal kekayaan Indonesia yang kita percayai dan banggakan sedari kecil tidak menjadi sekedar memori di kemudian hari.

Bermodal semangat, pemikiran, tenaga dan keberanian, BomWaktu12 senantiasa berproses. Selain itu, ditengah keterbatasan pengalaman dan pengetahuan kami dalam mengorganisir sebuah pameran, peran para sahabat sangatlah berarti, termasuk para rekan senior serta mas Ristiyanto (alumni ISI YK) yang bersedia membantu menguratoriali pameran kami, turun ke studio-studio mahasiswa untuk berdiskusi tentang karya dan menyinergikan kerangka berfikir dari 32 kepala dengan tetap menghargai idealisme setiap perupa.

IMG_4015

Akhir kata, BomWaktu12 mengucapkan terimakasih atas dukungan para Dosen ISI YK, Mas Ristiyanto, Mbak Lenny, teman-teman ISI YK, JNM, para pengisi acara pembukaan, ketjilbergerak, Daging Tumbuh dan rekan-rekan media, serta seluruh sahabat/keluarga yang telah sepenuh hati membantu terlaksananya pameran BomWaktu12. Salam Budaya!
*foto: Fanny Kusumawardhani, Afusa Nidya Kinasih, Adnan “Cempe”