“Kok pameran seni tidak di tempat yang ‘nyeni’ to?”

Pertanyaan spontan yang dilontarkan kepada saya pada sebuah siang. Pertanyaan yang menggelitik karena saya lalu mulai berpikir untuk mempertanyakan kembali apa itu seni dan ‘nyeni’ itu yang seperti apa.

Keputusan untuk mengadakan pameran di tempat yang tidak ‘nyeni’ seperti di Kanisius, merupakan sebuah langkah yang saya anggap berani karena menyajikan secuil alternatif tentang pemaknaan-pemaknaan ruang berkesenian dan usaha kreatif untuk menciptakan sasana baru di antara derasnya arus aliran utama para penyelenggara pameran seni di Jogja yang berkonsentrasi pada galeri-galeri seni, art space, dan tempat-tempat lain yang ‘nyeni’.

Terlepas dari ‘nyeni’ tidaknya sebuah tempat, saya pikir yang lebih esensial adalah tentang isi dari pameran tersebut. Kegelisahan sang seniman yang menggelora tentang forma-forma yang ada di sekelilingnya, kesedihan yang menguar yang menuntut untuk segera ditumpahkan melalui gumpalan-gumpalan warna dan goresan ekspresif nan nakal, serta rasa ke’bermain’an seorang Greg Sindana yang mewujud dalam kertas-kertas putih itulah yang saya rasa sangat menarik untuk digagas, karena setiap gambar, coretan dan tulisan kecil-kecil yang bercampur menjadi satu menjadi sebuah gambar yang ber-“rasa” pastilah mempunyai kisah dan narasi kecilnya masing – masing.

Hal menarik lainnya adalah keberanian Greg untuk menjadi dirinya sendiri, yang dengan rendah hatinya berkata bahwa “…semakin ke sini saya semakin merasa bukan seniman, tapi seorang dengan latar belakang yang pahit, yang ingin membuat dunianya sedikit lebih indah…”. Greg lebih menjadi seorang pencerita visual yang curhat habis-habisan mulai dari gejolak liarnya, pemikiran-pemikiran filosofisnya, dan masa lalu dan masa kininya. Ia lebih menjadi seperti seorang penggagas konsep yang melepaskan keliaran alam bawah sadarnya untuk bermain-main dengan rasa dan rerasa dibanding menjadi pengrajin seni. Gambar-gambarnya punya karakter dan keluar dari genre “mode lukisan masa kini”, namun toh tetap punya sesuatu yang ingin disampaikan kepada semesta.

Kami sangat tertarik untuk mengangkat pesan-pesan dan rerasa visual Greg karena kami mengetahui dan merasakan bagaimana intensnya dia menggodog rerasa dan konsep lukisannya dengan serangkaian dialektika, kontemplasi dan rasa merasa, bukan serta merta hadir dengan konsep banal yang ‘sim salabim’. Kami juga peduli dengan bakat-bakat muda yang berkarakter kuat dan berkomitmen pada dirinya sendiri dan karya-karyanya, yang membawa sudut pandang berbeda dan keluar dari kerumunan (crowd).

————————

Invani Lela Herliana ketjilbergerak