Jika membayangkan hal yang mudah saja sulit, apa yang seharusnya dibayangkan? Bayangan yang biasa muncul itulah yang sebetulnya kita amini. Misalnya kita membayangkan suasana tertentu, itulah yang diamini. Jangan salah kaprah, soal imajinasi atau fantasi, karena bisa jadi di sanalah diri ini bergerak. Imajinasi adalah yang diamini. Lalu bergerak ke mana?

Bergerak ke tempat, ke waktu, dan ke tempat dan waktu yang diamini. Beda dengan weruh sakdurunge winarah (tahu sebelum terjadi, ramalan, nubuat, atau spekulasi) ini bukan imajinasi, namun informasi. Cita-cita juga hal lain lagi. Cita-cita datang dari daya, dari keinginan. Maka segala upaya dilakukan untuk mencapainya. Inilah yang sekaligus menimbulkan daya dorong yang sakti. Cita-cita merupakan kerinduan.

Imajinasi, informasi, dan cita-cita berbaur. Berbaurnya ini semua, sering menimbulkan bentrok, di sinilah diperlukan suatu diskresi, pemilihan, pemilahan ketiganya. Yang satu utama, yang lain menjadi kedua dan ketiga.

Bicara soal cita-cita, siapa yang tak punya? Ada yang bercita-cita ada yang mengalir saja. Karena cita-cita adalah kerinduan, maka dijaga sedemikian rupa sehingga tak padam. Bagaimana menjaga kerinduan? Dengan mencapainya bertemu dengan kerinduan, mewujudkannya. Nanti pasti imajinasi berperan juga, informasi berperan juga.

Mulai dari mana? Mulai dari berbaur, bersosialisasi, mengecek komunikasinya lancar atau belum, bekerja agar tetap segar, dan kontrol. Mulai dari diri sendiri. Banyak yang galau banyak juga yang berhasil.