Apakah manusia baik atau tidak?

Pertanyaan ini merupakan sedikit refleksi terhadap bagaimana tingkah laku manusia sekarang atau bagaimana seharusnya manusia. Beberapa waktu lalu pemberitaan tentang kasus korupsi marak dilakukan oleh pejabat publik, wakil rakyat, bahkan seorang hakim pun terlibat korupsi. Pertanyaan awam, mengapa para pejabat yang notabene memegang amanah rakyat dan mendapatkan kekuasaan (jabatan) masih juga korupsi? Apakah para pejabat itu tidak puas dengan kekuasaan, gaji yang tinggi, dan tentu saja dikenal dan dihormati orang banyak? Bahkan, dalam lingkup yang lebih besar (internasional) penjajahan, Perang Dunia I, Perang Dunia II, Perang Dingin, gejolak Timur Tengah, dan berbagai konflik merupakan bukti bahwa manusia mungkin jahat karena telah merugikan dan menelan jutaan nyawa manusia. Apakah memang manusia itu jahat? Apakah memang manusia hanya memikirkan dirinya sendiri?

Dalam pandangan filsafat realis yang pesimis terhadap karakter manusia, manusia memiliki tingkah laku yang bersifat abadi. Manusia pada dasarnya, egois dan agresif serta akan mengejar kepentingan-kepentingan mereka sehingga dapat merugikan orang lain. Manusia tidak memandang hukum atau moralitas apapun. Pada hakikatnya, manusia adalah makhluk selfish (mementingkan dirinya sendiri). Sederhananya, seorang akan lebih memikirkan bagaimana dia bisa makan, punya rumah, dan sebagainya, atau kita harus mencari makan agar tidak lapar, bahkan kalau perlu merebut makanan dari yang lain karena belum tentu orang lain ingin berbagi makanannya. Hal ini wajar karena kita hidup dalam dunia ketidakpastian dalam artian masing-masing orang akan mengejar kepentingannya demi kekuasaan (power).  Menurut Morgenthau, secara alami manusia adalah binatang politik; mereka dilahirkan untuk mengejar kekuasaan dan untuk memperolah hasil dari kekuasaan. Morgenthau (1965:192) bahkan mnyebutnya animus dominandi, manusia haus akan kekuasaan. Jadi, jika orang-orang berlomba menjadi anggota legislatif, pejabat, bahkan pimpinan apapun merupakan sifat alami manusia. Struggle for power, perjuangan untuk kekuasaan merupakan segalanya, tak penting bagaimana cara mendapatkannya apakah baik atau tidak.

Lalu mengapa para pejabat tidak memikirkan amanah yang diberikan atau menepati janji-janjinya demi keadilan? Filsuf Italia, N. Machiavelli memandang dunia ini merupakan tempat yang berbahaya, tetapi juga dapat menguntungkan oleh karena itu setiap penguasa harus seperti singa (berkuasa) dan rubah (penipu). Machiavelli bahkan memberikan notorious (nasehat) kepada penguasa, bahwa janji-janji harus dilanggar jika terdapat keuntungan yang dapat diperoleh dari tindakannya. Oleh karena itu para pejabat berpotensi untuk melanggar janji-janjinya sebelum terpilih dan tentu saja tidak memihak pada masyarakat. Akibatnya, para pejabat akan korupsi atau melanggar sumpahnya meskipun mereka telah memiliki gaji tinggi, kuasa, dan dihormati.

Bukankah manusia merupakan makhluk yang hampir sempurna dan memiliki derajat yang tinggi dibandingkan makhluk hidup lain (binatang)? Bukankah manusia memiliki moralitas agar menjadi manusia yang baik? Liberalisme klasik memiliki pandangan positif dan percaya pada karakteristik manusia, dalam artian manusia memiliki potensi baik dan dapat bekerjasama. Manusia memiliki rasionalitas, yakni kemampuan untuk prinsip-prinsip moral dan hidup berdasarkan aturan hukum. Moral merupakan keseluruhan asas dan nilai yang berkenaan dengan baik dan buruk (immoral). Manusia memiliki kekhususan dibandingkan makhluk lain. Kesadaran akan moral merupakan suatu ciri khas manusia yang tidak dapat ditemukan pada makhluk lain. Binatang tidak memiliki kesadaran tentang baik dan buruk, tentang boleh dan yang dilarang, tentang yang harus dilakukan dan tidak pantas dilakukan sedangkan manusia memiliki moral tersebut. Dalam konteks kekuasaan, moral hadir untuk membatasi dan menghindari sikap manusia yang serakah. Oleh karena itu penguasa ataupun pejabat selain harus memiliki kapasitas dalam bidangnya juga harus memiliki moral yang baik.

Manusia juga memiliki hati nurani yang merupakan kesadaran moral yang menyadarkan kita dan menilai apakah perbuatan kita baik atau buruk. Menurut para filsuf, hati nurani yang gelisah (a bad conscience) merupakan fenomena yang paling mendasar. Dalam artian, orang yang hati nuraninya gelisah berarti menjaga tindakannya untuk tetap baik karena hati nurani akan gelisah jika dinilai perbuatan itu buruk. Sederhananya, setiap kita mencoba berbohong atau melakukan perbuatan salah pasti hati nurani akan menegur dengan cara membuat kita tidak tenang. Hannah Arendt (1906-1975) menyatakan hati nurani dalam keadaan tenang hanya berarti tiadanya hati nurani yang gelisah. Artinya, hati nurani sebagai instansi yang menilai terutama bertindak negatif. Hati nurani yang tenang dengan demikian dihasilkan karena dibebaskan dari segala tuduhan.

Kita telah memilih pemimpin sekaligus penguasa Negeri ini. Semoga yang terpilih memiliki kemungkinan lebih besar menaati hati nuraninya! Memang abstrak, tetapi mengukurnya dapat kita lihat sebelum menjadi pemimpin dan nanti ketika menjadi pemimpin. Hati nurani menjadi pengawas sekaligus penjaga yang datangnya dari dalam diri manusia, namun kekuatan eksternal (people power) menjadi penjaga terakhir jika pejabat mengingkari rakyat. Jadi, jika ada orang yang terus menerus melakukan perbuatan tercela mencuri, korupsi, dan sebagainya maka bisa dipastikan mereka tidak memiliki hati nurani.

Jadi, apakah manusia itu baik atau tidak?

Mari menjawabnya dengan ‘bercermin’, merefleksi apa yang selama ini kita lakukan. Pastinya, seharusnya jadilah orang yang baik dan pilihlah Orang Baik sebagai Pemimpin!

Abdullah Fikri Ashri
Penggiat Komunitas Kedai Buku Jenny – Makassar