Reporter: Aziz Wicaksono

Screen Shot 2014-03-24 at 2.41.42 AM

Anak muda itu semangatnya meledak-ledak, penuh ambisi, emosi gemreget dan revolusioner, berontak akan segala hal yang menurut mereka perlu dirubah.
Ini menjadi alasan mendasar sebuah pameran bertajuk ‘Adus Sambat’, sebuah gagasan yang menentang tentang kegelisahan yang dikonstruksi kurang tepat dan tidak jelas hingga melahirkan culture lama yang disadari betul yang berbuah sambat atau hanya mung nggresulo tapi ora ngopo-ngopo (hanya mengeluh saja tapi tidak berbuat apa-apa).

Enam perupa ini mengambil keputusan yang tepat dan bersepakat untuk berontak terhadap pola-pola sambat yang ada dan mengakhiri untuk adus atau mandi, lalu menyegarkan diri dan melakukan sesuatu berpameran di ruang alternatif pada hari Jumat tanggal 21 Maret 2014 di Homie (sebuah ruang baru di Semarang), pameran dibuka pukul 20.00 WIB.

Tak hanya berhenti pada sebuah pameran, jauh sebelum itu enam perupa ini menamai dirinya sebagai ‘Perupa Gemes’ yang mempunyai sudut pandang yang menarik pada pola-pola sambat. Aziz Wicaksono melihat tentang sambat (berkeluh kesah) terhadap idealis teman-temannya yang sedikit mulai memudar. Yuyut Baskoro, sambat dengan banyak orang yang lupa dan senantiasa bekerja keras hanya memenuhi hasrat konsumtifnya. Lalu Heru Budi Kuncoro yang sambat tentang perjalanan dan tantangan hidup manusia. Sueb Kribkrib dan Mizan Ojan terlibat sambat yang sederhana tentang lingkungan kampus dan Semarang yang gini-gini aja. Beda lagi dengan Brian Samid, ada keunikan perspektif sambat tentang putus cinta, lalu galau, dan susah move on.

Semua sudut pandang yang menjadi alasan mendasar ini dapat dilihat pada karya-karya mereka, dan ‘Perupa Gemes’ ini menganalogikan proses berkarya sebagai sesuatu yang menyegarkan layaknya mandi, karena mandi menurut ‘Perupa Gemes’ adalah pemecah segala kegusaran atau sambat itu sendiri. Mandi menyegarkan tubuh, bangkit dan melakukan sesuatu yang lebih menyenangkan, hingga muncul guyonan daripada gusar berkepanjangan mending gambar saja, “Yen mung sambat modaro, yen pengen bungah aduso”.

Menilik pada karya, semua karya yang dipajang berukuran kecil tak lebih dari 40x40cm, total karya utama yang di pamerkan ada 23 buah dengan teknik material yang beragam. Azis dan Sueb memanfaatkan efek basah dan layer cat air pada kertas, Heru menggunakan teknik arsiran bolpoint pada kertas, Yuyut membuat 4 karya figur-figur kartun dan material akrilik pada kertas, sedangkan Samid dan Mizan menggunakan mixed media untuk menyelesaikan karya-karya mereka. Yang paling menarik adalah ada proses pembuatan karya yang juga ikut dipamerkan, karya ini berupa sketsa dan doodle. Dua ‘Perupa Gemes’ Yuyut dan Samid membuat live painting pada kanvas berukuran 100x100cm pada saat pembukaan pameran.

adussambat_1

adussambat_3

adussambat_4

adussambat_2

Pembukaan pameran dimeriahkan oleh penampil musik Racau Kemarau ft. Adit Mada, Fredian Bintar dari Sistem Busuk Dari Dalam dan Moiss. Dengan adanya musik ini ternyata cukup mengundang masa kalangan anak muda di Semarang bahwa ekspetasi berkesenian di Semarang cukup besar, mengingat bahwa projek berkesenian, musik atau pameran seni rupa dengan menggunakan ruang alternatif memang jarang, karena masyarakat Semarang lebih suka datang di tempat-tempat publik yang popular daripada ke ruang privat yang lebih eksklusif, ini bisa jadi pertimbangan bagi pelaku seni untuk tetap survive dan melakukan sesuatu tanpa harus sambat.

*Foto oleh: ‘Perupa Gemes’