Sebuah negara berkembang yang selalu dilupakan adalah sejarahnya.
Sejarah jika memasuki wilayah wacana politik bisa berbahaya bagi “perkembangan” negara. Hal ini tentu saja merupakan pandangan oligarki kelas kakap. Jadi yang perlu kita lihat adalah bagaimana sejarah menampilkan kolase yang lebih mirip pada puzzle yang tidak obyektif. Dalam buku Sakitnya Melahirkan Demokrasi, Sindhunata menghayati proses menyusun puzzle itu dan betapa ngerinya proses yang ditampilkan puzzle itu.

Anak muda memang belajar dari konteks di mana tumbuhnya dirinya.
Ada yang bermasalah juga menyangkut sejarah hidupnya. Sekiranya masalah yang menyangkut dirinya juga memiliki sejarah. Sejarah memang tidak bisa dilupakan. Mereka yang berusaha melupakannya dialah yang berada dalam bahaya, bukan sebaliknya.

Puzzle dan melupakan potongan puzzle berada dalam ide yang sama yaitu ketidakmandegan. Keberlangsungan puzzle sejarah sedang terjadi di sini dan sekarang ini, juga sejarah melupakan itu sendiri.
Gramsci mengumandangkan pesan yang bagus sekali tentang monster-monster, old is dying and the new cannot be born; in this interregnum a great variety of morbid symptoms appear.
Ketika yang tua sudah mulai lelah, dan yang muda belum muncul, di antaranya muncul monster-monster.
Tugas anak muda menaklukan monster itu dan bermain bersamanya.

Saya jadi ingat Pak Heri Dono. Monster yang baik hati ada nggak ya?