KEPAUK: EXTREME REALISM OF THE ILLUSIVE

Tentang struktur dan pondasi yang rapuh tentang segala sesuatunya….kebohongan dan kenyataan adalah nama yang dipilih dan dipilah, sedangkan ruang menjadi ajang pertempuran bagi yang kukuh pada satu sisi yang kabur. Realita segunduk “menjadi” muncul dari yang tiada..mawujud dalam visualisasi oleh tegangan dengan indera. Fragmen-fragmen yang kokoh menjadi ramping dan sayup ketika tak terlalu attach dan less attention (nyawang). Judgementalism telah menjadi ism yang buruk rupa dan condong kepada kolom-kolom akal, dan yang mistispun menjadi santapan hariannya…..yang pada dasarnya adalah ekonomi beserta pertumbuhannya.
Aku tak ada yang ada adalah aku…disetiap waktunya
Pertempuran atasnama tidak tahu menjadi-jadi…
Seniman berkolaborasi seperti agamawan dan politisi…
Yang diam digebrak..yang bersuara diiyakan dengan dentuman meriam
Intelektual memakan kuburan nenekmoyangnya sendiri..dan disebut sebagai santapan rohani bagi kaum defines.
Waktu dilupakan dan ”sesuatu” diformalinkan menjadi sarung tangan yang tak boleh dilepas walau kau sedang sakit gigi..
Space dan spesialisasi muncul begitu saja—kata pak Robert…tukang sayur
Kolase adalah tentang intertektualitas segala sesuatu, dan riuhnya pembacaan yang semakin tidak tunggal (yang ketika dikelupas satu persatuannya akan tersisalah yang tiada), kolase juga bercerita tentang yang teknologis dan yang di”tangkap” ditumpuk tumpuk, ditempel…semakin berat disetiap waktunya…dan entah yang terjadi kemudian apa..
Mental didiktekan dengan derajat tertentu yang diukur dengan logika subjek bahasa yang ”miris”, padahal bahasa bekerja pada yang terbatas, tak pernah menyeluruh.
Media dan institusi membuat seolah-olah segala sesuatu telah penuh dan terdefinisi dengan pasti, dengan kepadatan resolusi dan kepenuhan frame yang disodorkan, sepertinya segalanya telah selesai dan tak ada lagi celah untuk melamun dan membukan/ membelum, namun jangan pula dilupakan bahwa bukankah media juga mampu menyajikan yang sayup-sayup dan menimbulkan tanya bukan melulu memberondongkan solusi?
Kertas adalah simbol peradaban yang tak rela untuk lupa dan senantiasa mensiasati kerapuhan dan keberlaluan , mewadahi ide-ide yang menjelma menjadi panutan nan melogos bagi generasi penurut selanjutnya, beban sejarah dan beban ideology (beserta norma-normanya) yang bertendensi untuk menyokong suatu versi pembacaan yang “klinis” menjadi bandul pemberat bagi kelangsungan gerak manusia.
Seni adalah metode belajar dan mengajaryang less doctrine bermain dengan metafor yang berlapis-lapis, sehingga terhindar dari pemaknaan tunggal karena dalam pembacaannya diperlukan kontemplasi dan relaksasi, dan sensasi yang ditangkap sebagai makna / gejolak yang diunduh (dari hasil olah interaksi) adalah sesuai kapasitas/ tugas dan keperluan masing-masing pembaca.
Ada definisi-definisi ketat yang berusaha menyunat keganjilan (yang situasional dan bergerak) agar senantiasa rapi, tertaklukkan dan sungguh meyakinkan.(seperti pula keganjilan yang sudah disepakati bersama).amin.

Sindana